SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Sejumlah warga Kota Sorong mengeluhkan pelayanan jasa pengiriman J&T Express. Konsumen mengaku telah membayar biaya pengiriman, tetapi justru harus datang sendiri ke kantor untuk mengambil paket dan menunggu berjam-jam sebelum barang diserahkan.
Keluhan tersebut mencuat setelah sejumlah pelanggan mengalami keterlambatan pelayanan saat mengambil paket di salah satu titik layanan J&T Express di Kota Sorong.
Warga Kota Sorong, Andrew Chan, mengatakan kondisi tersebut membuat konsumen merasa dirugikan. Menurut dia, biaya pengiriman seharusnya mencakup proses distribusi hingga paket diterima pelanggan sesuai alamat tujuan.
“Pesanan yang dipesan melalui jasa pengiriman J&T ini, masa kita yang harus datang ambil barang kita sendiri. Padahal seharusnya ada kurir yang antar,” ujar Andrew.
Dia menuturkan, konsumen juga harus menghabiskan waktu cukup lama ketika datang mengambil paket.
“Kami pesan barang itu kan sudah ada ongkos kirim. Ini malah kami yang harus datang ambil barang di kantor mereka,” katanya.
“Tidak itu saja, untuk mengambil barang di , kami harus tunggu berjam-jam. Ini sangat merugikan kami, apalagi kami juga ada pekerjaan,” imbuhnya.
Andrew juga mempersoalkan informasi pada aplikasi pelacakan paket yang menyebut kurir telah menghubungi penerima. Ia mengaku tidak pernah menerima komunikasi tersebut.
“Kalau model kerja begini, ini sangat merugikan dan tidak profesional. Alasan J&T katanya orang yang melayani hanya dua sampai tiga orang. Lalu, J&T buka usaha begini masa harus pakai orang sedikit di gudang?” tegasnya.
Menurut Andrew, keterbatasan petugas di titik pelayanan semestinya tidak menjadi alasan terhambatnya proses pengambilan paket. Dia meminta perusahaan menambah personel apabila volume paket tidak sebanding dengan kapasitas pelayanan.
“Harus ditambah supaya pelayanan ke konsumen bisa cepat,” tandasnya.
Keluhan lain berkaitan dengan status paket yang disebut telah dikembalikan kepada pengirim. Andrew mengaku terdapat kondisi ketika konsumen datang mengambil barang, tetapi paket tersebut justru sudah dikembalikan ke daerah asal.
“Sebagai konsumen, kami juga punya hak perlindungan konsumen. Kami sudah bayar. Pesanan yang kami pesan itu, kadang pas kita datang ambil, sudah di-return ke asal pesanan. Padahal kita sangat butuhkan pesanan kami itu,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Sorong lainnya, John. Dia mengaku harus menunggu selama beberapa jam meski telah datang ke loket pelayanan dan melaporkan keberadaan paketnya.
“Kami tentu kecewa, sudah datang dari jam 12 siang, kami tunggu bahkan dua sampai tiga jam juga barang belum dikeluarkan. Padahal kita sudah lapor di counter,” kata John.
John meminta perusahaan mengevaluasi kapasitas petugas gudang dan meningkatkan komunikasi antara kurir dengan penerima.
“Kalau pekerja di gudang dalam J&T sedikit orang, ya ditambah. Kurir-kurir juga harus aktif untuk komunikasi,” ujarnya.
Dia menilai persoalan pelayanan jasa pengiriman tidak semata-mata menyangkut keterlambatan paket, tetapi juga menyangkut kepastian informasi dan waktu yang harus dikeluarkan konsumen.
“Sebagai konsumen kami dilindungi undang-undang konsumen, jadi pihak J&T harus perhatikan itu,” tegas John.
Dia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik antara konsumen dan perusahaan.
“Kalau kerja model begini, lama-lama jadi keributan besar di J&T, baru kalian bilang apa?” tandasnya.
Keluhan warga tersebut menjadi catatan terhadap kualitas pelayanan jasa pengiriman di Kota Sorong, terutama terkait ketepatan distribusi, komunikasi kurir, kecepatan pelayanan di titik pengambilan, serta kepastian status paket.
Hingga berita ini diturunkan, iNewssorongraya.id membuka ruang hak jawab kepada pihak J&T Express untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan mengenai keluhan pelanggan tersebut sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.
Klarifikasi dari pihak J&T Express diperlukan agar persoalan ini dapat dilihat secara utuh, termasuk mengenai prosedur pengantaran, kendala operasional, kapasitas petugas, komunikasi kurir, serta mekanisme pengembalian paket kepada pengirim.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
