Breaking News! PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong Dihentikan Lebih Awal

CHANRY SURIPATTY
Papeda Summit 2026 di Sorong dihentikan lebih awal saat massa Front Rakyat Domberai menggelar aksi penolakan PSN dan militerisme di sekitar lokasi forum, Jumat (4/9/2026).

 

SORONG KOTA, iNewssorongraya.idPapeda Summit 2026 di Vega Hotel, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (4/9/2026), berakhir lebih awal setelah aksi Front Rakyat Domberai Tolak PSN dan Militerisme berlangsung di sekitar lokasi forum.

Penghentian tersebut terjadi ketika rangkaian diskusi masih berjalan. Sekitar pukul 11.00 WIT, Ketua Panitia Papeda Summit 2026 Kelly Kambu menginstruksikan peserta untuk mengakhiri sesi sebagai langkah menjaga keamanan dan keselamatan seluruh pihak.

"Untuk menjaga situasi dan kita harap semuanya berjalan dengan aman. Sebagaimana informasi yang sudah disampaikan, maka kita untuk sesi berikutnya kita akhiri dan kita akan kembali ke tempat kita masing-masing, dengan teman-teman yang dari luar tetap sesuai dengan jadwal yang ada,"ungkap Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026, Kelly Kambu dalam arahannya dihadapan seluruh peserta, Jumat (4/9/2026).

Kelly kemudian menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti forum tersebut.

"Kami atas nama Ketua Panitia (PAPEDA Summit 2026), menyampaikan terima kasih banyak kepada semua peserta se-tanah Papua. Semoga apa yang kita lakukan dapat meninggalkan jejak yang baik untuk perkembangan Tanah Papua kedepannya,"ujar Kelly Kambu.

Panitia selanjutnya menyampaikan pemberitahuan kepada narasumber dan moderator bahwa seluruh rangkaian Papeda Summit 2026 pada hari itu dihentikan dan dinyatakan selesai lebih awal.

Dalam pemberitahuan tersebut, panitia menyebut keputusan diambil setelah mempertimbangkan situasi dan kondisi terkini, dengan menempatkan keamanan dan keselamatan narasumber, moderator, peserta, panitia, serta pihak yang terlibat sebagai prioritas utama.

Penghentian itu membuat sejumlah sesi yang sebelumnya dijadwalkan tidak dapat dilanjutkan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan lebih rinci dari panitia mengenai kemungkinan agenda pengganti atau kelanjutan sesi yang dihentikan.

Pihak Panitia juga belum memberikan keterangan resmi terkait hasil dari agenda PAPEDA Summit 2026 yang digelar sejak tanggal 2-4 September 2026.

Sementara itu, dari pantauan iNewssorongraya.id, di luar hotel, Front Rakyat Domberai menyampaikan sejumlah kritik terhadap agenda pembangunan di Papua. Massa menyoroti isu Proyek Strategis Nasional, perlindungan masyarakat adat, lingkungan, ruang hidup, serta pendekatan keamanan atau militerisme.

Kelompok tersebut mempertanyakan substansi forum yang membicarakan masa depan Papua apabila masyarakat yang terdampak langsung oleh kebijakan pembangunan belum mendapatkan ruang yang dinilai cukup untuk menyampaikan pandangan.

Bagi massa, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pelaksanaan sebuah forum. Mereka mendorong agar masyarakat Papua memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan arah pembangunan di wilayahnya sendiri, terutama ketika kebijakan yang dibahas berpotensi bersinggungan dengan tanah adat, lingkungan, dan ruang hidup.

Situasi ini kemudian menghadirkan ironi tersendiri. Di dalam hotel, para pemangku kepentingan membahas berbagai persoalan strategis Papua. Di luar forum, kelompok masyarakat sipil justru menyuarakan kritik terhadap arah pembangunan yang mereka nilai belum sepenuhnya menjawab kepentingan masyarakat.

Pantauan di sekitar Vega Hotel menunjukkan aparat keamanan berjaga di bagian depan lokasi. Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan selama aksi berlangsung.

Hingga berita ini ditulis, massa masih menyampaikan aspirasi di sekitar lokasi. Belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak keamanan mengenai kondisi akhir aksi maupun langkah pengamanan berikutnya.

Penghentian Papeda Summit 2026 menjadi catatan penting bagi forum yang membawa agenda pembicaraan tentang Papua. Sebab, ketika suara kritik muncul tepat di depan ruang pertemuan dan rangkaian diskusi harus dihentikan lebih awal, pertanyaan mengenai seberapa luas ruang dialog bagi seluruh kelompok masyarakat Papua menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, forum tentang masa depan Papua tidak hanya diuji oleh gagasan yang dibicarakan di dalam ruangan, tetapi juga oleh kemampuan membuka ruang bagi suara berbeda yang datang dari luar forum.

Editor : Hanny Wijaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network