SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Papua Jungle Chef Charles Toto meminta Papeda Summit 2026 di Kota Sorong mendorong pembentukan bank benih untuk menyelamatkan tanaman endemik Papua. Ia mengingatkan pembicaraan tentang lingkungan akan kehilangan makna jika bibit pangan lokal tidak disimpan dan dilindungi sejak sekarang.
Charles menyampaikan gagasan itu di sela Papeda Summit 2026 yang berlangsung pada 2–4 September di Kota Sorong, Rabu (2/9/2026). Dalam forum tersebut, ia dijadwalkan membawakan pesan tentang pangan Papua melalui kegiatan live cooking dari sudut pandang masyarakat tradisional.
Menurut Charles, berbagai perkembangan dan program pembangunan berpotensi mengurangi keberadaan tanaman lokal. Karena itu, penyelamatan benih perlu menjadi langkah nyata untuk menjaga sumber pangan sekaligus memulihkan ekosistem apabila terjadi kerusakan di masa depan.
Ia menilai bank benih tidak sekadar tempat penyimpanan. Sistem tersebut harus menjadi bagian dari strategi perlindungan pangan endemik, khususnya tanaman yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat Papua.
“Papeda bukan hanya makanan. Papeda adalah identitas, pengetahuan leluhur, dan bukti bahwa masyarakat Papua telah membangun kedaulatan pangan dari alamnya sendiri. Karena itu, pembahasan lima isu strategis dalam Papeda Summit 2026 perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata yang melindungi hutan, laut, tanah adat, serta sumber pangan masyarakat,” ujar Charles Toto.
Papeda, makanan pokok berbahan sagu, menurut Charles, merepresentasikan hubungan kuat masyarakat Papua dengan hutan dan sumber daya alamnya. Karena itu, perlindungan pangan lokal tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hutan sagu, sungai, kebun, serta wilayah pesisir.
Charles yang dikenal sebagai jungle chef telah mempelajari bahan pangan dan teknik memasak masyarakat pedalaman Papua sejak 1997. Pengalamannya memasak di hutan, pesisir, hingga wilayah bahari membuatnya melihat langsung ketergantungan masyarakat terhadap kekayaan alam lokal.
Ia juga menilai pendekatan ridge-to-reef yang dibahas dalam Papeda Summit 2026 harus diterapkan secara konsisten. Kerusakan di hulu, kata dia, dapat mengancam sumber air, hutan sagu, pesisir, hingga laut yang menjadi penopang pangan masyarakat.
“Pendekatan ridge-to-reef sangat relevan bagi Papua. Apa yang terjadi di pegunungan akan berdampak hingga pesisir dan laut. Maka, menjaga hutan sagu, sungai, kebun, pesisir, dan laut adalah satu kesatuan. Papeda Summit harus menjadi momentum untuk menghadirkan ekonomi yang membuat masyarakat adat menjadi pelaku utama, bukan penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.
Charles berharap forum ini menghasilkan komitmen yang terukur, termasuk perlindungan benih unggul Papua. Baginya, menjaga benih berarti menjaga pilihan hidup generasi Papua ketika tekanan terhadap alam terus bertambah.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
