AIMAS, iNewssorongraya.id – Hujan turun ketika kaum Muslimin baru memulai Shalat Istisqa di Lapangan Khalid Bin Walid, Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (5/9/2026). Peristiwa itu disambut rasa syukur jamaah setelah kemarau sejak Juli hingga awal September berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Shalat Istisqa dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dan diikuti Rektor Unimuda Sorong Sirojjuddin, civitas akademika, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sorong, Amal Usaha Muhammadiyah, mahasiswa, serta masyarakat sekitar.
Zulkifli bertindak sebagai imam, sedangkan Ambo Tang menyampaikan khutbah.
Rintik hujan mulai turun ketika jamaah memasuki rakaat pertama. Intensitasnya kemudian meningkat pada rakaat kedua hingga khutbah dan doa selesai. Hujan bahkan masih mengguyur ketika jamaah meninggalkan lapangan.
Bagi jamaah, turunnya hujan tersebut menjadi momen yang menguatkan rasa syukur. Namun, di balik suasana haru itu terdapat persoalan yang sebelumnya dirasakan masyarakat, yakni keterbatasan air selama periode kemarau.
Rektor Unimuda Sorong Sirojjuddin mengatakan Shalat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon ampun sekaligus meminta pertolongan Allah SWT di tengah kondisi kekeringan.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena kita baru akan memulai Shalat Istisqa, Allah SWT sudah membayar dengan tuntas dengan memberikan rintik-rintik hujan,” ujar Sirojjuddin.
Ia menyebut kekeringan sebelumnya telah membuat sebagian masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air. Karena itu, pelaksanaan ibadah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadapi kondisi tersebut.
“Hari ini kami akan bersimpuh memohon ampun kepada-Nya dan meminta agar musibah kekeringan segera diberikan hujan oleh Allah SWT. Sudah banyak warga masyarakat kita yang mengalami kesulitan air,” katanya.
Sirojjuddin berharap doa dan ikhtiar yang dilakukan bersama membawa keberkahan bagi masyarakat.
“Semoga apa yang kita ikhtiarkan pada pagi ini diijabah oleh Allah SWT, Tuhan semesta alam,” ucapnya.
Khatib Shalat Istisqa, Ambo Tang, mengatakan kegiatan tersebut telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya melalui koordinasi Unimuda Sorong dan PDM Kabupaten Sorong.
Pelaksanaan kemudian disepakati berlangsung pada Sabtu pagi di Lapangan Khalid Bin Walid. Informasi kegiatan disebarluaskan melalui sejumlah saluran komunikasi agar dapat diikuti warga Muhammadiyah dan kaum Muslimin secara umum.
Menurut Ambo, Shalat Istisqa merupakan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW yang dianjurkan ketika hujan tidak turun dalam waktu tertentu.
“Pelaksanaan Shalat Istisqa ini salah satu sunnah Nabi yang dianjurkan ketika tidak turun hujan dalam beberapa waktu. Dengan pelaksanaan ini, kita menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW,” ujar Ambo.
Ia menjelaskan, ibadah tersebut dilaksanakan di ruang terbuka dengan dua rakaat shalat yang kemudian dilanjutkan khutbah dan doa memohon turunnya hujan.
Turunnya hujan sejak awal rangkaian ibadah, kata Ambo, memberikan pengalaman tersendiri bagi jamaah yang hadir.
“Alhamdulillah, bahkan menjelang shalat, rintik-rintik hujan sudah mulai turun dan membasahi tempat ini. Saat shalat berlangsung, hujan semakin deras hingga pelaksanaan khutbah dan doa selesai. Hujan masih turun sampai jamaah bubar,” katanya.
Ambo memaknai momentum tersebut sebagai pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi kondisi alam. Manusia, menurut dia, dapat berusaha dan berdoa, sementara hasil akhirnya berada di luar kendali manusia.
“Kita sebagai hamba hanya bisa berpikir, berusaha, meminta dan bermunajat agar diberikan yang terbaik,” katanya.
Turunnya hujan saat Shalat Istisqa pun tidak hanya menjadi momen spiritual bagi jamaah. Peristiwa itu sekaligus menegaskan pentingnya perhatian terhadap dampak kemarau, terutama ketersediaan air bagi masyarakat dan potensi kebakaran hutan dan lahan yang meningkat selama kondisi kering.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
