Lewat Konsep Factory Sharing, Pemprov PBD Targetkan Margin Produk UMKM Naik Hingga 300 Persen

CHANRY SURIPATTY
Gubernur PBD Elisa Kambu dan sejumlah pejabat DPR dan DPD RI Dapil Papua Barat Daya dan pejabat pemerintah foto bersama dengan Mendag RI Budi Santoso.

JAKARTA, iNewSorongRaya.id – Provinsi Papua Barat Daya (PBD) menolak tunduk pada stigma sebagai wilayah yang hanya menjadi pasar bagi produk pabrikan luar daerah. Dalam sebuah pertemuan dengan Menteri Perdagangan RI di Jakarta Budi Santoso, Senin (3/8/2026),

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu mendesak pemerintah pusat untuk mendukung transformasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) menjadi ekosistem hilirisasi dan digitalisasi berskala global.

Target utama dari manuver ini sangat jelas mencetak ribuan eksportir tangguh dari kalangan Orang Asli Papua (OAP) dan menguasai pasar internasional melalui platform digital bernama ELKAM

Gubernur Elisa Kambu membeberkan fakta bahwa saat ini terdapat 35.000 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di Papua Barat Daya, dengan sektor agro-maritim sebagai tulang punggung utama. Namun, potensi komoditas unggulan seperti tuna sirip kuning, sagu, dan kelor seringkali tersendat akibat bahan baku yang diekspor mentah dan metode produksi yang masih tradisional.

"Papua Barat Daya, sebagai provinsi termuda, tidak ingin hanya menjadi penonton dalam arus perdagangan nasional. Kami mengusulkan Transformasi PLUT menuju Ekosistem Ekspor, Hilirisasi, dan Digitalisasi OAP. Program ini bukan sekadar pembangunan gedung, melainkan upaya kami untuk memegang kunci gerbang ekonomi pasifik demi kedaulatan perdagangan Indonesia di kawasan timur," ujar Elisa dengan nada tajam.

Untuk meretas hambatan struktural tersebut, Pemprov PBD merancang arsitektur strategi PLUT yang berdiri di atas tiga pilar utama. Fokus terpenting adalah konsep Factory Sharing dengan model Zero Capex. Melalui fasilitas ini, UMKM OAP dapat memanfaatkan mesin berteknologi tinggi secara bergilir tanpa harus mengeluarkan modal pembelian alat.

"Dari bahan mentah, masuk ke proses modern, diuji di laboratorium mutu, hingga keluar dari Packaging Center sebagai produk premium siap ekspor dengan margin keuntungan hingga 300 persen," jelasnya memaparkan potensi nilai tambah bagi pengusaha lokal.

Langkah radikal lainnya adalah peluncuran platform ELKAM yang diproyeksikan sebagai markas penetrasi Business to Business (B2B) internasional. Berbeda dengan aplikasi e-commerce biasa, ELKAM dirancang sebagai hub perdagangan lintas batas yang memungkinkan importir global memverifikasi kapasitas produksi UMKM Papua secara real-time. Di dalam gedung PLUT yang baru nanti, bahkan akan disiapkan studio live streaming khusus untuk memasarkan produk lokal ke mancanegara.

Guna merealisasikan visi ambisius tersebut, Gubernur PBD mengajukan kebutuhan investasi makro sebesar Rp13,6 miliar kepada Kementerian Perdagangan. Dana tersebut akan dialokasikan untuk konstruksi gedung fisik modern-bioklimatik, pengadaan mesin produksi, laboratorium mutu, hingga infrastruktur IT.

"Sebagai penutup, pembangunan PLUT ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah lompatan peradaban ekonomi bagi Orang Asli Papua. Kami memohon dukungan penuh dan afirmasi dari Kementerian Perdagangan untuk mewujudkan Sorong sebagai pintu gerbang ekspor unggulan dari ufuk timur Indonesia," tutup Elisa.

Pertemuan yang turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Anggota DPR RI Robert Joppy Kardinal dan Anggota DPD RI Mamberob Y Rumakiek ini menjadi sinyal kuat bahwa Papua Barat Daya tengah bersiap melakukan revolusi ekonomi yang berpusat pada pemberdayaan OAP. Jika disetujui, inisiatif ini akan menjadi center of excellence hilirisasi pertama di wilayah timur Indonesia.

Editor : Hanny Wijaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network