get app
inews
Aa Text
Read Next : Laporan Begal Palsu di Raja Ampat Picu Keresahan, Polisi Ingatkan Ancaman UU ITE

Kisah Inspiratif Orideko Burdam, Dari Gerakan Aktivis Pemuda ke Kursi Bupati Raja Ampat

Selasa, 12 Mei 2026 | 17:30 WIB
header img
Bupati Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam (Kiri) dan Sekretaris Peresmian Kabupaten Raja Ampat, Ahmad Loji (Kanan). (FOTO : IST)

 

 

WAISAI, iNewssorongraya.id – Dua dekade lalu, Orideko Iriano Burdam dikenal sebagai satu di antara barisan pemuda yang aktif menggalang dukungan pemekaran Kabupaten Raja Ampat. Kini, nama yang dahulu bergerak di ruang-ruang konsolidasi pemuda itu berdiri di pucuk pemerintahan sebagai Bupati Raja Ampat periode 2025–2030.

Momentum Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Raja Ampat tidak hanya menjadi perayaan administratif lahirnya daerah otonom baru di Tanah Papua. Perayaan itu sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang perjuangan panjang pembentukan kabupaten yang dibangun lewat konsolidasi tokoh adat, elit politik, mahasiswa, hingga gerakan pemuda.

Di tengah suasana reflektif tersebut, perjalanan politik Orideko Burdam dinilai menjadi representasi nyata generasi muda yang ikut memperjuangkan lahirnya Raja Ampat sejak awal 2000-an.

Sekretaris Peresmian Kabupaten Raja Ampat, Ahmad Loji, menyebut tidak banyak pihak membayangkan seorang pemuda yang dahulu aktif mendorong percepatan pemekaran kini justru memimpin daerah yang pernah diperjuangkannya.

“Masih dalam suasana HUT ke 23 Kabupaten Raja Ampat, tak seorangpun dari para pendiri yang pernah menyangka bahwa setelah 20 tahun kemudian lahir seorang Bupati dari kalangan pemuda yang memperjuangkan percepatan berdirinya Kabupaten Raja Ampat 09 Mei 2003,” kata Ahmad Loji di Waisai, Jumat (8/5/2026).

Pernyataan itu menjadi penanda bahwa perjalanan Orideko tidak semata dipandang sebagai keberhasilan politik personal. Bagi sejumlah tokoh pemekaran Raja Ampat, keberhasilan tersebut dianggap sebagai kesinambungan sejarah antara perjuangan pembentukan daerah dan harapan pemerataan pembangunan bagi masyarakat kepulauan.

 

Pulang Kampung untuk Membela Raja Ampat

Perjalanan Orideko Burdam bermula setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan di Sekolah Tinggi Pembangunan Desa (STPMD) Yogyakarta pada 2001. Di tengah peluang berkarier di luar Papua, Orideko memilih kembali ke tanah kelahirannya.

Keputusan itu membawanya bergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Raja Ampat (FK-GEMURA), organisasi yang dibentuk untuk mengonsolidasikan kekuatan pemuda dalam perjuangan pembentukan Kabupaten Raja Ampat.

Saat itu, wilayah Raja Ampat masih menjadi bagian dari Kabupaten Sorong dan terdiri atas sejumlah kecamatan seperti Salawati, Waigeo Utara, Waigeo Selatan, hingga Misool.

Di dalam FK-GEMURA, Orideko dipercaya sebagai Ketua III mewakili Kecamatan Waigeo Utara. Organisasi tersebut digagas almarhum Alfaris Labagu bersama Ahmad Loji dan Arifin Rumaratu untuk memperkuat dukungan masyarakat terhadap agenda pemekaran daerah.

Gerakan itu tidak berjalan sendiri. Mahasiswa dan pelajar Raja Ampat di Jayapura yang tergabung dalam IPPM-RAS, Ikatan Keluarga Raja Ampat Sorong (IKRA), hingga masyarakat kampung ikut menjadi bagian dari arus perjuangan.

“FK-GEMURA digagas untuk menghimpun pemuda Raja Ampat dari seluruh distrik guna mendukung para sesepuh mempercepat berdirinya Kabupaten Raja Ampat,” ujar Ahmad Loji.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses komunikasi pada masa itu, gerakan pemuda menjadi salah satu energi utama yang menjaga isu pemekaran tetap hidup di ruang publik.

 

Deklarasi Politik yang Mengubah Arah Perjuangan

Salah satu momen penting perjuangan pemekaran Raja Ampat terjadi saat pelantikan FK-GEMURA di GOR Kota Sorong pada 2001. Kegiatan yang disiarkan langsung RRI Sorong itu berkembang menjadi panggung politik penting bagi gerakan pemuda Raja Ampat.

Dalam forum tersebut, Ketua FK-GEMURA kala itu, Joris Omkarsba, membacakan pernyataan dukungan kepada Drs. Marcus Wanma M.Si sebagai calon Caretaker Bupati Raja Ampat periode 2003–2005.

Menurut Ahmad Loji, dukungan tersebut lahir dari pembacaan politik para pemuda terhadap dinamika pembentukan Raja Ampat yang dinilai mulai terhambat akibat munculnya banyak kandidat caretaker.

Dalam situasi itu, Orideko Burdam bersama sejumlah pemuda FK-GEMURA melakukan audiensi dengan Bupati Sorong saat itu, John Piet Wanane.

“Pemuda menangkap bahwa John Piet Wanane lebih cenderung kepada Drs. Marcus Wanma. Oleh sebab itu, atas dorongan Lindert Imbir sebagai penasehat FK-GEMURA, pada pelantikan pengurus FK-GEMURA kemudian dibacakan pernyataan dukungan kepada Drs. Marcus Wanma M.Si sebagai calon Caretaker Bupati Raja Ampat,” jelas Ahmad Loji.

Dukungan politik tersebut kemudian menjadi salah satu referensi penting bagi Pemerintah Kabupaten Sorong dalam mempercepat proses pembentukan Raja Ampat bersama empat daerah baru lainnya di Tanah Papua pada Maret 2003.

Bagi sebagian generasi muda Raja Ampat saat itu, langkah tersebut menjadi titik balik yang memperlihatkan bahwa gerakan pemuda mampu memengaruhi arah kebijakan politik daerah.

 

Dari Aparatur Awal hingga Kepala Daerah

Ketika Raja Ampat resmi berdiri pada 9 Mei 2003, nama Orideko Burdam tercatat sebagai salah satu aparatur sipil negara pertama yang masuk dalam dokumen penyerahan pegawai dan aset daerah dari Kabupaten Sorong kepada Pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

Karier birokrasi Orideko kemudian berkembang secara perlahan. Ia pernah bertugas di Setda Kabupaten Sorong pada 2002 sebelum melanjutkan pengabdian di Raja Ampat sejak awal berdirinya daerah tersebut.

Selama bertahun-tahun, Orideko dikenal lebih banyak bekerja di balik meja birokrasi dibanding tampil di ruang publik. Ia ditempa di sejumlah posisi strategis, khususnya di sektor pengelolaan keuangan daerah, hingga dipercaya menjadi Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Raja Ampat.

Karakter tenang dan minim retorika itu justru menjadi ciri yang paling diingat rekan-rekannya.

“Dia tipe pekerja dan harapan kami, sebagai representasi pendiri Kabupaten Raja Ampat dari unsur pemuda dan tipe pekerja, Orideko kiranya dapat mengawal cita-cita pendirian Kabupaten Raja Ampat,” ujar Ahmad Loji.

Karier politik Orideko mulai terbuka saat maju sebagai calon Wakil Bupati mendampingi Abdul Faris Umlati pada Pilkada 2019. Setelah itu, ia kembali bertarung pada Pilkada 27 November 2024 sebagai calon Bupati Raja Ampat berpasangan dengan Drs. Mansur Syahdan.

Pasangan tersebut akhirnya memenangkan kontestasi politik dan dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025 sebagai Bupati dan Wakil Bupati Raja Ampat periode 2025–2030.

 

Simbol Generasi Pendiri yang Kini Diuji Realitas

Bagi sebagian masyarakat Raja Ampat, terpilihnya Orideko Burdam menghadirkan harapan baru bahwa pemerintahan daerah akan kembali dekat dengan semangat awal pemekaran: mempercepat pelayanan dasar, membuka keterisolasian kampung, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi Raja Ampat saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa perjuangan pemekaran dua dekade lalu. Persoalan konektivitas antarpulau, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pemerataan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.

Karena itu, keberhasilan Orideko tidak lagi diukur dari romantisme sejarah gerakan pemuda, melainkan sejauh mana ia mampu menerjemahkan cita-cita pendiri Raja Ampat menjadi kebijakan nyata.

Bagi Ahmad Loji dan generasi awal pemekaran Raja Ampat, harapan terbesar kini terletak pada kemampuan pemimpin muda itu menjaga semangat perjuangan tetap hidup di tengah tantangan pembangunan modern.

“Harapan kami, Orideko dapat mengawal cita-cita pendirian Kabupaten Raja Ampat untuk menjawab doa dan air mata seluruh masyarakat Raja Ampat di kampung-kampung menuju Raja Ampat Sejahtera,” tutupnya.

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Chanry Suripatty

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut