Ledakan Diduga Bom di Sebuah Gereja di Intan Jaya Picu Kepanikan, TNI Minta Warga Tak Terprovokasi
INTAN JAYA, iNewssorongraya.id — Ledakan diduga bom di halaman Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni Mbamogo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, memicu kepanikan warga setempat. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (17/5/2026) itu melukai empat warga sipil dan membuat situasi keamanan menjadi sorotan.
Sejumlah warga dilaporkan ketakutan setelah ledakan terjadi di area rumah ibadah. Sebagian masyarakat disebut mencari tempat aman karena khawatir terjadi ledakan susulan atau gangguan keamanan lanjutan.
Pastor Dekan Dekanat Moni-Puncak Jaya, RP Yanuarius Yance Yogi, membenarkan adanya ledakan di depan gereja. Ia menyebut empat warga terluka dan telah mendapatkan penanganan medis.
"Iya ada kejadian itu. Ada ledakan diduga bom terjadi di depan gereja. Empat orang dilaporkan terluka," kata Yanuarius, Senin (18/5/2026).
Di tengah situasi tersebut, TNI meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, mengatakan narasi yang langsung menuduh aparat keamanan sebagai pelaku berpotensi memperkeruh keadaan.
"Kami menyesalkan adanya pemberitaan dan narasi di media sosial yang langsung menuduh TNI-Polri sebagai pelaku. Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut," kata Wirya.
Ia menegaskan TNI tidak terlibat dalam ledakan tersebut. Wirya juga menyebut granat yang ditemukan di lokasi tidak sesuai dengan standar yang digunakan TNI.
Selain itu, TNI membantah penggunaan drone bersenjata dalam peristiwa tersebut. Menurut Wirya, tuduhan itu harus diuji melalui verifikasi lapangan dan tidak boleh dijadikan kesimpulan sebelum penyelidikan selesai.
"Insiden ini sangat mungkin merupakan aksi provokasi pihak-pihak yang ingin memecah belah TNI dengan masyarakat Papua. Satgas Koops Habema terus melakukan patroli dan pengamanan di wilayah tersebut untuk mencegah aksi serupa terulang," bebernya.
Koops Habema menyatakan koordinasi dengan pihak gereja dan tokoh masyarakat terus dilakukan untuk membantu korban serta menjaga keamanan warga. Penanganan yang transparan menjadi kunci agar ledakan di halaman gereja tidak berkembang menjadi konflik informasi yang merugikan masyarakat sipil.
Editor: Chanry Suripatty