Bangkai Kapal Misterius di Raja Ampat Sulit Dievakuasi, Cuaca Buruk Jadi Ancaman Baru
RAJA AMPAT, iNewssorongraya.id – Proses evakuasi bangkai kapal misterius yang ditemukan hanyut dalam kondisi terbakar di perairan Selat Dampier, Kabupaten Raja Ampat, hingga kini belum berhasil dilakukan. Cuaca ekstrem, arus laut yang berubah cepat, serta kondisi kapal yang sebagian telah tenggelam menjadi hambatan utama dalam penanganan kapal tanpa identitas tersebut.
Situasi itu memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan pelayaran dan ancaman kerusakan ekosistem laut di kawasan konservasi dunia yang dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut global.
Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makassar, menyatakan laporan pertama terkait keberadaan kapal misterius diterima pada 1 Mei 2026. Setelah menerima informasi dari masyarakat, tim langsung bergerak melakukan identifikasi awal di Area III Selat Dampier.
" Saat tiba di lokasi di sebelah utara Kampung Arborek, petugas menemukan kapal dalam kondisi hangus terbakar dengan sebagian badan kapal sudah tenggelam. Warga setempat menyebut kapal sebelumnya terlihat hanyut dari arah Tanjung Putus, Waigeo Barat Kepulauan menuju perairan Kampung Kapisawar dan Sawinggarai,"ungkap Hasan.
Kapal tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 50 meter dengan lebar enam meter. Material lambung yang terbuat dari styrofoam atau gabus dan fiber menyebabkan bangkai kapal tetap mengapung meski mengalami kerusakan berat akibat kebakaran.
"Hingga kini, identitas pemilik maupun asal kapal masih belum diketahui,"ujarnya.
Upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa hari terakhir melalui kerja sama pengelola homestay, pelaku wisata, pengguna kawasan konservasi, serta tim BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat.
"Pada 5 hingga 6 Mei 2026, tim gabungan mencoba menarik bangkai kapal menggunakan sejumlah speedboat bermesin tempel berdaya besar dari sekitar Pulau Mansuar menuju area pasir timbul. Namun proses tersebut gagal,"ungkap Hasan.
Kondisi kapal yang sudah rusak berat dan sebagian tenggelam membuat beban bangkai kapal sulit dikendalikan di tengah derasnya arus Selat Dampier. Faktor cuaca juga disebut berubah sangat cepat sehingga menyulitkan manuver kapal penarik di lapangan.
" Kondisi itu memperlihatkan keterbatasan sarana evakuasi yang tersedia di kawasan wisata tersebut, terutama untuk menangani objek berukuran besar di tengah perairan terbuka,"jelasnya.
BLUD UPTD menilai proses evakuasi membutuhkan dukungan kapal berkapasitas besar seperti tugboat agar bangkai kapal dapat segera diamankan sebelum hanyut lebih jauh.
Keberadaan bangkai kapal yang terus bergerak di sekitar Pulau Mansuar kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut Raja Ampat, khususnya terumbu karang yang berada di kawasan Coral Triangle atau Segitiga Karang Dunia.
"Jika tidak segera dievakuasi, bangkai kapal dikhawatirkan dapat menghantam gugusan karang aktif yang selama ini menjadi daya tarik utama wisata bahari Raja Ampat,"beber Hasan.
Kerusakan terumbu karang dinilai bukan hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat memukul sektor pariwisata dan mata pencaharian masyarakat lokal yang bergantung pada aktivitas wisata laut.
Selain ancaman ekologis, posisi bangkai kapal yang hanyut di jalur perairan Selat Dampier juga berpotensi membahayakan lalu lintas kapal wisata maupun transportasi masyarakat antarpulau.
Selat Dampier selama ini dikenal sebagai salah satu titik pelayaran dan penyelaman paling ramai di Raja Ampat karena menghubungkan sejumlah destinasi wisata utama.
Di tengah upaya penanganan, asal-usul kapal misterius tersebut masih menyisakan tanda tanya besar. Tidak ditemukan identitas resmi maupun penanda kepemilikan pada badan kapal yang terbakar.
Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa kapal telah lama tidak beroperasi sebelum akhirnya hanyut ke wilayah konservasi Raja Ampat.
Masyarakat berharap otoritas maritim dan aparat terkait segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap asal kapal sekaligus memastikan ada pihak yang bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Melihat situasi yang semakin berisiko, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulaan Raja Ampat mengajak seluruh pihak untuk terlibat dalam percepatan evakuasi bangkai kapal tersebut.
Pemerintah daerah, instansi maritim, pelaku wisata, operator transportasi laut, hingga masyarakat pesisir diminta membangun sinergi agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
" Kolaborasi menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan lebih luas terhadap kawasan konservasi laut Raja Ampat yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi strategis bagi Indonesia maupun dunia,"pungkasnya.
Di tengah cuaca yang tidak menentu, waktu menjadi faktor krusial. Semakin lama bangkai kapal dibiarkan hanyut, semakin besar pula ancaman terhadap terumbu karang, keselamatan pelayaran, dan citra Raja Ampat sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Editor : Chanry Suripatty