Kebakaran Pasar Paniai Sebabkan Ratusan Warga Mengungsi
PANIAI, iNewssorongraya.id — Kebakaran hebat yang melanda kawasan Pasar Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, meninggalkan kerugian besar dan korban jiwa. Sebanyak 49 rumah dan kios hangus terbakar, sementara 11 orang meninggal dunia dan 148 warga terpaksa mengungsi.
Kapolres Paniai AKBP Roycke H. F. Betaubun mengatakan, jumlah bangunan terdampak berdasarkan pendataan terbaru mencapai 49 unit. Para pengungsi kini tersebar di sejumlah tempat, termasuk Polsek, masjid, dan rumah kerabat.
"Data terbaru kebakaran terdapat 49 rumah dan kios. Sementara jumlah korban yang mengungsi sebanyak 148 orang," kata Roycke, Senin (7/9/2026).
Di tengah proses penanganan korban, kepolisian masih berupaya memastikan penyebab kebakaran. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik (Labfor) serta tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Polda Papua.
Roycke menjelaskan, keterbatasan fasilitas forensik di wilayah Papua Tengah membuat proses identifikasi harus melibatkan tim dari Polda Papua.
"Sedang kita lakukan olah TKP dan lagi berkoordinasi dengan tim Laboratorium Forensik (Labfor) dari Polda Papua. Karena Polda Papua Tengah ini masih belum ada tim Labfor, jadi masih berkoordinasi dengan tim Labfor dan tim DVI dari Polda Papua," ujarnya.
Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Papua juga telah didatangkan untuk membantu mengidentifikasi 11 korban meninggal dunia. Polisi meminta keluarga memberikan waktu agar proses identifikasi selesai sebelum jenazah dimakamkan.
"Kami masih berkoordinasi dengan keluarga untuk ditahan dahulu jenazah sambil diidentifikasi karena 90 persen itu memang terbakar dan tidak bisa diidentifikasi," ungkap Roycke.
Kondisi korban yang terbakar parah menjadi salah satu kendala utama dalam proses identifikasi. Karena itu, kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan tim DVI untuk memastikan identitas masing-masing korban.
Selain korban meninggal dunia, polisi masih mendata warga yang mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di RSUD Paniai. Pendataan mencakup korban dengan luka ringan, sedang, hingga berat, termasuk warga yang mengalami tekanan psikologis setelah peristiwa tersebut.
"Sementara yang luka-luka ini masih terdata di rumah sakit, sedang dilakukan pendataan. Perawatan itu ada luka sedang, luka berat, luka ringan. Tetapi kami juga masih melakukan pendataan terkait mereka yang mengalami depresi," kata Roycke.
Kepolisian juga membantah adanya keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam peristiwa tersebut. Namun, penyelidikan belum berhenti. Polisi mengumpulkan rekaman kamera pengawas dan keterangan saksi untuk memperkuat konstruksi perkara.
"CCTV masih kami kumpulkan di dekat TKP. CCTV yang ada di masyarakat, yang ada di kantor-kantor, itu sementara masih kami kumpulkan, termasuk juga saksi-saksi mata untuk memperkuat itu semua," tegasnya.
Sebagian korban kebakaran diketahui merupakan warga pendatang yang berasal dari Makassar dan Toraja. Polisi selanjutnya akan melakukan gelar perkara setelah seluruh bahan penyelidikan, termasuk hasil olah TKP, rekaman CCTV, dan keterangan saksi, terkumpul.
Sebelumnya, Polda Papua Tengah melaporkan sedikitnya 40 rumah dan kios terbakar dalam insiden yang terjadi sekitar pukul 00.25 WIT, Senin (7/9/2026). Api dengan cepat membesar dan merambat ke bangunan lain yang berdempetan.
Kasubbid Penmas Humas Polda Papua Tengah Kompol Henry J. Manurung mengatakan, 11 orang ditemukan meninggal dunia dalam kebakaran tersebut. Enam di antaranya merupakan anak-anak.
"Sedikitnya 40 unit rumah dan kios dilaporkan terbakar dan 11 orang ditemukan meninggal dunia," ujar Henry.
Dengan bertambahnya data bangunan terdampak menjadi 49 unit dan jumlah pengungsi mencapai 148 orang, penanganan pascakebakaran kini tidak hanya berfokus pada evakuasi dan pendataan kerugian. Kepastian identitas korban serta hasil penyelidikan penyebab kebakaran menjadi kunci untuk mengungkap secara utuh tragedi yang menewaskan 11 orang tersebut.
Editor: Hanny Wijaya