Lomba Kompetensi Siswa di Papua Barat Daya Jadi Ruang Prestasi Siswa SLB
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Provinsi Papua Barat Daya 2026 menjadi ruang penting bagi siswa sekolah luar biasa (SLB) untuk menunjukkan kemampuan, membangun kepercayaan diri, serta menegaskan hak yang sama dalam meraih prestasi.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah disambut antusias para guru pendamping. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sarana pembinaan mental bagi peserta didik berkebutuhan khusus agar berani tampil di ruang publik.
Guru pendamping dari SLB Kabupaten Raja Ampat, Fandy Dawenan, mengatakan para peserta telah menjalani persiapan intensif sebelum mengikuti kompetisi tingkat provinsi tersebut.
"Anak-anak sudah menjalani latihan rutin selama beberapa minggu sesuai bidang lomba yang mereka ikuti. Kami juga memberikan pembinaan mental agar mereka lebih percaya diri ketika tampil dan berkompetisi," ujar Fandy.
Menurut Fandy, persiapan peserta tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis sesuai bidang lomba. Sekolah juga membekali siswa dengan kemandirian, keberanian berinteraksi, serta kesiapan mental selama mengikuti kegiatan di luar daerah asal.
"Yang kami tanamkan bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana mereka berani tampil, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki," katanya.
Fandy menyebut guru pendamping memiliki peran penting dalam memastikan setiap peserta mampu mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara maksimal. Kehadiran guru, kata dia, bukan sekadar mendampingi, melainkan juga membimbing, menguatkan mental, dan menjaga kesiapan peserta selama kompetisi berlangsung.
"Dengan adanya kegiatan ini, saya menugaskan setiap guru untuk mendampingi anak-anak untuk membimbing mereka, serta mempersiapkan diri. Dari apa yang saya amati, persiapan kami sudah cukup baik dan sudah sesuai dengan yang akan dipertunjukkan," ujar Fandy.
Ia berharap ajang LKS, O2SN, dan FLS3N dapat terus digelar secara berkelanjutan. Menurutnya, kompetisi seperti ini memberi ruang yang setara bagi siswa SLB untuk mengembangkan bakat dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik maupun kondisi khusus bukan penghalang untuk berprestasi.
"Kami berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pendidikan khusus, baik melalui peningkatan fasilitas, dukungan pembelajaran, maupun kesempatan mengikuti kompetisi seperti ini. Anak-anak kami memiliki potensi besar jika mendapat dukungan yang memadai," ujarnya.
Fandy juga mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, khususnya Dinas Pendidikan, agar memperkuat dukungan terhadap pendidikan inklusif. Ia menilai fasilitas pembelajaran dan sarana pendukung masih menjadi kebutuhan penting bagi sekolah luar biasa di daerah.
“Untuk pemerintah daerah provinsi Papua Barat Daya, terlebih khususnya Dinas Pendidikan, agar terus memperhatikan pendidikan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi kami dengan berbagai kebutuhan, seperti sarana pembelajaran dan fasilitas pendukung lainnya,” tegas Fandy.
Ia optimistis siswa SLB di Papua Barat Daya dapat menembus kompetisi nasional, bahkan internasional, apabila mendapat pembinaan berkelanjutan dan dukungan fasilitas yang memadai.
"Sehingga ke depannya, anak-anak kita ini bisa tumbuh menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa," pungkasnya.
Ajang LKS, O2SN, dan FLS3N Papua Barat Daya 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif tidak boleh berhenti pada akses belajar. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap anak berkebutuhan khusus memiliki ruang yang sama untuk berkarya, berkompetisi, dan membangun masa depan secara bermartabat.
Editor : Chanry Suripatty