Karhutla Raja Ampat Meluas, Petugas Berjibaku di Medan Sulit Tanpa Bantuan BNPB dan BPBD Provinsi
RAJA AMPAT, iNewssorongraya.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, belum sepenuhnya terkendali hingga memasuki hari ke-18. Pulau Dayan di Distrik Batanta Utara menjadi salah satu wilayah dengan kondisi terparah, sementara petugas gabungan masih menghadapi medan ekstrem, cuaca panas, serta keterbatasan sarana pemadaman.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla berlangsung jauh lebih sulit. Di sejumlah titik, petugas TNI, Polri, dan BPBD Kabupaten Raja Ampat harus masuk ke kawasan hutan yang sulit dijangkau untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan.

Musim kemarau panjang dan tiupan angin kencang dalam sekitar dua bulan terakhir turut memperbesar risiko penyebaran api. Vegetasi yang mengering akibat cuaca panas membuat bara lebih mudah menjalar ke kawasan lain.
Persoalan semakin berat karena sumber air sulit dijangkau. Petugas bahkan harus membawa air secara manual menggunakan jeriken menuju lokasi kebakaran. Cara tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemadaman dan pendinginan di area yang tidak dapat dilalui kendaraan.

Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat Muhammad Guntur Tamima mengatakan kebakaran di Kepulauan Dayan masih berlangsung meski penanganan telah memasuki hari ke-18. Menurut dia, kondisi geografis dan cuaca menjadi kendala utama bagi petugas di lapangan.
“Kondisi kepulauan Dayan telah memasuki hari ke-18 dan masih terbakar. Kondisi medan yang sulit serta cuaca panas membuat petugas gabungan mengalami kesulitan dalam melakukan pemadaman,” ujar Guntur dalam keterangan pers kepada wartawan.
Guntur juga menyebut BPBD Kabupaten Raja Ampat hingga kini belum mendapatkan bantuan dan perhatian dari BNPB maupun BPBD Papua Barat Daya. Pernyataan itu disampaikan di tengah kebakaran yang disebut terus meluas dan berlangsung dalam kondisi kemarau panjang.

Di sisi lain, karhutla tidak hanya menyisakan persoalan pemadaman. Api berpotensi merusak tutupan hutan dan keanekaragaman hayati, sekaligus mengancam tanaman milik warga dan kawasan permukiman. Asap yang ditimbulkan juga berisiko mengganggu kesehatan masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
Dampak lanjutan dapat merembet ke sektor pariwisata yang menjadi salah satu aktivitas ekonomi penting di Raja Ampat. Asap dan kerusakan lingkungan berpotensi memengaruhi kenyamanan wisatawan serta persepsi terhadap kondisi destinasi, meski dampak aktual terhadap jumlah kunjungan dan pendapatan daerah masih perlu dibuktikan melalui data resmi.

Penanganan karhutla karena itu tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman darurat. Kebutuhan yang diusulkan mencakup penguatan armada dan peralatan pemadam, alat pelindung diri, sistem pemantauan wilayah rawan, serta pos siaga kebakaran terpadu.
Pemulihan ekosistem dan bantuan bagi kebun warga yang terdampak juga menjadi bagian penting setelah api berhasil dikendalikan. Pada saat yang sama, penguatan informasi dan promosi pariwisata diperlukan untuk menjaga kepercayaan terhadap Raja Ampat sebagai destinasi wisata.

Hingga kini, petugas gabungan masih melakukan pemadaman di sejumlah titik karhutla. Memasuki hari ke-18, tantangan terbesar bukan hanya memadamkan api, tetapi memastikan kapasitas penanganan mampu mengejar kebakaran yang terus mengancam kawasan hutan dan kehidupan masyarakat.
Editor: Hanny Wijaya