Sorong Menuju Hub Ekspor Timur Indonesia, Gubernur PBD Tawarkan Cetak Biru Rp1,5 Triliun ke Mendag
JAKARTA, iNewsSorongRaya.id – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) mengambil langkah agresif untuk memutus rantai pasok logistik yang selama ini mencekik perekonomian di kawasan timur Indonesia. Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, secara resmi menyodorkan proposal strategis bertajuk "Cetak Biru Gerbang Maritim Nusantara" senilai Rp1,5 triliun kepada Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso, dalam audiensi di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Langkah ini dinilai sebagai manuver berani provinsi termuda di Indonesia tersebut untuk mengubah Sorong dari sekadar kota transit menjadi episentrum distribusi dan ekspor di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Elisa Kambu dengan tegas menyoroti sebuah paradoks ekonomi yang selama ini terjadi di wilayahnya. Menurutnya, Papua Barat Daya memiliki potensi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) raksasa hingga Rp37 triliun dengan produksi perikanan mencapai 84.000 ton per tahun. Namun ironisnya, angka kemiskinan masih bertengger di level 18,13 persen dan disparitas harga kebutuhan pokok di pedalaman bisa mencapai 100 persen lebih mahal.
"Akar masalahnya adalah ketiadaan fasilitas ekspor terpadu. Saat ini, sampel produk harus dikirim ke Makassar atau Jakarta untuk uji karantina, yang memakan waktu hingga 3 minggu. Hal ini mengakibatkan tingginya kerugian pasca-panen dan membuat eksportir lokal OAP tidak mampu bersaing secara harga maupun kualitas di pasar internasional," tegas Elisa di hadapan Mendag.
Untuk membongkar kebuntuan logistik tersebut, Gubernur PBD memaparkan arsitektur solusi senilai Rp1,5 triliun yang mencakup tiga pilar utama. Pilar pertama adalah pembangunan Sorong Export Hub dan program Fast Export Service (FASE). Fasilitas ini dirancang sebagai Sentra Layanan Ekspor Terpadu pertama di Tanah Papua yang dilengkapi laboratorium karantina internasional dan cold storage berkapasitas 200 ton.
Editor : Hanny Wijaya