Dua Tahun Hidup di Hutan, 21 Warga Maybrat Akhirnya Diselamatkan TNI dari Teror OPM

CHANRY SURIPATTY
Personel TNI mengevakuasi warga pengungsi dari hutan di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Maybrat, Papua Barat Daya, Selasa (17/3/2026). Sebanyak 21 warga yang mengungsi sejak 2022 akibat teror OPM berhasil dibawa ke lokasi aman. [Dok. Koops TNI]

 

SORONG, iNewssorongraya.id - Operasi senyap pasukan gabungan Koops TNI Papua akhirnya memutus rantai penderitaan warga sipil di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Sebanyak 21 orang yang bertahan hidup di hutan sejak 2022 akibat teror kelompok OPM berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat—menandai kehadiran nyata negara di wilayah konflik yang lama terabaikan.

Pasukan gabungan TNI bersama pemerintah daerah Kabupaten Maybrat mengevakuasi 21 warga pengungsi dari Dusun Topo, Kampung Ainesra, Distrik Aifat Timur Jauh, Selasa (17/3/2026).
Kepala Penerangan Koops TNI Papua, Letkol Inf Wirya, menegaskan proses evakuasi dilakukan setelah memastikan keamanan wilayah yang selama ini menjadi titik rawan gangguan kelompok bersenjata.
"Sebanyak 21 warga pengungsi berhasil dievakuasi secara aman oleh aparat gabungan TNI bersama pemerintah daerah. Masyarakat yang mengungsi itu dampak dari kontak tembak beberapa waktu lalu oleh OPM," kata Wirya dalam keterangan resmi, Jumat (20/3/2026). 

Tim patroli bergerak menuju lokasi terpencil di perbatasan Maybrat–Teluk Bintuni, menjemput warga yang selama bertahun-tahun bertahan di hutan tanpa kepastian hidup.


Personel TNI mengevakuasi warga pengungsi dari hutan di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Maybrat, Papua Barat Daya, Selasa (17/3/2026). Sebanyak 21 warga yang mengungsi sejak 2022 akibat teror OPM berhasil dibawa ke lokasi aman. [Dok. Koops TNI]

 

Para pengungsi diketahui meninggalkan kampung halaman sejak pecahnya konflik bersenjata pada 2022, termasuk insiden pembunuhan pekerja proyek jalan Trans Papua di wilayah Moskona.
Sejak saat itu, ketakutan terus membayangi warga. Gangguan keamanan dari kelompok TPNPB-OPM tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga tekanan ekonomi melalui pemalakan terhadap masyarakat.
"Masyarakat masih sering diganggu pemalakan Rp200 ribu per kepala keluarga oleh OPM sehingga mereka memilih kabur ke hutan," ungkap Wirya. 

Situasi tersebut membuat sebagian warga hidup berpindah-pindah di hutan, jauh dari akses layanan dasar seperti kesehatan, pangan, dan pendidikan.

Setelah seluruh pengungsi dikumpulkan di titik aman, tim gabungan langsung mengevakuasi mereka menuju Pos Komando Taktis (Kotis) Koops TNI Papua. 

Setibanya di lokasi, para warga menjalani pemeriksaan medis dan pendataan identitas untuk memastikan kondisi kesehatan serta kebutuhan dasar masing-masing.
"Setibanya di Pos Kotis, para pengungsi langsung menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis. Setelah itu dilanjutkan dengan pendataan identitas," jelasnya. 

Seluruh proses berlangsung tertib dan tanpa hambatan, mencerminkan koordinasi solid antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal.

Keberhasilan operasi ini menjadi simbol kuat kehadiran negara dalam menjamin keselamatan warga sipil di daerah rawan konflik Papua Barat Daya. 

Untuk sementara, para pengungsi ditempatkan di lokasi penampungan di Distrik Aifat sambil menunggu proses pemulangan, khususnya bagi warga asal Kabupaten Teluk Bintuni.
"Keberhasilan evakuasi ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat di wilayah rawan," tegas Wirya. 


Personel TNI mengevakuasi warga pengungsi dari hutan di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Maybrat, Papua Barat Daya, Selasa (17/3/2026). Sebanyak 21 warga yang mengungsi sejak 2022 akibat teror OPM berhasil dibawa ke lokasi aman. [Dok. Koops TNI]

 

Pemerintah daerah didorong segera mengambil langkah lanjutan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga koordinasi lintas wilayah agar proses pemulangan berjalan aman dan bermartabat.

Meski 21 warga telah berhasil diselamatkan, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Sejumlah masyarakat lainnya dilaporkan masih bertahan di hutan karena trauma dan ketakutan terhadap aksi kelompok bersenjata. 

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan kini terus melakukan pendataan serta membuka jalur komunikasi untuk memastikan seluruh warga terdampak dapat dievakuasi secara bertahap.

Operasi evakuasi ini bukan sekadar misi penyelamatan, tetapi juga ujian nyata bagi negara dalam melindungi rakyatnya di wilayah konflik. Di tengah bayang-bayang teror yang belum mereda, langkah cepat TNI menjadi penegasan bahwa negara tidak boleh abai—terutama ketika warganya hidup dalam ketakutan di tanah sendiri. 

Editor : Hanny Wijaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network