AIMAS, iNewsSorongraya.id — Keluhan mengenai kerusakan fasilitas dasar dan keterbatasan obat mencuat dalam temuan anggota DPR Papua Barat Daya yang menggelar kunjungan ke RSUD John Piet Wanane belum lama ini. Persoalan yang disampaikan mencakup atap bocor, ketersediaan air bersih, pendingin ruangan, toilet, hingga pasien yang harus membeli obat di luar rumah sakit.
Anggota DPR Papua Barat Daya, Febry J. Andjar, mengatakan keluhan tersebut berasal dari aspirasi masyarakat yang diterimanya.
Ia meminta manajemen menjelaskan kondisi sarana rumah sakit, kendala perbaikan, serta langkah yang akan dilakukan untuk memastikan fasilitas dapat berfungsi secara optimal.
Febry juga mempertanyakan mekanisme pemberian resep yang menyebabkan pasien harus mencari obat di luar lingkungan rumah sakit.
“Saya juga memohon penjelasan terkait mekanisme pemberian resep obat yang mengharuskan pasien membeli obat di luar rumah sakit,” kata Febry.
Ia mengaku prihatin karena kondisi itu dapat membebani masyarakat, khususnya Orang Asli Papua yang membutuhkan kemudahan memperoleh pelayanan dan obat.
Manajemen RSUD John Piet Wanane menjelaskan perbaikan AC, toilet, dan sejumlah fasilitas pendukung telah dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
Direktur RSUD John Piet Wanane, dr. Hendrik Onesimus Timotius Mansa, mengatakan desain gedung lama belum sepenuhnya memperhatikan kenyamanan pasien dan kemudahan pemeliharaan.
Penempatan sistem pendingin serta tata letak toilet disebut menyulitkan proses perbaikan ketika terjadi kerusakan. Rumah sakit kemudian membangun gedung rawat inap baru dengan desain yang mempertimbangkan akses pasien dan sistem pemeliharaan.
Hendrik mengakui belum memiliki alokasi anggaran pemeliharaan yang memadai. Gedung rumah sakit telah berusia lebih dari 20 tahun, sedangkan perbaikan sejumlah alat kesehatan membutuhkan teknisi khusus dengan biaya tinggi.
Perbaikan CT Scan, misalnya, dapat menelan biaya hingga sekitar 10 persen dari nilai alat.
Temuan ini perlu menjadi materi tindak lanjut DPR dan Dinas Kesehatan. Persediaan obat merupakan unsur utama pelayanan, bukan sekadar persoalan logistik internal.
Masalah fasilitas juga terlihat pada rumah singgah berkapasitas 10 kamar yang dibangun melalui dana Otonomi Khusus. Bangunan fisiknya telah tersedia, tetapi perlengkapan kamar, air bersih, dan sarana pendukung belum dipenuhi sehingga belum dapat berfungsi optimal.
Peningkatan status rumah sakit memang penting. Namun, kualitas pelayanan pertama-tama diukur dari hal paling mendasar: ruangan yang tidak bocor, air yang tersedia, pendingin yang bekerja, toilet yang layak, alat yang terawat, dan obat yang dapat diperoleh pasien.
Pembahasan Perubahan APBD semestinya menjadikan kebutuhan dasar tersebut sebagai prioritas terukur. Tanpa pembenahan nyata, rencana besar pengembangan RSUD John Piet Wanane akan kehilangan makna di hadapan pasien yang masih berhadapan dengan kerusakan fasilitas dan keterbatasan pelayanan.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
