MAYBRAT, iNewssorongraya.id – Di tengah sorotan publik atas insiden berdarah yang menewaskan dua prajurit Marinir di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, pengakuan Yusuf Sorri justru menghadirkan sudut pandang berbeda. Korban yang sempat ditahan karena dugaan keterlibatan itu menegaskan dirinya tidak mengalami penyiksaan selama proses pemeriksaan oleh aparat TNI.
Yusuf Sorri, yang menjabat sebagai Sekretaris Kampung Sori, menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Ia sempat diamankan aparat pasca insiden penyerangan yang menewaskan dua prajurit TNI AL dan melukai satu lainnya pada Minggu (22/3/2026).
Namun, setelah menjalani pemeriksaan selama 24 jam, Yusuf dibebaskan karena tidak ditemukan bukti keterlibatan.
“Memang rumah saya berhadapan makanya mereka duga saya ini pelaku dan menyampaikan informasi kepada kelompok OPM. Tapi setelah interogasi selama 24 jam saya di lepas tanpa ada bukti keterlibatan saya,” ujar Yusuf.
Dalam pengakuannya, Yusuf juga menepis isu kekerasan yang sempat beredar di tengah masyarakat.
“Saya tidak mendapat kekerasan selama diperiksa,” tegasnya.
Sebagai bentuk perhatian, Bupati Maybrat Karel Murafer secara langsung menyerahkan bantuan biaya pengobatan kepada Yusuf Sorri. Penyerahan bantuan tersebut dilakukan di Kantor Bupati Maybrat pada Selasa (24/3/2026).
Karel menegaskan, langkah itu merupakan wujud tanggung jawab pemerintah daerah terhadap aparat kampung yang terdampak situasi keamanan.
“Jadi saya selaku bupati menyerahkan bantuan biaya pengobatan, nominal saya tidak sebutkan, untuk membantu ade Yusuf melakukan pemeriksaan kesehatan di Sorong. Pemerintah merasa ini bagian dari kepedulian kemanusiaan pasca insiden yang terjadi di Kampung Sori,” kata Karel.
Ia menilai, Yusuf bukan hanya korban salah tangkap, tetapi juga bagian dari perangkat kampung yang selama ini aktif melayani masyarakat.
Peristiwa yang menimpa Yusuf bermula dari posisinya yang tinggal tepat di depan pos TNI. Kedekatan lokasi tersebut membuat dirinya sempat dicurigai sebagai pihak yang memberikan informasi kepada kelompok bersenjata.
Padahal, dalam kesehariannya, Yusuf dikenal sebagai tokoh muda yang aktif dalam kegiatan gereja dan pemerintahan kampung.
Kondisi ini mencerminkan kompleksitas situasi keamanan di wilayah Maybrat, di mana warga sipil kerap berada dalam posisi rentan akibat konflik bersenjata.
Di balik pengalaman yang ia alami, Yusuf menyampaikan harapan agar konflik di Maybrat segera berakhir. Ia menilai stabilitas keamanan menjadi kunci utama agar pembangunan di daerah tersebut dapat berjalan optimal.
“Saya berharap konflik ini segera selesai supaya pembangunan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Kasus Yusuf Sorri menjadi penegasan penting bahwa di tengah konflik bersenjata, tidak semua narasi yang berkembang di ruang publik sepenuhnya akurat. Klarifikasi dari korban langsung menghadirkan perspektif berbeda—bahwa proses pemeriksaan berjalan tanpa kekerasan, sekaligus menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menyimpulkan informasi.
Di sisi lain, langkah cepat Pemerintah Kabupaten Maybrat memberikan bantuan menunjukkan pendekatan humanis yang berupaya meredam dampak sosial dari konflik.
Peristiwa ini tidak hanya berbicara tentang salah tangkap, tetapi juga tentang bagaimana negara dan masyarakat berupaya menjaga keseimbangan antara keamanan dan kemanusiaan di wilayah rawan konflik.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
