get app
inews
Aa Text
Read Next : Miris! Pelajar di Sorong Sudah 1 Tahun jadi Maling Motor

Tragedi Makan Bergizi Gratis di Papua: 527 Tumbang, Pemkab Jayapura Kewalahan Tangani Pasien

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 04:50 WIB
header img
Ratusan anak-anak tumbang diduga keracunan program Makan Bergizi Gratis di Jayapura.

 

JAYAPURA, iNewssorongraya.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, berujung petaka. Hingga Kamis (6/8/2026), Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat lonjakan tajam jumlah korban yang tumbang mencapai 527 orang. Mayoritas korban adalah kelompok rentan, yakni balita, siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hingga pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Gelombang pasien yang terus berdatangan sejak Selasa (4/8/2026) malam membuat fasilitas kesehatan di wilayah tersebut kewalahan. Para korban dilarikan ke sejumlah pusat layanan medis, termasuk RSUD Yowari dan Puskesmas Depapre, dengan keluhan seragam: mual hebat, muntah, diare, demam tinggi, hingga kejang dan badan lemas.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Beri Wopari, membenarkan situasi krisis tersebut. Pihaknya terpaksa memaksimalkan seluruh kapasitas ruang perawatan, baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap.

“Berdasarkan data yang kami himpun sejak 4 hingga 6 Agustus hari ini, total korban sebanyak 527 orang. Korban terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP, hingga sejumlah orang tua. Angka ini merupakan akumulasi pasien rawat jalan dan rawat inap. Seluruhnya mendapatkan penanganan medis secara maksimal di sejumlah puskesmas dan rumah sakit,” ujar dr. Beri Wopari di Sentani, Kamis (6/8/2026).

Meski tren kedatangan pasien baru mulai melandai sejak Rabu malam, pihak medis menolak mengambil risiko. Observasi ketat tetap diberlakukan guna mencegah efek racun kembali bereaksi dalam tubuh pasien.

“Ada beberapa pasien yang kondisinya mulai membaik, sudah bisa makan dan duduk. Namun, mereka masih diobservasi karena kami ingin memastikan mereka benar-benar pulih sebelum dipulangkan. Pengawasan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan racun dalam tubuh bereaksi kembali atau pasien mengalami kekambuhan,” tegas dr. Beri.

Mobilisasi Darurat dan Investigasi Menyeluruh

Tragedi ini memicu respons darurat dari jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jayapura. RSUD Yowari diubah menjadi pusat rujukan utama, didukung tenda-tenda darurat, penambahan tempat tidur, serta pengerahan tenaga medis cadangan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, yang meninjau langsung kondisi pasien di RSUD Yowari pada Rabu (5/8/2026), menyatakan bahwa keselamatan nyawa adalah prioritas mutlak saat ini. Namun, ia tidak menutupi kekecewaannya atas insiden yang mencoreng program prioritas nasional tersebut.

“Saya sudah meminta seluruh fasilitas kesehatan dibuka. Tempat tidur, infus, obat-obatan, dan tenaga medis harus tersedia agar semua pasien mendapatkan penanganan maksimal,” kata Yunus. 

Lebih lanjut, Yunus melontarkan peringatan keras kepada seluruh pihak penyelenggara program MBG. Ia menuntut evaluasi total dan transparansi akses bagi pemerintah untuk mengawasi dapur umum secara berkala.

“Program MBG bertujuan menciptakan anak-anak yang sehat. Karena itu kualitas makanan dan kebersihan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar memenuhi target pembagian makanan. Kami tidak ingin pasien dipulangkan terlalu cepat lalu kambuh lagi. Karena itu mereka harus tetap diobservasi sampai benar-benar sembuh,” ungkap Bupati Yunus.

Di sisi lain, aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan lokasi dan menyelidiki akar persoalan. Operasional dapur penyedia makanan di Distrik Depapre telah dihentikan sementara. Puluhan saksi tengah diperiksa intensif.

Kapolres Jayapura, AKBP Dionisius VDP Helan, menegaskan bahwa meskipun fokus utama adalah penyelamatan nyawa, proses hukum dan pembuktian ilmiah tetap berjalan. Pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum menetapkan status kejadian luar biasa ini.

“Sampai saat ini kami belum bisa menyatakan bahwa ini merupakan kasus keracunan, karena masih memerlukan kajian dan analisis. Fokus kami saat ini adalah penyelamatan korban. Situasi keamanan tetap aman dan terkendali. Masyarakat saling membantu dalam proses penyelamatan. Saat ini kami tidak memikirkan hal lain selain menyelamatkan nyawa manusia,” ujar AKBP Dionisius.

Pemerintah belum berani menyimpulkan jumlah akhir warga yang terdampak. Proses penyisiran dan evakuasi di sejumlah kampung terpencil di Distrik Depapre masih terus dilakukan, sembari menanti kepastian hasil uji sampel makanan dari laboratorium. Insiden ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG, menuntut perbaikan sistematis agar niat baik pemenuhan gizi tidak kembali menelan korban.

 

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut