Kronologi Kembalinya 10 Mantan Anggota OPM Sorong Raya ke Pelukan NKRI
MANOKWARI, iNewsSorongRaya.id - Sebanyak 10 mantan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap IV Sorong Raya akhirnya resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Proses kembalinya para mantan anggota kelompok bersenjata ini berjalan melalui tahapan kesadaran diri hingga berujung pada upacara resmi.
Berikut adalah urutan peristiwa di balik momen bersejarah tersebut:
Jauh sebelum prosesi ikrar dilakukan, ke-10 anggota tersebut lebih dulu membulatkan tekad untuk meninggalkan kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Berdasarkan pengakuan terbuka dari beberapa peserta, langkah ini diambil karena pandangan dan hati nurani mereka sudah tidak lagi sejalan dengan rentetan aksi yang dilakukan oleh kelompok bersenjata tersebut. Mereka akhirnya memilih jalan damai dan ingin kembali membaur dengan masyarakat.
Kamis, 25 Juni 2026: Prosesi Sakral Pengucapan Ikrar Setia
Puncak dari proses kembalinya mereka terjadi pada hari Kamis di Lapangan Kodam XVIII/Kasuari, Manokwari, Papua Barat. Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan, Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, turun langsung memimpin jalannya prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.
Dalam momen ini, kesepuluh mantan anggota OPM secara bergantian mengucapkan sumpah janji setia sebagai warga negara Indonesia. Sebagai simbol lepasnya mereka dari kelompok separatis, para peserta juga menyerahkan seluruh atribut OPM yang selama ini digunakan. Upacara ini disaksikan langsung oleh pihak keluarga yang terharu, perwakilan tokoh adat dan agama, jajaran pemerintah distrik, hingga masyarakat setempat.
Sabtu, 27 Juni 2026: Pernyataan Resmi dan Komitmen Pembangunan Papua
Dua hari berselang, tepatnya pada hari Sabtu, Letjen TNI Lucky Avianto mengeluarkan pernyataan tertulis untuk merespons momentum rekonsiliasi tersebut. Ia memberikan apresiasi tertinggi kepada 10 orang tersebut karena dinilai telah mengambil langkah sangat berani demi masa depan keluarga dan tanah kelahiran yang lebih cerah.
Pada kesempatan yang sama, Lucky merinci cetak biru pendekatan pemerintah dan aparat di Tanah Papua saat ini. Ia menegaskan bahwa negara tidak lagi semata-mata menggunakan pendekatan keamanan, melainkan beralih pada pendekatan humanis yang menitikberatkan pada pembangunan dan pemberdayaan. Hal ini diwujudkan melalui penguatan fasilitas umum, layanan kesehatan, hingga pendidikan.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar