Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : TNI Kontak Senjata dengan TPNPB-OPM di Nduga, Jalur Senjata Mulai Diburu
Advertisement . Scroll to see content

Klaim Rampas Senjata Kopasgat di Paniai, TPNPB-OPM Sebut Operasi Dilakukan Siang Hari

Selasa, 12 Mei 2026 | 04:59 WIB
  • author STEVANI GLORIA
Klaim Rampas Senjata Kopasgat di Paniai, TPNPB-OPM Sebut Operasi Dilakukan Siang Hari
TPNPB-OPM saat memperlihatkan satu pucuk senapan serbu yang diklaim hasil rampasan dari prajurit Kopasgat TNI AU di Bandara Enarotali dalam sebuah serangan. (Foto: Istimewa).

PANIAI, iNewssorongraya.id – Kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap XIII Kegepa Nipouda Paniai mengklaim berhasil merampas satu pucuk senjata api jenis SS1 milik anggota Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI Angkatan Udara di Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Senin (11/5/2026). Klaim itu diumumkan secara terbuka di tengah meningkatnya eskalasi keamanan di wilayah pegunungan Papua dalam beberapa bulan terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui rilis resmi Komando Nasional (Komnas) TPNPB-OPM yang beredar di media sosial Facebook pada Senin siang. Dalam keterangannya, kelompok bersenjata itu menyebut operasi dilakukan sekitar pukul 12.30 WIT oleh pasukan Kodap XIII Kegepa Nipouda yang disebut sedang bergerak di wilayah Kota Enarotali.

TPNPB-OPM mengklaim senjata yang dibawa kabur merupakan milik anggota Kopasgat TNI AU yang bertugas di Bandar Udara Enarotali, salah satu objek vital strategis di Kabupaten Paniai.

“Kami pasukan TPNPB Kodap XIII Kegepa Nipouda Paniai berhasil merampas satu pucuk senjata SS1 milik anggota TNI AU,” demikian isi pernyataan yang diumumkan manajemen markas pusat Komnas TPNPB-OPM.

Kelompok itu menyebut aksi dilakukan oleh pasukan dari Kompi Markas Kodap XIII Kegepa Nipouda di bawah komando Panglima Kodap Matius Gobai bersama Wakil Panglima Kodap Henok Yeimo. Laporan operasi tersebut diklaim telah diteruskan langsung ke markas pusat organisasi.

Selain mengumumkan dugaan perampasan senjata, TPNPB-OPM kembali menyuarakan tuntutan politik mereka kepada pemerintah pusat. Dalam pernyataan yang sama, kelompok itu meminta Presiden RI Prabowo Subianto menarik seluruh personel militer organik maupun non-organik dari Papua.

Rilis tersebut diumumkan oleh juru bicara Komnas TPNPB-OPM, Sebby Sambom, atas nama manajemen markas pusat organisasi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak TNI maupun aparat keamanan belum mengeluarkan keterangan resmi yang membenarkan klaim tersebut. Informasi mengenai dugaan perampasan senjata itu juga belum dapat diverifikasi secara independen.

Namun Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, saat dikonfirmasi iNews menyatakan pihaknya masih melakukan klarifikasi dan koordinasi dengan satuan di lapangan untuk memastikan detail kejadian yang dilaporkan kelompok bersenjata tersebut.

“Untuk informasi tersebut, saat ini masih kami klarifikasi dan croscek dengan satuan yang ada di kewilayahan termasuk berkomunikasi dengan pihak kogab 3 (Kogabwilhan III)," ujar Tri melalui pesan singkat WhatsApp, Senin sore.

Insiden yang diklaim terjadi di kawasan Enarotali itu kembali menyoroti tantangan pengamanan objek vital di Papua Tengah, khususnya area bandar udara yang selama ini menjadi jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di wilayah pegunungan.

Bandar Udara Enarotali memiliki posisi strategis karena sebagian besar akses transportasi di Paniai masih bergantung pada penerbangan perintis. Gangguan keamanan di sekitar bandara dikhawatirkan dapat memengaruhi aktivitas penerbangan sipil, distribusi kebutuhan pokok, hingga pelayanan masyarakat di daerah pedalaman.

Sejumlah sumber menyebut aparat keamanan kini meningkatkan kewaspadaan pasca munculnya klaim tersebut. Upaya pengejaran terhadap pelaku serta pengamanan senjata api yang diduga dirampas disebut menjadi fokus utama aparat di lapangan.

Di sisi lain, peristiwa ini dipandang sebagai indikator masih rentannya situasi keamanan di sejumlah wilayah pedalaman Papua Tengah. Penguatan pengamanan kawasan strategis dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait jumlah pelaku, kronologi detail kejadian, maupun kondisi anggota Kopasgat yang disebut menjadi korban dalam insiden tersebut. Aparat keamanan masih melakukan pendalaman dan pengumpulan informasi di lokasi.

Belum diketahui pula apakah terdapat korban jiwa maupun gangguan keamanan lain dalam insiden yang diklaim terjadi pada siang hari itu. Aparat di Papua Tengah juga belum merilis hasil penyelidikan ataupun perkembangan operasi pengejaran.

Situasi keamanan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Kabupaten Paniai, dalam beberapa waktu terakhir memang terus diwarnai ketegangan antara aparat keamanan dan kelompok separatis bersenjata. Klaim serangan, kontak tembak, hingga dugaan penyitaan senjata kerap diumumkan kedua pihak, meski tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara terbuka.

Pemerintah pusat sebelumnya menegaskan pendekatan keamanan di Papua dilakukan untuk menjaga stabilitas wilayah serta melindungi masyarakat sipil dari konflik bersenjata yang berkepanjangan. Namun eskalasi kekerasan yang terus berulang menunjukkan tantangan keamanan di Papua Tengah masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya terkendali.

Editor: Chanry Suripatty

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut