Ledakan Bom di Biak Tewaskan 5 Warga, 19 Luka dan 55 Orang Mengungsi
BIAK NUMFOR, iNewssorongraya.id — Ledakan benda yang diduga bom sisa Perang Dunia II di kompleks perikanan, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah warga.
Berdasarkan data sementara kepolisian, lima warga meninggal dunia, 19 orang luka ringan, dan 55 jiwa terpaksa mengungsi. Tiga korban lainnya masih dalam pencarian aparat gabungan.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, mengatakan para pengungsi terdiri dari balita dan orang dewasa yang terdampak langsung oleh ledakan.
"Korban luka-luka ringan 19 orang. Terdampak dan mengungsi 55 jiwa yang terdiri dari 3 balita dan 52 orang dewasa," kata Cahyo kepada wartawan di Jayapura, Senin (1/6/2026).
Ledakan juga merusak 12 rumah warga. Dari jumlah itu, sembilan rumah dilaporkan rusak berat karena berada di sekitar titik ledakan, sedangkan tiga rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.
"Rumah hancur atau rusak berat 9 di sekitar titik ledakan, rusak ringan 3," tuturnya.
Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, mengatakan aparat telah mengidentifikasi delapan korban dalam insiden tersebut. Lima korban meninggal dunia telah berada di RSUD Biak untuk penanganan lebih lanjut.
"Yang sudah teridentifikasi ada delapan korban. Lima meninggal dunia dan tiga lainnya masih belum ditemukan," ujarnya.
Menurut Ari, tiga korban yang masih hilang diduga berada paling dekat dengan pusat ledakan. Tim pencarian bersama warga menemukan sejumlah serpihan tubuh di sekitar lokasi.
"Para nelayan yang berada di sekitar lokasi turut membantu mengumpulkan beberapa potongan tubuh yang ditemukan dan telah diserahkan kepada petugas untuk proses identifikasi," ujarnya.
Pemerintah daerah akan membantu proses pemakaman korban meninggal dunia. Aparat gabungan masih menjaga lokasi kejadian sambil melanjutkan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.
"Besok pagi (hari ini) langsung dimakamkan dan dibantu oleh pemerintah daerah," katanya.
Editor : Hanny Wijaya