Ribuan Umat Kristiani di Sorong Rayakan Paskah dengan Pawai Obor Tegaskan Persatuan dan Pesan Damai
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Ribuan umat Kristiani memadati ruas jalan hingga kawasan Pantai Reklamasi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Minggu (5/4/2026) dini hari, dalam rangkaian pawai obor dan ibadah Paskah Oikumene yang berlangsung khidmat. Perayaan ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi pernyataan iman kolektif sekaligus simbol persatuan lintas denominasi di tengah dinamika sosial dan global.

Kegiatan dimulai sejak pukul 03.00 WIT melalui pawai obor yang diikuti ribuan jemaat dari berbagai wilayah, seperti Kilometer 16, Klademak, Sauka, Tanjung Kasuari, hingga Rufei. Massa bergerak dari dua titik utama—Sorpus dan Gereja Immanuel Boswesen—menuju kawasan reklamasi sebagai titik akhir.
Sepanjang perjalanan, peserta membawa obor sambil menyanyikan lagu pujian, menciptakan suasana religius yang hening namun sarat makna. Simbol terang yang dibawa menjadi representasi spiritual tentang kemenangan atas kegelapan.

Fenomena yang turut mencuri perhatian adalah hadirnya ratusan bendera Israel serta tiupan sangkakala yang mengiringi langkah peserta, memperkaya ekspresi iman dalam perayaan tersebut.
Pawai secara resmi dilepas oleh Penjabat Sekretaris Daerah Papua Barat Daya, Yakob Kareth.
“Dengan ini pawai obor dalam rangka menyambut paskah tahun 2026 resmi dimulai,” ujarnya.

Setibanya di Pantai Reklamasi, ribuan umat langsung mengikuti ibadah Paskah Oikumene yang dipusatkan di kawasan Tembok Berlin. Ibadah berlangsung terbuka dengan dihadiri puluhan ribu jemaat dari berbagai denominasi gereja.
Mengusung tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita”, rangkaian ibadah diisi dengan pujian, penyembahan, serta penyampaian Firman Tuhan. Pujian dipimpin Pdt Daniel Liline bersama tim musik, sementara kabar sukacita Paskah disampaikan oleh Pdt Jeane Fonataba/Haurisa.
Suasana ibadah berlangsung tertib dan penuh penghayatan, dengan jemaat larut dalam nyanyian rohani sebagai bentuk syukur atas kebangkitan Yesus Kristus.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, yang juga bertindak sebagai pemimpin ibadah sekaligus Ketua Panitia, menegaskan bahwa Paskah harus dimaknai sebagai momentum memperkuat kesatuan, bukan sekadar seremoni keagamaan.
“Tuhan Yesus datang untuk mendatangkan kita semua. Kita harus meninggalkan ego dan merasa diri penting, serta membangun kesatuan hati. Gereja boleh bertambah, tapi kita adalah satu umat Tuhan di bawah satu salib,” ujar Elisa Kambu.

Ia juga menyoroti kondisi geopolitik dunia, termasuk konflik global, dan mengajak umat untuk mendoakan perdamaian.
“Marilah kita semua terus menjaga kedamaian, ketertiban dan keharmonisan di tanah Papua ini,” ajaknya.
Menurutnya, kebangkitan Kristus menjadi fondasi dalam membangun kehidupan harmonis, baik dalam lingkup gereja maupun masyarakat luas.
Selain ibadah, perayaan Paskah juga diwarnai kegiatan sosial dan rekreatif. Panitia menggelar pengundian doorprize dengan hadiah utama tiga paket perjalanan rohani ke Yerusalem. Sementara itu, anak-anak mengikuti tradisi pencarian telur Paskah di area reklamasi.

Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya juga mengumumkan agenda lanjutan berupa Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) berskala besar pada Mei 2026, yang akan menghadirkan pembicara internasional dari Amerika Serikat, Kim Henry.
“Gembala harus bersatu, hamba Tuhan harus bersatu. Tinggalkan perbedaan, rencanakan diri, dan berlutut di kaki Yesus,” tegas Elisa.
Ia bahkan mengusulkan praktik doa dan puasa bersama sebagai langkah spiritual menghadapi tantangan zaman, sekaligus bagian dari persiapan menuju visi “Generasi Emas Papua”.

Rangkaian pawai obor hingga ibadah bersama di Sorong menjadi gambaran konkret bagaimana nilai keimanan, tradisi, dan solidaritas sosial bertemu dalam satu momentum. Kehadiran ribuan umat dari berbagai latar belakang gereja memperlihatkan kuatnya semangat oikumene di Papua Barat Daya.
Di tengah perubahan sosial dan ketidakpastian global, perayaan Paskah di Sorong tampil sebagai ruang refleksi kolektif—menguatkan iman, mempererat persaudaraan, serta menegaskan pesan damai yang melampaui batas denominasi.
Editor : Hanny Wijaya