IDAI Gandeng RSUD di Kota Sorong Skrining Jantung Anak, Kasus Serius Terungkap
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Upaya menekan angka kematian bayi akibat penyakit jantung bawaan di Papua Barat Daya memasuki fase krusial. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggandeng RSUD Sele Be Solu Kota Sorong melakukan skrining massal jantung anak, sekaligus mengungkap temuan awal kasus serius yang selama ini tersembunyi akibat keterbatasan data dan fasilitas.
Program skrining penyakit jantung anak yang digelar IDAI Cabang Papua Barat dan Papua Barat Daya bersama Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi IDAI di RSUD Sele Be Solu, Kamis (23/4/2026), menjadi langkah strategis dalam memperkuat deteksi dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di wilayah timur Indonesia.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan layanan pemeriksaan gratis menggunakan alat USG-Echocardiography (echo) bagi bayi baru lahir hingga anak-anak, tetapi juga menjadi titik awal pengumpulan data prevalensi penyakit jantung anak yang selama ini belum tersedia secara komprehensif di Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam memetakan kondisi riil kesehatan jantung anak di daerah.
“Justru karena kita belum punya angka pasti, kegiatan ini penting untuk melihat bagaimana kondisi riil anak-anak di Papua Barat dan Papua Barat Daya,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, tim dokter menemukan sejumlah kasus kelainan jantung dengan kondisi cukup serius, bahkan beberapa di antaranya memerlukan tindakan operasi segera. Kondisi ini berpotensi memperburuk status gizi anak dan memicu stunting jika tidak ditangani cepat.
Skrining dilakukan dengan fokus pada kelompok anak berisiko tinggi, termasuk pasien dengan gizi buruk, stunting, serta mereka yang dicurigai memiliki kelainan jantung.
Ketua IDAI Papua Barat Daya, dr. Rianti Windesi, menyebut kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun basis data kesehatan jantung anak di wilayah tersebut.
“Selama ini kami belum memiliki data pasti. Dengan pemeriksaan massal ini, kami berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas diagnostik selama ini menjadi kendala utama, sehingga banyak pasien harus dirujuk keluar daerah dengan biaya tinggi dan akses transportasi yang terbatas.
Selain layanan medis, program ini juga menitikberatkan pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan dasar ekokardiografi serta pemanfaatan teknologi telemedicine.
“Dokter anak dilatih melakukan pemeriksaan dasar USG jantung, kemudian dapat berkonsultasi dengan konsultan kardiologi anak. Ini akan menghemat biaya dan memastikan hanya pasien yang benar-benar membutuhkan yang dirujuk,” jelas Piprim.
Pelatihan ini melibatkan dokter umum, bidan, hingga perawat agar mampu melakukan skrining awal pada bayi baru lahir. Jika ditemukan indikasi, pemeriksaan lanjutan dilakukan menggunakan USG jantung oleh tenaga spesialis.
Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan sistem layanan kesehatan yang lebih efisien dan responsif di daerah dengan keterbatasan akses spesialis.
Pemanfaatan alat kesehatan yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun Anggaran 2025 menjadi faktor kunci dalam keberhasilan kegiatan ini.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan, khususnya bagi anak-anak.
“Dukungan terhadap kesehatan dan pendidikan adalah kewajiban pemerintah. Tahun 2025 kami telah memberikan bantuan signifikan ke sejumlah rumah sakit, termasuk RSUD Sele Be Solu,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan fasilitas kesehatan, termasuk untuk penanganan bayi prematur dan kasus darurat, akan terus dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi fiskal daerah.
Menurutnya, kehadiran alat kesehatan modern di daerah akan mengurangi ketergantungan rujukan ke luar Papua yang selama ini membebani masyarakat dari sisi biaya dan waktu.
Kolaborasi IDAI dengan RSUD Sele Be Solu menandai perubahan pendekatan layanan kesehatan anak di Papua Barat Daya—dari sistem rujukan yang mahal dan lambat, menuju deteksi dini berbasis daerah yang lebih efisien.
Ke depan, IDAI menargetkan program ini berkelanjutan, termasuk menghadirkan tenaga ahli langsung ke Papua serta memperluas penggunaan telemedicine untuk konsultasi medis jarak jauh.
Dengan kombinasi skrining dini, penguatan SDM, dan dukungan alkes dari Dana Otsus 2025, upaya menekan angka kematian akibat penyakit jantung bawaan pada anak kini memiliki fondasi yang lebih kuat dan terukur.
Editor : Hanny Wijaya