Pemprov Papua Barat Daya Bangun Sekolah Dua Lantai Shine Papua
SORONG KOTA, iNewsSorongraya.id — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menegaskan komitmen memperkuat fondasi pendidikan di wilayahnya dengan membangun gedung sekolah dua lantai bagi Yayasan Shine Papua Education di Kota Sorong. Proyek yang dibiayai Dana Otonomi Khusus (Otsus) itu diarahkan untuk memperluas akses belajar, khususnya bagi Orang Asli Papua (OAP), sekaligus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar secara berkelanjutan.
Gubernur Elisa Kambu menyampaikan, pemerintah akan membangun gedung dua lantai berkapasitas delapan ruang kelas—empat di lantai bawah dan empat di lantai atas—sebagai penopang kebutuhan pembelajaran yang terus meningkat. Pembangunan direncanakan dimulai tahun depan.
“Mulai tahun depan pembangunan gedung dua lantai akan segera dimulai untuk mendukung proses belajar siswa yang mengenyam pendidikan di wilayah ini,” kata Elisa Kambu usai menghadiri perayaan HUT ke-7 Shine Papua Education di Kota Sorong, Senin [19/1/2026].
Menurutnya, Shine Papua Education merupakan sekolah dengan mandat sosial yang kuat karena memprioritaskan penerimaan OAP. Kehadiran gedung baru dinilai krusial untuk memperluas daya tampung dan memastikan keberlanjutan layanan pendidikan bagi anak-anak Papua.
Sementara itu, Ketua Badan Pendiri Shine Indonesian, Lidya Kristina Liemnarso, mengungkapkan bahwa keterbatasan sarana fisik selama ini menjadi kendala utama dalam menerima calon peserta didik. “Keinginan kami sebenarnya bisa menerima semua peminat siswa yang mendaftar. Tetapi karena keterbatasan gedung, pada tahun ajaran baru kami hanya mampu menerima dua kelas saja,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah menargetkan delapan ruang kelas, satu ruang guru, dan satu ruang laboratorium untuk menunjang pembelajaran. “Kita juga belum tahu persis berapa ruang yang akan dibangun. Tapi sesuai permintaan kita itu kita buti delapan ruang kelas, satu ruang guru dna satu lagi ruang laboratorium,” bebernya.
Lidya menegaskan, anak-anak Papua disekolahkan secara gratis. Seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah, termasuk fasilitas asrama. “Atas nama Yayasan Shine Papua Education, kami menyampaikan syukur dan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Papua Barat Daya,” katanya.
Di sisi lain, Shine Papua Education konsisten mengembangkan model pendidikan berasrama yang menekankan penguatan Matematika dan Bahasa Inggris. Sejak berdiri, yayasan ini berkomitmen memastikan OAP memperoleh akses pendidikan setara tanpa harus meninggalkan daerah asal. “Dengan pendidikan yang terarah dan berkelanjutan, para siswa mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta bersaing secara akademik,” jelas Lidya.
Saat ini, sejumlah siswa dari berbagai kampung di Papua Barat Daya menempuh pendidikan melalui skema beasiswa. Mereka direkrut dari keluarga kurang mampu dan didukung penuh oleh yayasan bersama pemerintah daerah. Dukungan pemerintah, kata Lidya, telah berjalan sejak awal operasional sekolah—dimulai pada periode pertama kepemimpinan Johny Kamuru sebagai Bupati Sorong, sempat terhenti saat masa Penjabat, lalu kembali menguat pada periode kedua kepemimpinannya. Pemerintah provinsi juga memberikan perhatian dengan meninjau langsung kondisi sekolah dan proses pembinaan siswa.
Untuk menjaga keberlanjutan layanan, Shine Papua Education menerapkan subsidi silang dengan menerima siswa umum. Seluruh jenjang pendidikan dari TK hingga SMA masih terpusat di satu lokasi, dengan pembinaan intensif dari pagi hingga malam. Kebutuhan dasar siswa dipenuhi, mulai dari makan hingga lima kali sehari, perlengkapan pribadi, hingga buku pelajaran termasuk buku bilingual. Dalam keseharian, Bahasa Inggris diterapkan melalui program pendukung seperti Reading Assistant dan Fast Forward.
Pembangunan gedung dua lantai ini diharapkan menjadi katalis peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua Barat Daya. Investasi Otsus tersebut bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi jangka panjang untuk memastikan anak-anak Papua memperoleh pendidikan bermutu, berdaya saing, dan tetap berakar di tanah kelahirannya.
Editor : Hanny Wijaya