Pembangunan Merauke Harus Berbasis Pengetahuan Masyarakat Adat

Vitrianda Hilba Siregar
Aademisi Universitas Papua (UNIPA), Hendrik Arwam, dalam forum diskusi terpumpun di Ruang Rapat Badan Kesbangpol Kabupaten Merauke, Kamis (17/9/2026). Foto: isy

Kebutuhan akan pendekatan ini terasa kian krusial saat pembangunan berlangsung dalam skala besar serta membawa perubahan cepat terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Mengacu pada kajian MPSI di Wanam, Distrik Ilwayab, penelitian yang berlangsung sepanjang Agustus hingga September 2026 tidak hanya memetakan ruang secara geografis.

Tim peneliti memanfaatkan observasi, wawancara, diskusi kelompok terpumpun, musyawarah adat, penelusuran silsilah, serta telaah dokumen untuk memahami relasi masyarakat dengan wilayahnya secara utuh.

Peta memberikan informasi spasial, tetapi tidak otomatis menjelaskan sejarah dan legitimasi. Di sisi lain, sejarah lisan perlu diperkuat melalui pembandingan antarsumber, bukti tempat, dan mekanisme adat. Kehadiran riset berfungsi mempertemukan berbagai bukti tersebut tanpa mengambil alih kewenangan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti MPSI bidang budaya dan bahasa, Annas Fitrah Akbar, menjelaskan bahwa kajian MPSI mencatat sedikitnya 12 marga dalam Struktur Adat Mayo Bodol, meliputi Gebze, Moiwend, Awabalik, Bilukande/Bilulande, Mahuze, Balagaize, Yolmen, Kahol, Samkakai, Kaize, Basik-Basik, dan Ndiken.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network