Kisah Inspiratif Apsalom Bonay, Putra Papua Bangkit Buka Usaha Jasa Pangkas Rambut Keliling

CHANRY SURIPATTY
Apsalom Bonay buka usaha pangkas rambut keliling di Jayapura usai kontrak kerja di PT Telkom berakhir, bertahan di tengah minimnya lapangan kerja. (Foto : Dok Pribadi).

JAYAPURA, iNewssorongraya.idKisah inspiratif ini patut disimak. Berawal dari tekanan ekonomi dan sempitnya lapangan kerja di Papua tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah Apsalom Ronald Bonay (32). Setelah kontraknya selesai di perusahaan telekomunikasi berakhir pada September 2025, pemuda asli Serui kelahiran Jayapura itu memilih jalur berbeda, membangun usaha pangkas rambut keliling sebagai strategi bertahan sekaligus bentuk perlawanan terhadap keterbatasan.

“Situasi ini tidak mudah, tapi saya harus tetap jalan dan cari cara untuk bertahan,” ujarnya saat berbincang dengan Pemred iNewssorongraya.id, Sabtu (2/5/2026). 

Keputusan tersebut bukan pilihan instan. Berbulan-bulan mencari pekerjaan tanpa hasil mendorong Apsalom mengambil langkah mandiri. Ia memanfaatkan keterampilan yang dimiliki untuk tetap produktif di tengah stagnasi peluang kerja formal.

“Saya tidak mau hanya menunggu tanpa kepastian, harus ada langkah yang diambil,” katanya. 

 


Apsalom Bonay buka usaha pangkas rambut keliling di Jayapura usai kontrak kerja di PT Telkom berakhir, bertahan di tengah minimnya lapangan kerja. (Foto : Dok Pribadi).

Apsalom menegaskan masa kontraknya di Telkom telah berakhir sejak September 2025. Dalam kondisi tanpa pekerjaan tetap, dia memilih tidak berdiam diri dan mulai menjalankan usaha pangkas rambut keliling sembari tetap mencari peluang lain.

“Kontrak habis di Telkom sejak tahun kemarin 2025 di bulan September, daripada tinggal nganggur, sementara cari-cari lowongan [kerja] belum dapat, jadi ada motivasi dari pangkas rambut keliling ini coba saya jalankan dulu,” ungkapnya. 

Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Apsalom memikul dorongan kuat untuk mandiri. Ia menolak bergantung pada keluarga, meskipun akses pekerjaan di daerahnya terbatas.

“Saya harus mandiri, tidak bisa bergantung pada orang lain ataupun keluarga,” tegasnya. 

 


Apsalom Bonay buka usaha pangkas rambut keliling di Jayapura usai kontrak kerja di PT Telkom berakhir, bertahan di tengah minimnya lapangan kerja. (Foto : Dok Pribadi)

Dengan modal sederhana berupa sepeda motor dan peralatan pangkas, ia menyusuri wilayah Kota Jayapura hingga Kabupaten Jayapura. Basis pelanggan dibangun melalui media sosial dan layanan panggilan langsung.

“Saya keliling cari pelanggan, kadang dapat dari Facebook, kadang dari telepon,” jelasnya. 

Model usaha ini fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau, menyasar berbagai segmen, dari anak-anak hingga dewasa.“Saya tidak pasang harga mahal, yang penting pelanggan puas dan bisa kembali lagi,” katanya. 

Di balik kisah personal tersebut, terdapat realitas struktural yang lebih luas. Data Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Papua mencapai 7,08 persen pada November 2025, sementara data pemerintah daerah menunjukkan angka 6,97 persen pada akhir tahun yang sama. Papua juga mencatat tingkat pengangguran pemuda tertinggi secara nasional pada Agustus 2025.

“Kondisi ini memang nyata dirasakan masyarakat, terutama anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan,” ujarnya. 

Situasi tersebut mencerminkan ketimpangan antara besarnya dana Otonomi Khusus dengan akses kerja bagi masyarakat lokal. Sejumlah sektor industri di Papua masih didominasi tenaga kerja dari luar daerah.
 
“Banyak anak Papua punya kemampuan, tapi kesempatan itu belum merata,” katanya. 

Dalam konteks itu, langkah Apsalom menjadi representasi ketahanan individu di tengah keterbatasan sistem. Ia memilih bergerak, bukan menunggu perubahan.

“Saya pilih bergerak, karena kalau hanya menunggu tidak akan mengubah keadaan,” ujarnya. 

Dia juga mengakui kondisi pasar kerja saat ini masih sulit. Namun, ia menilai setiap peluang tetap layak dijalani selama memberikan nilai dan kebermanfaatan.

“ Kondisi saat ini memang sekarang lagi sulit yah [mencari pekerjaan], jadi dengan peluang yang ada saya jalani saja dulu. Tidak perlu malu, karena ini pekerjaan halal. kalau ada kurang dan belum sempurna nanti Tuhan yang sempurnakan. saya pribadi tetap semangat,” ujarnya. 


Kisah tersebut tidak berdiri sendiri. Apsalom menilai banyak anak muda Papua menghadapi situasi serupa dan berjuang dengan cara masing-masing untuk bertahan.

“Ini bukan hanya soal saya, tapi banyak anak muda Papua yang sedang berjuang dengan cara masing-masing,” tuturnya. 

Di tengah ketidakpastian ekonomi, langkah sederhana yang diambil Apsalom menunjukkan bahwa keberanian mengambil peluang dapat menjadi fondasi untuk bangkit dari tekanan. “Saya percaya selama kita mau berusaha, pasti ada jalan,” pungkasnya.

Editor : Hanny Wijaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network