SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Polda Papua Barat Daya menyatakan telah mengidentifikasi seluruh kelompok kriminal bersenjata yang beroperasi di wilayah Papua Barat Daya. Namun, kepolisian belum membuka identitas kelompok yang diduga berkaitan dengan rangkaian kekerasan di Kabupaten Tambrauw karena proses penyelidikan dan penyidikan masih berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Intelkam Polda Papua Barat Daya, Kombes Pol Angling Kuncoro, dalam keterangan pers terkait perkembangan kasus dugaan penghadangan, pengeroyokan, atau penganiayaan di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, yang menewaskan dua warga sipil. Keterangan pers digelar di Aula Mapolda Papua Barat Daya, Rabu (18/3/2026).
“Karena semuanya masuk proses penyelidikan dan penyidikan sehingga tidak bisa dibuka di media. Jadi nanti kalau sudah hasilnya ada, nanti kita rilis keterangan pers lagi kepada rekan-rekan wartawan,” kata Angling.
Ia menegaskan, identifikasi terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Papua Barat Daya telah dilakukan aparat.
“Namun kalau identifikasi, semuanya sudah kita identifikasi seluruh kelompok yang ada di Papua Barat Daya,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penjelasan resmi kepolisian atas pertanyaan publik yang selama ini menyoroti penggunaan istilah orang tak dikenal (OTK) dalam sejumlah kasus kekerasan di wilayah Tambrauw. Meski telah mengklaim memiliki identifikasi awal, polisi masih menahan rincian mengenai nama kelompok, afiliasi, maupun jaringannya sampai proses penegakan hukum dinilai cukup.
Dua warga sipil tewas di jalan poros Tambrauw
Kasus ini bermula dari peristiwa penghadangan terhadap empat pengendara sepeda motor di jalan utama atau jalan poros yang berdekatan dengan Kampung Bangfot dan Kampung Jogbu, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Senin (16/3/2026) sekitar pukul 11.30 WIT.
Dalam kejadian itu, dua warga sipil meninggal dunia, yakni Yermia Lobo, tenaga medis atau pegawai rekam medik di Rumah Sakit Pratama Fef, serta Yohanes Edwintus Bido, pemuda asal Ende.
Sementara dua korban lainnya berhasil melarikan diri menuju Pos Bamusbama atau Pos Satgas TNI Batalyon 763 untuk melaporkan kejadian tersebut kepada petugas.
Kabid Humas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare, didampingi Kombes Pol Angling Kuncoro dan Kabid Propam AKBP Matias Krey, menjelaskan bahwa keempat korban merupakan warga sipil yang sedang dalam perjalanan dari Tambrauw menuju Kota Sorong saat dihadang di lokasi kejadian.
Menurut polisi, informasi yang beredar di media sosial bahwa para korban merupakan anggota intelijen tidak benar.
“Mereka adalah warga sipil, bukan anggota Intel atau anggota kepolisian yang menyamar atau anggota atau aparat keamanan apapun,” tegas Jenny.
Polisi bantah isu korban terkena luka tembak
Dalam penjelasannya, Polda Papua Barat Daya juga membantah narasi yang beredar di media sosial bahwa korban meninggal akibat luka tembak. Berdasarkan hasil visum awal dan keterangan medis, korban disebut tidak meninggal karena tembakan.
“Setelah dilakukan visum dan dikatakan pihak medis bahwa yang korban yang meninggal dunia itu bukan karena luka tembak namun karena benda tajam, entah itu pisau atau panah dan sebagainya,” ujar Jenny.
Kepolisian menilai klarifikasi ini penting untuk meredam simpang siur informasi yang berkembang pascakejadian. Aparat juga meminta media membantu menyampaikan informasi yang akurat agar situasi tidak semakin memanas akibat kabar yang belum terverifikasi.
Polisi dalami kaitan dengan serangan 8 Maret
Selain menyelidiki peristiwa 16 Maret, Polda Papua Barat Daya juga menelusuri kemungkinan keterkaitan kasus ini dengan aksi kekerasan sebelumnya pada 8 Maret 2026, yang menyebabkan seorang pegawai honorer Pemerintah Kabupaten Tambrauw meninggal dunia.
Saat ditanya apakah pelaku dalam dua peristiwa itu berasal dari kelompok yang sama, pihak kepolisian menyebut ada dugaan ke arah tersebut, tetapi belum dapat menyimpulkannya secara final.
“Iya, diduga masih ada kaitannya,” kata Jenny.
Meski demikian, polisi menegaskan belum dapat menetapkan tersangka ataupun menerbitkan daftar pencarian orang karena proses pendalaman masih berjalan.
“Saat ini masih dilakukan pendalaman dan lidik sidik oleh Sat Reskrim Polres Tambrauw dan Polda Papua Barat Daya, dalam hal ini Direktorat Reskrimum. Jadi masih dalam proses untuk pendalaman sehingga kami belum bisa memberikan jawaban apakah pelaku atau tersangka itu sudah didapatkan,” ujarnya.
Video pengakuan pelaku masih diuji
Polisi juga menanggapi video yang beredar di media sosial, yang menampilkan pihak tertentu mengaku bertanggung jawab atas peristiwa 8 Maret dan 16 Maret di Tambrauw. Menurut Polda Papua Barat Daya, video tersebut belum bisa langsung dinyatakan autentik.
“Kami dari Polda Papua Barat Daya hingga saat ini masih dilakukan analisa dan pendalaman juga terkait dengan video yang beredar, yang mengaku atau mengklaim diri mereka bertanggung jawab atas kejadian dari tanggal 8 Maret dan tanggal 16,” kata Jenny.
Ia menambahkan, kepolisian masih mendalami isi dan keaslian konten itu sebelum menjadikannya bagian dari konstruksi penyidikan.
“Kita belum bisa membenarkan keaslian video tersebut, tapi masih didalami,” ujarnya.
Motif penyerangan belum terungkap
Hingga kini, aparat belum menyimpulkan motif di balik penyerangan yang menewaskan dua warga sipil itu. Kepolisian menyatakan masih menggali keterangan saksi dan mengembangkan temuan lapangan.
“Sampai dengan saat ini, belum diketahui motif dari mereka para pelaku, karena sampai saat ini masih dilakukan pendalaman dalam lidik sidik,” kata Angling.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyidik masih berhati-hati dalam menyusun konstruksi perkara, termasuk dalam menentukan siapa pelaku, apa motifnya, dan apakah aksi itu terkait jaringan kekerasan yang lebih luas di Papua Barat Daya.
Pengamanan diperkuat, warga diminta tidak panik
Pascainsiden, Polda Papua Barat Daya mengirim 60 personel Brimob untuk memperkuat pengamanan di wilayah Tambrauw. Personel itu disiagakan bersama anggota Polres Tambrauw serta Satgas TNI 762 dan 763, terutama untuk menjamin mobilitas warga yang melintas di jalur rawan.
Polisi menegaskan situasi kamtibmas di Tambrauw saat ini kondusif, tetapi tetap dalam kewaspadaan penuh. Warga yang hendak menuju Fef maupun Kota Sorong diminta tidak panik karena aparat sudah ditempatkan di sejumlah titik.
Dalam skema pengawalan, masyarakat yang menggunakan sepeda motor akan dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dikawal bersama-sama oleh petugas untuk melintasi ruas yang dinilai rawan.
“Jika yang menggunakan sepeda motor, maka dikumpulkan menjadi satu di satu tempat. Di satu tempat kemudian akan dikawal. Jadi tidak ada yang satu-satu kendaraannya satu lewat langsung dikawal,” jelas pihak kepolisian.
Langkah itu, menurut polisi, dilakukan untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal setelah insiden mematikan tersebut.
Penegakan hukum masih berjalan
Polda Papua Barat Daya menegaskan kerja penyidikan masih terus berlangsung dengan dukungan Polres Tambrauw dan Direktorat Reserse Kriminal Umum. Aparat juga menyatakan akan membuka identitas pelaku maupun kelompok yang diduga terlibat setelah seluruh alat bukti dinilai cukup.
Untuk saat ini, kepolisian meminta publik tidak berspekulasi, termasuk mengaitkan korban dengan aparat intelijen atau menyimpulkan identitas kelompok penyerang tanpa dasar resmi.
Kasus Tambrauw kini bukan hanya menjadi ujian bagi penegakan hukum, tetapi juga ujian bagi negara dalam menjamin rasa aman warga sipil di jalur-jalur vital Papua Barat Daya. Polisi menyatakan telah memiliki peta awal kelompok bersenjata di wilayah itu, tetapi publik masih menunggu satu hal yang paling penting: siapa pelakunya dan kapan mereka ditangkap.
Editor : Chanry Suripatty
Artikel Terkait
