Gempar di Cendana! Ketika Jenderal M Jusuf Tempeleng Liem Sioe Liong
JAKARTA, iNewsSorongRaya.id - Di era Orde Baru, pengusaha kawakan Liem Sioe Liong (Om Liem) dikenal memiliki pengaruh bisnis yang sangat kuat serta akses yang begitu dekat dengan Presiden Soeharto. Keduanya sudah menjalin hubungan akrab sejak era Perang Kemerdekaan di Jawa Tengah.
Namun, kedekatan dan pengaruh sang konglomerat tidak lantas membuatnya kebal dari ketegasan Jenderal TNI M Jusuf, sosok Menhankam/Panglima ABRI yang terkenal lurus, jujur, dan berani.
Sebuah kisah legendaris mencatat momen ketika Jenderal M. Jusuf secara terang-terangan menampar Liem Sioe Liong tepat di area kediaman pribadi Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Jenderal M. Jusuf hendak menemui Presiden Soeharto di kediamannya untuk melaporkan urusan dinas dan stabilitas keamanan negara. Saat tiba di lokasi, M. Jusuf mendapati Liem Sioe Liong juga berada di sana.
Sikap Om Liem yang begitu santai dan terkesan sangat bebas keluar-masuk rumah sang Presiden memicu rasa kurang senang dari Jenderal M. Jusuf. Bagi M. Jusuf, kediaman Kepala Negara dan Panglima Tertinggi adalah tempat yang harus dihormati dengan etika yang ketat, bukan tempat yang bisa dijadikan sarana manuver atau ajang pamer pengaruh oleh para pengusaha.
Membawa marwah serta ketegasan sebagai perwira tinggi berdarah Bugis, Jenderal M. Jusuf langsung menegur Liem Sioe Liong. Tanpa ragu, M. Jusuf menampar wajah sang konglomerat di tempat tersebut.
M. Jusuf memberikan peringatan keras kepada Liem Sioe Liong agar tidak memanfaatkannya maupun memanfaatkan kedekatannya dengan Presiden Soeharto demi kepentingan bisnis pribadi. Ia menegaskan bahwa urusan negara dan keselamatan rakyat berada di atas segala kepentingan bisnis pengusaha mana pun.
Tamparan tersebut menjadi sinyal tegas dari M. Jusuf bahwa militer di bawah kepemimpinannya tidak akan bisa didikte atau dibeli oleh kekuatan finansial para taipan.
Tindakan berani Jenderal M. Jusuf mempertegas wataknya yang sangat anti terhadap praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Selama menjabat sebagai Panglima ABRI maupun menteri, ia selalu memastikan batas yang sangat jelas antara kepentingan negara dengan kepentingan para pengusaha.
Meski peristiwa penamparan tersebut mengejutkan banyak pihak di lingkaran dalam Istana, Presiden Soeharto tetap menaruh rasa segan dan hormat yang mendalam kepada Jenderal M. Jusuf. Kejujuran, keberanian, dan loyalitas murni M. Jusuf kepada bangsa menjadikan posisinya sebagai salah satu jenderal legendaris yang paling dihormati dalam sejarah militer Indonesia.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar