Karhutla di Papua Barat Daya Makin Meluas, Pemprov Perkuat Kesiapsiagaan Satgas Karhutla
SORONG, iNewssorongraya.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Papua Barat Daya kian mengkhawatirkan ketika kesiapan penanganan di tingkat provinsi masih berpacu dengan penyelesaian dokumen administrasi. Di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, api disebut menjadi yang terbesar, sementara sumber air untuk pemadaman semakin terbatas.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat Daya George Yarangga mengatakan, pihaknya hingga kini belum menerima laporan resmi dari BPBD Kabupaten Sorong Selatan mengenai kondisi terkini Karhutla di Kokoda.
“Kami sampai saat ini belum mendapat laporan dari Kepala BPBD Kabupaten Sorong Selatan, terutama yang di Distrik Kokoda. Karena itu, kami sudah mengonfirmasi staf agar mendapatkan data yang akurat sehingga informasi kepada publik benar-benar faktual,” ujar George.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Karhutla telah dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Papua Barat Daya. Selain Sorong Selatan, titik kebakaran juga tercatat di Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, dan Tambrauw.
George mengatakan, Pemprov Papua Barat Daya kini menyiapkan sejumlah dokumen sebagai dasar memperkuat operasi penanganan Karhutla, termasuk SK Posko Komando, SK Tim Reaksi Cepat (TRC), SK pembentukan Satgas Karhutla, serta SK tanggap darurat.
“Kalau seluruh SK sudah selesai diproses, kami berharap segera ada dasar untuk mengajukan dukungan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) dari Pemprov Papua Barat Daya,” ungkapnya.
Menurut George, status tanggap darurat dari Kabupaten Raja Ampat dan Kota Sorong telah menjadi bagian dari penanganan yang berjalan. Sementara untuk Sorong Selatan, pemerintah provinsi masih menunggu kelengkapan dokumen dan penetapan status yang diperlukan.
“Setelah SK ini terbit dan status tanggap darurat ditandatangani oleh Pak Gubernur, kami berharap segera mendapatkan dukungan anggaran BTT untuk membantu BPBD kabupaten/kota menangani Karhutla di sejumlah titik,” tegasnya.
Kokoda Jadi Titik Paling Mengkhawatirkan
Di tengah proses penyiapan sistem penanganan tersebut, kondisi lapangan justru menunjukkan ancaman yang semakin serius.
Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat Daya Jhoni Way sebelumnya mengungkapkan, Karhutla terbesar saat ini berada di Distrik Kokoda. Kondisi lahan yang kering dan vegetasi sagu yang mudah terbakar ketika mengering membuat api sulit dikendalikan.
“Sekarang ini kebakaran paling besar ada di Kokoda, Sorong Selatan. Karena memang di sana sudah kering, terus kebun sagu kalau kering mudah terbakar,” kata Jhoni.
Penanganan di lapangan juga menghadapi kendala geografis. Akses menuju lokasi kebakaran tidak mudah, sedangkan sumber air semakin jauh dan sebagian mulai mengering.
“Karena masyarakat tidak punya kemampuan lagi. Air sudah tidak ada. Kalaupun ada, airnya jauh ke dalam. Siapa yang mau memikul air ke dalam untuk memadamkan?” ujarnya.
Jhoni memperkirakan luas lahan yang terdampak dapat mencapai ratusan hingga ribuan hektare apabila kebakaran berlangsung selama lima hari tanpa hujan.
“Kalau di situ terbakar lima hari, berarti itu bisa sudah ratusan hektare, bahkan bisa ribuan hektare,” ungkapnya.
Ia mengaku belum memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan titik kebakaran di Kokoda, termasuk kepastian apakah seluruh api telah padam.
Kekeringan Persempit Ruang Gerak Pemadaman
Ancaman Karhutla semakin kompleks karena kondisi kekeringan terjadi di sejumlah wilayah Papua Barat Daya. Jhoni menyebut sebagian sumber air mengalami penyusutan sehingga masyarakat menghadapi keterbatasan dalam melakukan pemadaman secara manual.
“Sekarang sudah parah, karena di seluruh Sorong ini sumur-sumur sebagian besar sudah kering,” tandasnya.
Ia juga menyebut debit sejumlah sungai besar menurun drastis. Sungai Warsamson di Kota Sorong, misalnya, disebut mengalami kondisi sangat surut.
“Kali-kali yang besar seperti Warsamson, itu orang sudah bisa berjalan di atasnya. Sudah kering,” katanya.
Menurut Jhoni, kondisi cuaca kering masih berpotensi berlangsung. Berdasarkan prediksi yang diterimanya, hujan di wilayah Papua diperkirakan baru kembali pada akhir September atau Oktober, meski ia berharap hujan turun lebih cepat.
Pemprov Diminta Percepat Respons
Kepala BPBD Papua Barat Daya, George Yarangga mengungkapkan, sebelumnya dalam rapat koordinasi penanggulangan Karhutla bersama Wakil Menteri Dalam Negeri secara daring pada Senin (1/9/2026), pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan, koordinasi lintas sektor, pemantauan, pelaporan, hingga mobilisasi sumber daya.
BPBD Papua Barat Daya diarahkan menjadi koordinator penanganan Karhutla dengan melibatkan Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP dan Damkar, TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, serta masyarakat.
Dukungan anggaran melalui BTT juga menjadi salah satu instrumen yang disiapkan untuk memperkuat operasi di lapangan, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
George mengatakan, pemerintah provinsi juga tengah mempersiapkan apel siaga dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Kegiatan tersebut direncanakan digelar di kawasan Pantai Reklamasi pada Senin pekan depan.
“Apel siaga dengan kekuatan penuh dari semua stakeholder terkait. Kami meminta mobil damkar serta seluruh sarana dan prasarana pendukung untuk disiapkan,” katanya.
Apel tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan distribusi bantuan, dengan Sorong Selatan menjadi salah satu prioritas karena jumlah hotspot yang dilaporkan lebih banyak.
Warga Diminta Tak Bakar Lahan
Di tengah upaya pemerintah memperkuat respons, masyarakat juga diminta menghentikan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
George mengimbau warga tidak membakar lahan untuk membuka maupun mengolah kebun selama kondisi cuaca masih kering.
“Untuk sementara, masyarakat jangan membuka kebun dengan cara membakar. Kondisi lahan sedang sangat kering sehingga api mudah menyebar,” tegasnya.
Masyarakat yang melintas di jalan juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat menjadi sumber api.
“Kami meminta warga yang melintas tidak membuang puntung rokok sembarangan. Dalam kondisi kering seperti sekarang, kelalaian manusia sangat mudah memicu kebakaran,” ungkap George.
Berdasarkan data citra satelit yang diperoleh iNewssorongraya.id, sejumlah titik api terlihat di tiga wilayah yang terdampak cukup besar, yakni Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Raja Ampat.
Kini persoalannya bukan hanya seberapa luas api telah membakar lahan, tetapi seberapa cepat sistem penanganan yang sedang disiapkan pemerintah benar-benar bergerak di lapangan. Dengan sumber air yang terus menyusut dan ancaman kebakaran yang berpotensi meluas, percepatan status darurat, mobilisasi personel, peralatan, serta dukungan anggaran menjadi krusial sebelum api berubah menjadi bencana yang jauh lebih besar.
Editor : Hanny Wijaya