Siswa SLB Adu Bakat di Kota Sorong, Pemprov PBD Ditantang Perkuat Pendidikan Inklusif
SORONG, iNewssorongraya.id – Puluhan mata lomba digelar dalam LKS (Lomba Kompetensi Siswa), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), dan FLS3N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) tingkat Provinsi Papua Barat Daya Tahun 2026 di Kota Sorong. Ajang ini menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 itu mempertemukan peserta dari SLB Kota Sorong, Kabupaten Sorong, dan Kabupaten Raja Ampat. Mereka bersaing dalam sejumlah cabang lomba keterampilan, olahraga, seni, dan budaya.
Ketua Panitia Pelaksana, Paulus Kala’lembang, mengatakan penyelenggaraan LKS, O2SN, dan FLS3N merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan potensi siswa SLB.
“Ajang ini bukan sekadar perlombaan, tetapi wadah bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan, mengembangkan potensi diri, dan membangun rasa percaya diri mereka,” ujar Paulus.
Untuk kategori LKS, peserta mengikuti lomba bidang souvenir, merangkai bunga, tata boga, tata kecantikan, dan kriya kayu. Sementara kategori O2SN mempertandingkan bocce tunggal putri, atletik lari 100 meter putra, lompat jauh putri, bulu tangkis putra, serta tenis meja tunggal putra.
Pada kategori FLS3N, peserta mengikuti lomba gambar bercerita, mewarnai, menyanyi solo, pencak silat, fashion show, cipta dan baca puisi, melukis, pantomim, MTQ, tari, hingga fotografi.
Paulus mengatakan panitia menyiapkan berbagai cabang lomba agar setiap peserta memiliki ruang untuk menampilkan kemampuan sesuai minat dan potensinya.
“Puluhan mata lomba telah disiapkan dan seluruh peserta berasal dari SLB Kota Sorong, Kabupaten Sorong, serta Kabupaten Raja Ampat. Kami ingin memastikan setiap bakat mendapat ruang untuk berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan lomba tidak dapat disamakan dengan kompetisi peserta didik pada umumnya. Karena itu, panitia menerapkan pola pendampingan dan sistem penilaian yang disesuaikan dengan karakteristik siswa berkebutuhan khusus.
“Kami menyiapkan pendampingan, pengaturan teknis yang ramah disabilitas, dukungan tenaga pendidik, serta sistem penilaian yang sesuai karakteristik peserta agar seluruh kegiatan berjalan aman dan nyaman,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya, Djon Ayorbaba, mengatakan pemerintah provinsi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak pendidikan anak-anak SLB terpenuhi secara layak.
“Kami memiliki regulasi dan tanggung jawab yang jelas dalam membina sekolah luar biasa. Karena itu, pemerintah terus berupaya mengembangkan fasilitas pendidikan, meningkatkan kualitas layanan pembelajaran, dan memastikan hak pendidikan anak-anak SLB terpenuhi secara optimal,” kata Djon.
Djon menilai pendidikan inklusif harus menghadirkan ruang yang adil bagi seluruh anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Menurutnya, kompetisi tingkat provinsi dapat menjadi sarana membangun rasa percaya diri sekaligus menyiapkan peserta menuju level nasional.
“Kami ingin mereka merasa dihargai, percaya diri, dan memiliki kesempatan yang sama dengan peserta didik lainnya. Pendidikan inklusif harus menghadirkan ruang yang adil bagi semua anak,” ujarnya.
Pemprov Papua Barat Daya berharap ajang ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Pemerintah daerah didorong untuk memastikan pembinaan SLB berjalan berkelanjutan, mulai dari fasilitas, kualitas guru, hingga akses kompetisi yang setara bagi seluruh peserta didik berkebutuhan khusus.
Editor : Chanry Suripatty