Sadis! Tiga Warga Sipil Tewas di Tambrauw, Polisi Amankan 12 Saksi Termasuk Pejabat Kampung dan ASN
AIMAS, iNewssorongraya.id — Aparat gabungan TNI–Polri bergerak cepat merespons rangkaian aksi kekerasan berdarah di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya. Sebanyak 12 orang diamankan, termasuk dua kepala kampung dan seorang aparatur sipil negara (ASN), setelah pembunuhan brutal terhadap tiga warga sipil, salah satunya tenaga kesehatan (nakes), dalam rentang waktu sepekan.
Langkah penindakan ini menjadi titik terang awal dalam mengungkap pola kekerasan yang diduga terorganisir dan berpotensi berkaitan dengan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Dari data Kepolisian Polda Papua Barat Daya, rangkaian kekerasan dimulai pada Minggu malam, 8 Maret 2026. Seorang pegawai honorer, Abraham Franklin Delano Kambu, diduga dicegat dan dibunuh saat dalam perjalanan dari Sorong menuju Distrik Fef. Korban ditemukan tewas keesokan harinya pada Senin 9 Maret 2026, di Kampung Banfot dengan luka serius akibat senjata tajam.
Insiden kedua terjadi pada Senin, 16 Maret 2026 sekitar pukul 11.30 WIT di jalan poros Kampung Bangfot–Jogbu, Distrik Bamusbama. Empat warga sipil yang berboncengan motor diadang oleh orang tak dikenal.
Serangan itu menewaskan dua orang, yakni Yermia Lobo, tenaga kesehatan RS Pratama Fef, dan Yohanes Edwintus Bido (24). Dua korban lainnya berhasil melarikan diri dan melapor ke pos Satgas TNI.
Kedua peristiwa ini memicu kekhawatiran luas di masyarakat dan menjadi fokus penyelidikan aparat.
Atas peristiwa berdarah itu, aparat Kepolisian dan TNI melakukan operasi penyisiran intensif pada Rabu (18/3/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIT di Distrik Bamusbama. Operasi ini menyasar sejumlah kampung yang diduga menjadi lokasi persembunyian pihak-pihak terkait.
Hasilnya, 12 orang berhasil diamankan tanpa perlawanan.
Kabid Humas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare, menegaskan bahwa seluruh yang diamankan masih berstatus saksi.
“Telah diamankan beberapa orang saksi atas dugaan keterlibatan kasus penghadangan, pengeroyokan atau pembunuhan terhadap nakes dan warga sipil. Dua orang merupakan kepala kampung, dan satu orang merupakan ASN,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (19/3/2026).
Ia menyebut, para saksi ditemukan di lokasi persembunyian saat operasi berlangsung.
“Saat penyisiran menemukan serta mengamankan orang-orang yang diduga sebagai saksi. Hingga motif dan peran masih dalam pendalaman,” tegasnya.
Dalam operasi tersebut, aparat turut menyita puluhan barang bukti yang memperkuat dugaan adanya persiapan kekerasan. Di antaranya:
- 7 senapan angin
= 7 parang
- 3 tombak dan 11 anak panah
- 4 noken dan perlengkapan lapangan
- 5 unit telepon genggam peluru, tas, hingga benda yang diduga jimat
Temuan ini mengindikasikan adanya pola serangan yang tidak spontan, melainkan berpotensi terencana.
Selain itu, polisi juga mendalami keterkaitan antara dua peristiwa pembunuhan pada 8 dan 16 Maret.
“Keterkaitan itu masih kita dalami hingga saat ini. Dari 12 orang tersebut kami terus dalami peran masing-masing,” ungkap Kompol Jenny.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Barat Daya, Kombes Pol Junov Siregar, menyatakan penyidik masih mendalami kemungkinan afiliasi para saksi dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB).
“Apakah ke-12 ini terafiliasi dengan kelompok tertentu (KKB) kita masih melakukan pendalaman. Mohon bersabar,” kata Junov.
Ia menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan berdasarkan alat bukti yang sah. Jika keterlibatan terbukti, para pelaku akan dijerat pasal berat.
“Kita tetapkan pasal pengeroyokan, kemudian pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam KUHP baru Pasal 469,” tegasnya.
Junov juga meminta publik tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi penyidikan.
Polda Papua Barat Daya memastikan kondisi keamanan di Tambrauw tetap terkendali pascakejadian. Tidak ada laporan warga mengungsi.
“Kami pastikan situasi tetap aman dan tidak ada laporan pengungsian warga,” kata Jenny.
Aparat juga menegaskan komitmen untuk mengusut tuntas kasus ini guna mencegah eskalasi kekerasan lanjutan.
Kasus pembunuhan warga sipil di Tambrauw menjadi ujian serius bagi aparat dalam mengungkap jaringan kekerasan yang lebih luas. Penangkapan 12 saksi, termasuk pejabat kampung dan ASN, membuka kemungkinan adanya keterlibatan aktor lokal dalam konflik bersenjata yang kompleks.
Publik kini menanti langkah lanjutan aparat: apakah kasus ini akan berhenti pada pelaku lapangan, atau berkembang menjadi pengungkapan jaringan yang lebih besar di Papua Barat Daya.
Editor : Hanny Wijaya