get app
inews
Aa Text
Read Next : Polisi Ungkap Fakta Baru Kasus Tambrauw,2 Warga Sipil Tewas Bukan Ditembak dan Pelaku Masih Diburu

Kunjungi Tambrauw Bersama Forkompinda, Wakapolda: Tidak Ada Ruang bagi Pelaku Kekerasan

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:28 WIB
header img
Wakapolda PBD, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa (tengah) bersama Forkompinda dan pejabat pemerintah, TNI/Polri saat mendampingi Gubernur Elisa Kambu melakukan kunjungan ke Distrisk FEF, Kabupaten Tambrauw. (Foto : iNewssorongraya.id).

FEF, iNewssorongraya.id — Negara menunjukkan sikap tegas tanpa kompromi terhadap rangkaian serangan yang menargetkan warga sipil di Kabupaten Tambrauw. Wakapolda Papua Barat Daya, Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa menegaskan, tidak ada ruang bagi pelaku teror, seraya memerintahkan jajarannya di Polres Tambrauw untuk meningkatkan deteksi dini dan penegakan hukum yang tegas namun tetap menjunjung nilai kemanusiaan.

Instruksi tersebut disampaikan saat kunjungan langsung bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) ke Distrik Bamusbama, Rabu (18/3/2026). Langkah ini menjadi respons cepat atas eskalasi kekerasan yang dalam beberapa pekan terakhir memicu keresahan luas di tengah masyarakat.

Kehadiran pimpinan daerah bersama aparat keamanan mempertegas posisi negara yang tidak tunduk pada teror serta tetap berada di garis depan dalam menjamin keselamatan warga.


Wakapolda PBD, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa [Kiri] bersama Forkompinda dan pejabat pemerintah, TNI/Polri saat mendampingi Gubernur Elisa Kambu melakukan kunjungan ke Distrisk Bamusbama, Kabupaten Tambrauw. [FOTO : iNewssorongraya.id]

 

Dalam catatan aparat, sedikitnya tiga korban jiwa jatuh akibat rangkaian serangan tersebut. Salah satunya adalah Abraham Franklin Delano Kambu (22), tenaga honorer Setda Tambrauw, yang ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan hilang sejak 8 Maret 2026.

Korban diduga diserang kelompok kriminal bersenjata saat melintas di Distrik Bamusbama sepulang dari Kota Sorong.

Serangan kembali terjadi pada 16 Maret 2026, ketika empat warga sipil menjadi sasaran dalam perjalanan menuju Sorong. Dua di antaranya meninggal dunia, yakni Yermia Lobo, tenaga kesehatan, dan Yohanes Edwintus Bido, pemuda asal Ende, Nusa Tenggara Timur. Dua korban lainnya selamat dan masih menjalani perawatan medis.

Rangkaian peristiwa ini memperkuat urgensi kehadiran negara dalam memastikan keamanan di wilayah rawan konflik.


Wakapolda PBD, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa [Kiri] bersama Forkompinda saat berdiskusi dengan Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu dalam kunjungan ke Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw.[FOTO : iNewssorongraya.id]

 

Dalam keterangannya, Wakapolda Papua Barat Daya menyampaikan duka cita mendalam sekaligus menegaskan sikap tegas aparat terhadap pelaku kekerasan.

“Tidak ada toleransi bagi para pelaku teror di wilayah Papua Barat Daya, khususnya di Kabupaten Tambrauw,” tegas Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen dalam menjaga stabilitas keamanan.

“Peran seluruh elemen masyarakat sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan, termasuk tokoh adat, tokoh agama, pemerintah setempat, serta partisipasi aktif warga dalam deteksi dini dan pelaporan,” ujarnya.

Selain itu, pendekatan aparat tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga mengedepankan aspek kemanusiaan.

“Saya memerintahkan kepada Kapolres Tambrauw untuk meningkatkan patroli dan deteksi dini, melaksanakan penegakan hukum secara tegas namun tetap humanis, serta memperkuat sinergi dengan TNI dan Pemerintah Daerah,” tegasnya.

Upaya edukasi publik juga terus diperkuat guna mencegah provokasi dan menjaga ketenangan masyarakat.

“Edukasi publik harus dilakukan secara masif agar masyarakat tidak mudah terprovokasi serta dapat mendukung langkah penegakan hukum yang profesional dan terukur,” tambahnya.


Wakapolda PBD, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa [Kiri] bersama Forkompinda saat mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Gubernur Elisa Kambu.[FOTO : iNewssorongraya.id]

 

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi kekerasan terhadap warga sipil.

“Keamanan dan keselamatan masyarakat adalah prioritas utama pemerintah. Penyerangan terhadap warga sipil merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi dan harus ditangani secara tegas, terukur, serta tetap menjunjung tinggi hukum dan HAM,” tegasnya.

Pemerintah daerah juga menginstruksikan pendataan korban secara cepat, pemberian layanan medis dan psikologis, serta penyaluran bantuan sosial secara tepat sasaran. Pelayanan publik dipastikan tetap berjalan guna mencegah kepanikan.


Wakapolda PBD, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa [Kiri] bersama Forkompinda saat berdiskusi dengan warga masyarakat di Tambrauw.[FOTO : iNewssorongraya.id]

 

Kapolres Tambrauw AKBP Praja Gandha Wiratama memastikan situasi keamanan pascakejadian berada dalam kondisi terkendali, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi, segera melaporkan hal mencurigakan, dan bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif,” ujarnya.

Aparat keamanan saat ini terus melakukan penyelidikan serta pengejaran terhadap pelaku secara profesional dan terukur.

Kunjungan langsung Wakapolda, Gubernur, dan Forkopimda ke Tambrauw menegaskan bahwa kehadiran negara bukan sekadar simbolik, melainkan langkah konkret dalam merespons ancaman keamanan.

Di tengah situasi yang sempat memanas, strategi penegakan hukum yang tegas sekaligus humanis menjadi kunci dalam menjaga stabilitas serta memulihkan rasa aman masyarakat di Papua Barat Daya.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut