Dialog Humanis Wakapolda Papua Barat Daya Dengan Keluarga Korban, Massa Buka Blokade Jalan
SORONG KOTA, iNewsSorongraya.id — Aksi pemalangan jalan yang melumpuhkan arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 12, Kota Sorong, Papua Barat Daya, akhirnya berakhir setelah Wakapolda Papua Barat Daya Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa turun langsung menemui keluarga korban pembunuhan Abraham Franklin Delano Kambu, Selasa (10/3/2026).
Pendekatan dialogis yang dilakukan pimpinan kepolisian tersebut meredakan ketegangan massa yang sebelumnya membakar ban dan kayu di tengah jalan sebagai bentuk protes atas kematian pemuda asal Sorong tersebut.

Aksi blokade sempat membuat akses utama menuju wilayah Sorong dan Tambrauw tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat selama beberapa jam, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Dari pantauan iNewssorongraya, sejumlah warga dan kerabat korban sejak pagi memalang dua jalur jalan utama dengan membakar ban serta kayu di badan jalan. Aksi tersebut dipicu kemarahan keluarga setelah Franklin Delano Kambu ditemukan tewas di Kampung Banfot, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Senin (9/3/2026).

Korban sebelumnya dilaporkan diserang orang tak dikenal pada Minggu malam (8/3/2026). Setelah sempat hilang, aparat gabungan akhirnya menemukan jasadnya di sekitar lokasi kejadian.
Jenazah kemudian dievakuasi ke rumah sakit sebelum dibawa ke rumah duka di Kota Sorong.
Situasi di lokasi sempat memanas ketika seorang aparatur sipil negara (ASN) mencoba membubarkan aksi massa dan nyaris menjadi sasaran amuk warga.
Mendapat laporan situasi tersebut, Wakapolda Papua Barat Daya Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa mendatangi lokasi dan berdialog langsung dengan keluarga korban serta massa aksi.

Dalam pertemuan itu, keluarga korban menyampaikan dua tuntutan utama kepada aparat kepolisian, yakni klarifikasi atas informasi yang beredar serta pengungkapan pelaku pembunuhan.
John Isir, salah satu perwakilan keluarga, meminta aparat memberikan penjelasan terkait kabar yang menyebut korban meninggal akibat tembakan.
“Dua hal yang keluarga minta, pertama segera teman-teman dari Kepolisian klarifikasi hoaks yang tadi beliau sampaikan. Setelah senjata bunyi ditanya, kembali klaim. Dibilang itu hoaks saja, ternyata lain informasinya,” kata John Isir.
Ia juga meminta kepolisian mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas kematian korban.
“Kedua, anak kami dibunuh oleh teman-teman yang tidak bertanggung jawab di hutan rimba ini yang menyatakan bahwa mereka bunuh salah satu TNI atau Polri. Nah, itulah yang keluarga minta agar Kepolisian bisa menjelaskan informasi tersebut,” ujarnya.
Menanggapi tuntutan keluarga, Wakapolda Papua Barat Daya Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa menyampaikan belasungkawa sekaligus menjelaskan perkembangan penyelidikan awal.
Menurutnya, kepolisian masih mengumpulkan berbagai keterangan untuk mengungkap secara terang peristiwa yang menewaskan Delano.
“Kini saya hadir karena kejadian di Tambrauw yang menimpa almarhum adik Delano ini menjadi atensi penting Bapak Kapolda,” kata Semmy.
Ia menjelaskan, setelah korban dilaporkan hilang, aparat gabungan TNI–Polri langsung melakukan pencarian hingga akhirnya menemukan korban.
“Awalnya almarhum sempat tidak ditemukan. Motor ada, kemudian anggota bersama masyarakat mencari sampai akhirnya almarhum ditemukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan Bamusbama sebelumnya juga pernah menjadi lokasi aksi teror, termasuk pembakaran kantor distrik beberapa tahun lalu.
Semmy menegaskan peristiwa tersebut kini menjadi perhatian serius Kapolda Papua Barat Daya. Polda akan menggelar rapat khusus guna mempercepat proses penyelidikan.
“Hari ini kami akan menggelar rapat khusus di Polda untuk mendalami peristiwa ini. Kami sedang mengumpulkan data dan keterangan agar kejadian yang menimpa almarhum bisa menjadi terang,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tetap menjaga situasi keamanan agar proses penyelidikan tidak terganggu.
“Saya minta adik-adik membantu kami supaya situasi tetap tenang. Jangan sampai ada kegiatan lain yang membuat tugas polisi terpecah,” kata Semmy.
Menurutnya, pemeriksaan awal menunjukkan korban mengalami luka akibat benda tajam.
“Hasil visum masih kami tunggu dari pihak medis. Namun secara garis besar korban meninggal akibat benda tajam, tidak ada luka tembak seperti yang beredar di publik saat ini,” ujar Praja.
Dari data Kepolisian Polres Tambrauw, peristiwa bermula ketika korban melakukan perjalanan dari Kota Sorong menuju Distrik Fef, ibu kota Kabupaten Tambrauw.
Saat melintas di Kampung Banfot sekitar pukul 19.35 WIT, korban diduga dicegat oleh orang tak dikenal di tengah perjalanan.
Saksi yang berada di belakang korban melihat Delano terjatuh dari sepeda motor sebelum akhirnya melarikan diri mencari perlindungan di Pos Satgas TNI terdekat.
Setelah dialog antara Wakapolda dan keluarga korban berlangsung, massa akhirnya sepakat menghentikan aksi pemalangan.
Kasus kematian Abraham Franklin Delano Kambu kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian untuk mengungkap pelaku dan motif di balik peristiwa tersebut.
Editor : Hanny Wijaya