get app
inews
Aa Text
Read Next : BPS: Kemiskinan di Provinsi Papua Barat Daya 17,95%, Jauh di Atas Nasional

Geger! Menu MBG Dipenuhi Belatung di Kota Sorong, Dapur SPPG Sawagumu Ditutup

Jum'at, 24 April 2026 | 22:35 WIB
header img
Menu MBG untuk siswa di Kota Sorong dipenuhi belatung, sebuah dapur SPPG langsung ditutup. (Foto: Istimewa).

SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Penemuan mengejutkan mengguncang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sorong. Menu ikan yang dibagikan kepada siswa dilaporkan dipenuhi belatung selama dua hari berturut-turut, memicu penghentian sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sawagumu. 

Penutupan dapur dilakukan setelah temuan tersebut diperkuat dengan kondisi lingkungan dapur yang dinilai tidak higienis, termasuk banyaknya lalat yang berpotensi mencemari makanan. 

Ketua Satgas MBG Papua Barat Daya yang juga Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menegaskan langkah tegas diambil untuk mencegah risiko yang lebih luas terhadap kesehatan siswa.

"Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dapur SPPG Sawagumu untuk sementara waktu ditutup guna dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan dan distribusi makanan," kata Ahmad Nausrau di Sorong, Jumat (24/4/2026). 

Kasus ini bermula dari laporan pihak sekolah, tepatnya guru di Sekolah Oikumene, Kelurahan Sawagumu, yang menemukan ulat hidup pada menu ikan yang disajikan kepada siswa. Menu tersebut merupakan bagian dari distribusi MBG pada Selasa (21/4/2026) dan Rabu (22/4/2026). 

Pada hari pertama, siswa menerima ikan goreng, sedangkan keesokan harinya menu berganti menjadi ikan kuah kuning, lengkap dengan tumis kacang panjang, tempe, buah kelengkeng, dan nasi. Namun, temuan belatung disebut terjadi berulang pada ompreng siswa.

"Informasi awal berasal dari pihak sekolah, yakni guru, yang kemudian melaporkannya kepada Kepala SPPG," ujarnya. 

Insiden ini kemudian menyebar luas di media sosial, khususnya WhatsApp, dengan narasi bahwa siswa menerima makanan yang mengandung ulat hidup. Kondisi tersebut memicu perhatian publik dan mendorong respons cepat dari pihak terkait. 

Kepala SPPG bersama tim yang terdiri dari ahli gizi, akuntan, SPPI, dan asisten lapangan langsung melakukan pemeriksaan di lokasi. Mereka mengecek seluruh wadah makanan dan berkoordinasi dengan pihak sekolah guna memastikan kebenaran laporan. 

Dari hasil penelusuran, guru menyatakan bahwa ulat ditemukan dalam salah satu ompreng siswa selama dua hari berturut-turut. Namun, hasil uji sampel lanjutan oleh tim gabungan menunjukkan tidak adanya temuan ulat pada sisa makanan dari dua sekolah berbeda. 

"Hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya ulat pada sisa makanan siswa," katanya. 

Meski demikian, inspeksi tersebut justru membuka persoalan lain yang lebih serius, yakni buruknya sanitasi dapur. Tim menemukan banyak lalat di area pengolahan makanan yang dinilai berpotensi menurunkan kualitas dan keamanan pangan. 

Atas temuan tersebut, laporan langsung disampaikan kepada Direktorat Pemantauan dan Pengawasan (Dirtauwas) Wilayah III. Hasilnya, Dirtauwas memerintahkan penghentian sementara operasional dapur SPPG Sawagumu sejak 24 April 2026 hingga waktu yang belum ditentukan. 

Langkah ini diperkuat dengan pemeriksaan lanjutan oleh Dinas Kesehatan Kota Sorong pada Kamis (23/4/2026), yang turut mengambil sampel makanan serta mengevaluasi kondisi fasilitas dapur.

"Pihak SPPG juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait temuan tersebut sebagai bagian dari upaya penanganan dan pencegahan ke depan," pungkasnya. 

 

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut