Kejahatan Jalanan di Kota Sorong Meningkat Tajam, Warga Desak Pimpinan Polri Turun Tangan
SORONG, iNewssorongraya.id – Lonjakan kejahatan jalanan di Kota Sorong, Papua Barat Daya, memicu tekanan publik terhadap aparat penegak hukum. Keluarga korban pembunuhan Maxi Bles mendesak Kapolri dan Kapolda segera turun tangan menyusul situasi keamanan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Korban, Maxi Bles, warga Kampung Baru, tewas setelah mengalami sejumlah luka tusukan senjata tajam dalam insiden yang terjadi pada Minggu (26/4/2026) dini hari. Ia sempat mendapat perawatan medis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tersebut memicu reaksi keras warga. Sejumlah massa menggelar aksi demonstrasi dengan memblokade Jalan Sam Ratulangi pada Minggu siang tadi, sebagai bentuk protes dan desakan agar pelaku segera ditangkap. Aksi ini juga menjadi simbol meningkatnya keresahan masyarakat terhadap kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah tersebut.
Warga menilai kasus pembunuhan ini bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari tren meningkatnya kejahatan jalanan di Kota Sorong dalam beberapa waktu terakhir. Mereka mendesak aparat kepolisian mengambil langkah tegas dan terukur untuk menekan angka kriminalitas.
Victor Naa, warga Kampung Baru, menegaskan situasi keamanan di lingkungannya telah berada pada level yang memprihatinkan.
“Kami sebagai pemuda di lingkungan Kampung Baru, kami melihat bahwa situasi yang terjadi sekarang ini [pembunuhan Maxi Bles] memang sangat-sangat memprihatinkan. Terutama di kompleks kami RGM. Ini selalu terjadi aksi kejahatan di sini, berbagai tindak kejahatan,”ungkap Victor Naa.
Ia menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi masyarakat serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan.
“Kami sangat berharap ada jaminan keamanan untuk warga masyarakat, bukan saja di lingkungan kami, tapi juga warga di Kota Sorong ini. Penegakan hukum atas kasus ini harus jelas dan tegas,”ujarnya.
Victor juga meminta perhatian langsung dari pimpinan tertinggi Polri terhadap kondisi di lapangan.
“Atas situasi kamtibmas yang sangat memprihatinkan dan keamanan yang sangat menakutkan, maka kami minta kepada Kapolri dan Kapolda tolong supaya melihat hal ini, menyikapi hal ini secara tegas,”katanya.
Warga menilai peningkatan patroli menjadi langkah mendesak untuk mencegah kejahatan, terutama di wilayah rawan seperti Distrik Sorong Barat. Mereka juga meminta aparat tidak lengah dalam menjaga keamanan lingkungan.
“Kami harap rekan-rekan Polisi juga jangan santai, tingkatkan itu patrolinya, supaya kami warga aman,” ujar Victor.
Selain penegakan hukum, warga juga mendorong keterlibatan pemerintah daerah dalam memperkuat sistem keamanan berbasis infrastruktur, seperti pemasangan kamera pengawas (CCTV) dan penerangan jalan.
“Harus ada pasang CCTV di sejumlah titik yang dianggap rawan di Kota ini, khususnya di wilayah Kampung Baru ini, juga lampu-lampu penerangan jalan,”ungkapnya.
Senada, Roy Kareth menyebut sejumlah titik di Sorong Barat sebagai kawasan rawan kriminalitas, termasuk area Pantai Reklamasi atau Tembok Berlin. Ia meminta kepolisian membentuk tim khusus untuk melakukan patroli rutin secara intensif.
“Setidaknya mungkin kalau dari pihak Kepolisian itu, khususnya Polsek Sorong Barat, mereka ada buat tim khusus, yang mana setiap berapa jam operasi untuk keliling atau patroli.”
Menurutnya, patroli berkala terutama pada malam hari menjadi krusial untuk menekan potensi kejahatan di wilayah tersebut.
“Jangan santai saja, setidaknya itu harus patroli rutin, apalagi malam hari dengan kondisi wilayah Sorong Barat ini sangat rawan,”ungkapnya.
Kematian Maxi Bles menjadi titik akumulasi kekecewaan warga terhadap kondisi keamanan di Kota Sorong. Selain menuntut pelaku segera ditangkap, masyarakat juga mendesak evaluasi menyeluruh terhadap strategi pengamanan wilayah.
Warga berharap sinergi antara kepolisian dan pemerintah daerah dapat segera diwujudkan guna menekan eskalasi kejahatan, sekaligus memulihkan rasa aman di tengah masyarakat.
Situasi ini menempatkan aparat penegak hukum pada tekanan publik yang tinggi untuk menunjukkan respons cepat, transparan, dan terukur dalam menangani kasus serta mengendalikan lonjakan kriminalitas di Kota Sorong.
Editor: Hanny Wijaya