Komnas HAM Dalami Kesaksian Pelaku Berpakaian Loreng dalam Tragedi Tewasnya 15 Warga KabupatenPuncak
JAKARTA, iNewssorongraya.id – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap indikasi awal dalam kasus tewasnya 15 warga sipil di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, setelah saksi menyebut terduga pelaku bersenjata mengenakan pakaian loreng.
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, menyatakan temuan tersebut berasal dari keterangan saksi yang kini masih dalam proses verifikasi.
“Ada saksi menyebut seseorang (diduga pelaku) yang memegang senjata pakai baju loreng, itu kesaksian saksi,” ujar Frits dalam konferensi pers, Kamis (23/4/2026).
Komnas HAM menegaskan bahwa informasi tersebut belum dapat dijadikan dasar kesimpulan. Tim masih melakukan pendalaman untuk memastikan fakta peristiwa secara objektif dan terukur.
Frits menambahkan, lembaganya terus melakukan pemantauan intensif dan menyiapkan langkah lanjutan guna mengungkap kronologi serta pihak yang bertanggung jawab.
“Kami sampai hari ini masih mempersiapkan langkah-langkah dan terus melakukan pemantauan proaktif untuk memberi perhatian secara lebih khusus untuk kasus Puncak ini,” tegasnya.
Senada, Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin Siagian, menegaskan proses penyelidikan masih berlangsung dan belum menghasilkan kesimpulan final terkait dugaan pelanggaran HAM.
Menurutnya, kehati-hatian diperlukan mengingat besarnya dampak tragedi yang menewaskan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Kita harus mengimbangi duka yang luar biasa meninggalnya 15 orang di sana, ada anak-anak, ada perempuan, dan oleh karena itu ini menjadi atensi luar biasa kami,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menyebut pelaku penyerangan sebenarnya telah diketahui oleh masyarakat setempat, meski belum ada pihak yang secara terbuka mengakui tanggung jawab.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pemerintah menghimpun berbagai laporan dan data dari lapangan.
Pigai menekankan pentingnya menghentikan spekulasi tanpa dasar yang berpotensi memperkeruh situasi. Ia meminta pihak yang terlibat untuk menunjukkan tanggung jawab atas peristiwa yang menewaskan 15 orang dan menyebabkan tujuh lainnya terluka.
Kasus penyerangan di Distrik Kembru kini menjadi perhatian serius nasional, dengan Komnas HAM dan pemerintah menempatkan pengungkapan fakta serta akuntabilitas sebagai prioritas utama di tengah tekanan publik untuk keadilan.
Editor: Chanry Suripatty