JAKARTA, iNewssorongraya.id – Polri mulai menyiapkan seragam khusus antiserangan panah bagi personel yang bertugas di wilayah rawan konflik, termasuk Papua. Langkah itu menjadi bagian dari strategi penguatan perlindungan anggota Polri di tengah meningkatnya risiko serangan terhadap aparat saat menjalankan tugas di lapangan.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan, penguatan perlengkapan personel dilakukan melalui penyusunan standar Minimal Essential Police Equipment (MEPE), yakni standar minimal peralatan operasional yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah penugasan masing-masing anggota.
Menurut Kapolri, kebijakan tersebut bukan sekadar pembaruan perlengkapan dinas, melainkan bentuk evaluasi terhadap ancaman nyata yang dihadapi personel di daerah konflik.
“Sehingga kemudian pada saat Polri tampil dan turun, betul-betul bisa melaksanakan tugas pokoknya dengan semaksimal mungkin,” kata Kapolri saat Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Slog Polri di Jakarta Timur, Selasa (12/5/2026), seperti dikutip dari ANTARA.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Polri mulai memetakan kebutuhan perlindungan personel secara lebih spesifik berdasarkan pola ancaman di lapangan, termasuk serangan menggunakan senjata tradisional seperti panah yang kerap terjadi di sejumlah wilayah konflik di Papua.
Dalam agenda Rakernis tersebut, Kapolri juga meresmikan Slog Lab, fasilitas laboratorium yang digunakan untuk menguji kualitas seragam dan perlengkapan anggota agar sesuai standar operasional Polri.
Sorotan utama muncul ketika Polri memperagakan seragam khusus yang diklaim mampu mengurangi risiko cedera akibat serangan anak panah. Perlengkapan itu disiapkan khusus untuk anggota yang bertugas di kawasan dengan eskalasi konflik tinggi.
“Agar bagaimana pada saat ada serangan, salah satunya di wilayah-wilayah yang sering terjadi konflik, yang sering menggunakan alat panah, tadi diperagakan, dan alhamdulillah dengan peralatan yang baru, anggota kita bisa terhindar dari potensi apabila ada serangan panah,” ujar Kapolri.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa Polri mulai mengubah pendekatan pengamanan di wilayah konflik dengan menitikberatkan pada aspek perlindungan personel tanpa mengabaikan pelayanan terhadap masyarakat.
Selain seragam antipanah, Polri juga menyiapkan perlengkapan pengamanan diri lain untuk menghadapi berbagai ancaman lapangan, mulai dari lemparan bom molotov hingga potensi serangan bersenjata.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolri menyerahkan sekitar 430 unit kendaraan operasional berupa motor patroli, mobil patroli listrik, ambulans darurat, hingga kendaraan khusus penanganan banjir untuk mendukung mobilitas personel di daerah rawan dan wilayah terdampak bencana.
Distribusi kendaraan dan perlengkapan tersebut menjadi bagian dari penguatan dukungan Staf Logistik Polri terhadap operasi kepolisian di lapangan, terutama pada daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Langkah Polri menyiapkan seragam antiserangan panah sekaligus memperlihatkan bahwa dinamika keamanan di Papua masih menjadi perhatian serius institusi kepolisian. Ancaman terhadap aparat di lapangan kini tidak lagi dipandang sebagai risiko biasa, melainkan tantangan operasional yang membutuhkan adaptasi perlindungan secara khusus.
Di sisi lain, kebijakan itu juga memunculkan pesan bahwa modernisasi perlengkapan kepolisian tidak hanya diarahkan pada teknologi dan kendaraan operasional, tetapi juga pada keselamatan personel yang berada di garis depan penanganan konflik.
Dengan pendekatan tersebut, Polri berharap personel tetap mampu menjalankan tugas pengamanan dan pelayanan masyarakat secara optimal di tengah tingginya risiko keamanan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Papua.
Editor : Chanry Suripatty
Artikel Terkait
