Kisah Inspiratif Apsalom Bonay, Putra Papua Bangkit Buka Usaha Jasa Pangkas Rambut Keliling

CHANRY SURIPATTY
Apsalom Bonay buka usaha pangkas rambut keliling di Jayapura usai kontrak kerja di PT Telkom berakhir, bertahan di tengah minimnya lapangan kerja. (Foto : Dok Pribadi).

Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Apsalom memikul dorongan kuat untuk mandiri. Ia menolak bergantung pada keluarga, meskipun akses pekerjaan di daerahnya terbatas.

“Saya harus mandiri, tidak bisa bergantung pada orang lain ataupun keluarga,” tegasnya. 

 


Apsalom Bonay buka usaha pangkas rambut keliling di Jayapura usai kontrak kerja di PT Telkom berakhir, bertahan di tengah minimnya lapangan kerja. (Foto : Dok Pribadi)

Dengan modal sederhana berupa sepeda motor dan peralatan pangkas, ia menyusuri wilayah Kota Jayapura hingga Kabupaten Jayapura. Basis pelanggan dibangun melalui media sosial dan layanan panggilan langsung.

“Saya keliling cari pelanggan, kadang dapat dari Facebook, kadang dari telepon,” jelasnya. 

Model usaha ini fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau, menyasar berbagai segmen, dari anak-anak hingga dewasa.“Saya tidak pasang harga mahal, yang penting pelanggan puas dan bisa kembali lagi,” katanya. 

Di balik kisah personal tersebut, terdapat realitas struktural yang lebih luas. Data Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Papua mencapai 7,08 persen pada November 2025, sementara data pemerintah daerah menunjukkan angka 6,97 persen pada akhir tahun yang sama. Papua juga mencatat tingkat pengangguran pemuda tertinggi secara nasional pada Agustus 2025.

“Kondisi ini memang nyata dirasakan masyarakat, terutama anak muda yang sulit mendapatkan pekerjaan,” ujarnya. 

Situasi tersebut mencerminkan ketimpangan antara besarnya dana Otonomi Khusus dengan akses kerja bagi masyarakat lokal. Sejumlah sektor industri di Papua masih didominasi tenaga kerja dari luar daerah.
 
“Banyak anak Papua punya kemampuan, tapi kesempatan itu belum merata,” katanya. 

Dalam konteks itu, langkah Apsalom menjadi representasi ketahanan individu di tengah keterbatasan sistem. Ia memilih bergerak, bukan menunggu perubahan.

“Saya pilih bergerak, karena kalau hanya menunggu tidak akan mengubah keadaan,” ujarnya. 

Dia juga mengakui kondisi pasar kerja saat ini masih sulit. Namun, ia menilai setiap peluang tetap layak dijalani selama memberikan nilai dan kebermanfaatan.

“ Kondisi saat ini memang sekarang lagi sulit yah [mencari pekerjaan], jadi dengan peluang yang ada saya jalani saja dulu. Tidak perlu malu, karena ini pekerjaan halal. kalau ada kurang dan belum sempurna nanti Tuhan yang sempurnakan. saya pribadi tetap semangat,” ujarnya. 



Editor : Hanny Wijaya

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update