SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Aksi unjuk rasa kerabat tersangka kasus dugaan korupsi di Mapolresta Sorong Kota berujung ricuh, Jumat (9/1/2026). Massa yang menuntut keadilan dan transparansi penanganan perkara memicu ketegangan setelah membawa seekor babi ke dalam halaman markas kepolisian sebagai simbol ritual adat. Aparat bertindak tegas dan membubarkan aksi karena dinilai melanggar ketertiban dan keamanan di lingkungan kepolisian.
Aksi massa bawa seekor babi di Mapolresta Sorong Kota ricuh, nyaris terjadi baku hantam antara massa dan Polisi.
Sejak awal, massa datang dengan maksud bertemu Kapolresta Sorong Kota untuk menyampaikan aspirasi terkait permohonan penangguhan penahanan terhadap tersangka berinisial IWK dalam perkara dugaan korupsi pengadaan pakaian dinas dan atribut anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya. Namun, kekecewaan muncul lantaran massa tidak dapat bertemu langsung dengan Kapolresta Kombes Pol Amry Siahaan.
Aksi massa bawa seekor babi di Mapolresta Sorong Kota ricuh. Aparat tenangkan massa.
Situasi memanas ketika massa membawa seekor babi dan meletakkannya di halaman Mapolresta Sorong Kota sebagai bentuk protes atas apa yang mereka sebut ketidakadilan hukum dan simbol ritual adat. Langkah tersebut langsung direspons tegas oleh petugas Polresta Sorong Kota yang meminta massa menghentikan aksi dan memindahkan hewan tersebut ke luar area markas.
Aksi massa bawa seekor babi di Mapolresta Sorong Kota ricuh. Aparat tenangkan massa.
Penolakan sebagian massa memicu ketegangan. Adu mulut terjadi dan situasi nyaris berujung baku hantam saat massa bersikeras menahan babi agar tetap berada di halaman Mapolresta. Beruntung, Kabag Ops bersama sejumlah perwira turun langsung menenangkan massa dan mencegah bentrokan fisik yang lebih luas.
“Kitong [Kami] coba datang ajukan penangguhan penahanan, kitong mohon ada perhatian Kapolresta. Kita tidak membela koruptor, sama sekali tidak. Kita hanya membela anak kami, adik kami. Dia hanya kasih pinjam CV, dikasih 20 juta, lalu ditahan di sini,” ujar salah satu kerabat IWK di hadapan aparat.
“Kami ultimatum, kami tidak bikin kacau di dalam kantor ini. Tapi kerusuhan di kota ini, kita bisa bikin. Tolong difasilitasi bertemu Kapolresta,” tambahnya.
Pihak kerabat tersangka saat menyampaikan orasi di Mapolresta Sorong Kota.
Aksi tidak berhenti setelah pembubaran awal. Massa bertahan dan menduduki Mapolresta Sorong Kota hingga malam hari. Mereka menggelar tikar di halaman markas dan di depan ruang penyidik Tipikor untuk bermalam sambil menunggu respons kepolisian atas tuntutan mereka.
Belakangan, anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya jalur pengangkatan Otsus, Robby Wanma, datang ke Mapolresta dan menemui massa. Ia menilai IWK merupakan korban dalam perkara tersebut dan meminta ruang mediasi agar tersangka dapat memperoleh penangguhan penahanan.
“Saya punya adik ini menjadi korban. Bendera perusahaannya dipinjam, lalu dipakai orang lain untuk memperkaya diri. Dia tidak tahu proses pengadaan berjalan seperti apa. Hari ini saya minta ruang mediasi, tapi Kapolresta sampaikan tidak ada penangguhan untuk tindak pidana korupsi,” kata Robby.
“Kami tidak memetalkan proses hukum. Kami minta penangguhan agar dia bisa urus masa depannya, termasuk proses pemberkasan CPNS. Proses hukum tetap berjalan,” tegasnya.
Anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya jalur pengangkatan Otsus, Robby Wanma saat memberikan keterangan pers kepada wartawan.
Sebelum bergerak ke Mapolresta, massa lebih dulu menggelar aksi di Kantor Sekretariat DPR DPR Provinsi Papua Barat Daya. Di lokasi tersebut, massa membawa seekor babi, melakukan ritual adat, memblokade pintu masuk, serta membakar ban bekas sebagai bentuk protes. Mereka menilai penetapan IWK sebagai tersangka tidak adil karena empat tersangka lain berasal dari internal kantor DPR, sementara IWK berada di luar struktur lembaga tersebut.
“Empat tersangka lainnya dari kantor ini. Adik kami di luar, tapi dia dikorbankan. Dia bukan koruptor. Kami keluarga tidak terima,” ungkap salah satu kerabat tersangka saat aksi di kantor DPR.
Pihak kerabat tersangka saat menyampaikan orasi di kantor DPR Provinsi Papua Barat Daya.
Hingga berita ini diturunkan, Kapolresta Sorong Kota belum memberikan keterangan resmi terkait aksi tersebut. iNews TV telah mengajukan permintaan wawancara melalui pesan WhatsApp, namun belum mendapat respons.
Aksi massa di Kantor DPR Provinsi Papua Barat Daya massa blokade kantor Dewan dan gelar ritual adat dengan membawa seekor babi.
Massa masih bertahan di Mapolresta Sorong Kota dan menyatakan akan terus menunggu jawaban kepolisian. Mereka bahkan mengancam menggelar aksi lanjutan dengan skala lebih besar jika tuntutan tidak direspons. Sementara itu, aparat kepolisian tetap bersiaga penuh di Mako Polresta Sorong Kota guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan menjaga stabilitas Kota Sorong.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
