Temui Menkopolkam, Keluarga Letda Jihad Buka Fakta Baru dan Adukan Kejanggalan
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Keluarga almarhum Letnan Dua (Letda) Infanteri Jihad Ahmad Al-Rasyid secara tegas membantah keterangan resmi Kopassus mengenai penyebab kematian perwira muda asal Raja Ampat tersebut. Pihak keluarga menemui langsung Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Dudung Abdurachman di Bandara Deo Sorong, Papua Barat Daya, pada Rabu (28/10/2026), guna membongkar sejumlah fakta baru yang mengindikasikan kejanggalan serius.
Letda Inf Jihad Ahmad Al-Rasyid dilaporkan mengembuskan napas terakhir di Markas Grup 2/Sandi Yudha Kopassus, Kartasura, pada Sabtu (24/10/2026). Jenazah korban selanjutnya diterbangkan ke Kota Sorong pada Minggu (25/10/2026) dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Tri Jaya Sakti. Meskipun instansi militer menyatakan korban tewas akibat kelalaian pembersihan senjata api, pihak keluarga menemukan luka memar serta dua lubang mencurigakan yang menyerupai luka tembak pada bagian pinggang kanan dan bahu kiri korban saat proses pemandian jenazah.
Ibunda korban, Zainab Jelfoom, mengungkapkan temuan bukti pesan singkat WhatsApp dari seorang prajurit junior yang meminta korban mendatangi gudang senjata sebelum insiden maut terjadi. Zainab mempertanyakan urgensi serta keanehan prosedur pemanggilan tersebut di hadapan Menkopolkam.
"Sebelum kejadian, ada pesan masuk di WhatsApp anak saya yang meminta anak saya datang ambil uang di gudang senjata. Yang jadi pertanyaan saya, kenapa juniornya bisa suruh anak saya datang ambil uang di gudang senjata? Mau ambil uang apa di situ, mau transaksi apa?" ujar Zainab sambil memegang foto almarhum putranya.
Selain temuan pesan misterius, Zainab menegaskan bahwa institusi militer hingga saat ini belum menyerahkan rekaman CCTV maupun dokumen resmi terkait kronologi kematian dari pihak rumah sakit dan kesatuan. Pihak keluarga menilai ketiadaan dokumen tertulis tersebut memicu kesimpangsiuran informasi yang merugikan nama baik korban.
"Suami saya pascakejadian sudah meminta ke kesatuan anak saya agar CCTV diberikan kepada kami supaya kami juga bisa melihat, tetapi sampai sekarang tidak diberikan. Kami butuh informasi valid terkait penyebab kematian anak kami," tegasnya.
Menanggapi pengaduan tersebut, Menkopolkam Dudung Abdurachman berjanji akan mengintervensi dan mengawal langsung proses penyelidikan perkara ini. Mantan Gubernur Akademi Militer itu memastikan rekaman CCTV akan dibuka secara transparan kepada pihak keluarga.
"Untuk soal CCTV, akan saya perintahkan untuk diberikan. Kemudian soal pengusutan kasus, tetap akan diproses. Saya kenal anak ini waktu saya menjabat gubernur di Akmil," ungkap Dudung.
Sementara itu, kakak kandung korban, Fahmi Macap, menyoroti adanya tiga versi informasi yang saling bertentangan mengenai penyebab tewasnya sang adik. Menurut Fahmi, pihak komandan batalyon sempat mengindikasikan adanya dugaan pengeroyokan saat mengantar jenazah, sementara Penerangan Kopassus menyebutkan faktor kelalaian saat membersihkan senjata api, dan rumor lain mengarah pada insiden penembakan.
"Informasi yang berkembang ada tiga versi, yaitu penembakan, senpi meledak, dan kelalaian. Ini tidak terperinci mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kami mendesak agar kasus ini dibuka secara terbuka dan keluarga dilibatkan dalam proses investigasi," kata Fahmi.
Penetapan satu orang tersangka oleh penyidik militer kian memperkuat desakan keluarga agar kronologi peristiwa diungkap secara terang benderang tanpa ada hal yang ditutup-tutupi. Pihak keluarga menyatakan siap mendatangi Kantor Kemenkopolkam di Jakarta apabila proses penegakan hukum di tingkat kesatuan berjalan lambat dan tidak memberikan keadilan secara transparan.
Editor: Hanny Wijaya