Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pangkas Jarak dan Biaya, Tim Ekspedisi Patriot ITS Hadirkan Kemudahan Mendapatkan Layanan Beasiswa
Advertisement . Scroll to see content

Dianiaya Pria Mabuk di Manokwari, Turis Belanda: Kami Tetap Mencintai Papua!

Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:34 WIB
  • author LORAINE AMANDA
Dianiaya Pria Mabuk di Manokwari, Turis Belanda: Kami Tetap Mencintai Papua!
Sejumlah turis asal Belanda saat melaporkan peristiwa penyerangan oleh seorang pemudi ke pihak Kepolisian setempat, Minggu (25/10/2026). Polisi langsung memburu pelaku usai korban melapor.

 

MANOKWARI, iNewssorongraya.id  – Aksi kekerasan yang menimpa wisatawan asal Belanda, Yunus, di kawasan Cagar Alam Gunung Meja, Manokwari, Papua Barat, sama sekali tidak menyurutkan rasa cintanya terhadap Bumi Cenderawasih. Alih-alih meradang, keluarga korban justru memandang insiden penganiayaan tersebut murni sebagai tindakan kriminal individu, bukan cerminan karakter masyarakat asli Papua secara keseluruhan.

Rob de Vos, mertua korban sekaligus ahli entomologi dari Naturalis Biodiversity Center Belanda, memastikan tragedi pada Minggu siang itu tidak merusak citra Indonesia di matanya. Peneliti yang sering mengkaji ngengat di wilayah tersebut menegaskan dirinya tetap mengagumi keramahan warga lokal dan pesona alam setempat.

“Saya ingin menegaskan bahwa kejadian ini tidak mengubah pandangan saya terhadap Indonesia dan Papua yang indah ini. Saya mencintai masyarakat dan alamnya,” kata Rob membagikan sudut pandangnya kepada wartawan.

Peristiwa nahas itu bermula saat rombongan turis mancanegara ini sedang menyusuri keindahan kawasan Gunung Meja. Di tengah perjalanan, para wisatawan asing ini berpapasan dengan tiga pria bersepeda motor yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Salah satu dari pria yang diduga kuat berada di bawah pengaruh minuman beralkohol tersebut tiba-tiba bertindak sangat agresif dan mengusir paksa rombongan.

Situasi memanas secara drastis ketika pelaku tiba-tiba menyerang Yunus menggunakan batang pohon tebal. Pemuda Belanda yang diketahui memiliki latar belakang olahraga tinju tersebut terpaksa menahan serangan bertubi-tubi demi melindungi sang istri dan anggota rombongan lainnya, hingga ia menderita luka memar di lengan dan robek pada area telinga akibat hantaman batu.

“Awalnya, dia mendorong kami mundur dan menyuruh kami meninggalkan kawasan tersebut. Kemudian, dia mulai memukul menantu laki-laki saya, Yunus, menggunakan sebatang dahan pohon yang cukup tebal. Belakangan, dia bahkan menggunakan batu,” tutur Rob.

Merasa terancam oleh tindakan premanisme yang tak kunjung berhenti, rombongan turis tersebut langsung melarikan diri untuk mencari perlindungan. Mereka akhirnya berhasil dievakuasi setelah mengamankan diri di sebuah pos polisi yang terletak tepat di pintu masuk Kampus Universitas Papua (Unipa).

Merespons cepat aduan masyarakat di nomor darurat 110, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manokwari langsung menerjunkan Tim Khusus (Timsus) dan Unit Reaksi Cepat (URC). Petugas bersenjata lengkap segera mengamankan tempat kejadian perkara dan mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan penanganan medis.

Kepala Polresta Manokwari, Kombes Pol Ongky Isgunawan, menyatakan kepolisian tidak akan menoleransi aksi kekerasan yang menargetkan warga negara asing di wilayah hukumnya.

“Kami turunkan timsus dan tim URC untuk buru pelaku penganiayaan satu wisatawan di Jalan Asrama Tingkat, Amban, Manokwari,” tegas Ongky dalam keterangan tertulisnya.

Perwira menengah Polri ini menjamin proses pengusutan kasus akan berjalan optimal demi memberikan jaminan keamanan bagi setiap individu di Manokwari. Polisi saat ini tengah meminta keterangan saksi dan memburu terduga pelaku yang identitas serta tempat tinggalnya telah dikantongi aparat.

“Kami akan menangani perkara ini secara transparan, profesional, dan prosedural,” ujarnya.

Kondisi Yunus kini dilaporkan berangsur stabil setelah menerima jahitan medis di rumah sakit. Melalui ketegaran yang ditunjukkan oleh keluarga Eropa ini, mereka berharap penegakan hukum dapat segera menuntaskan kasus tersebut secara berkeadilan, tanpa harus mencoreng nama baik masyarakat Papua yang ramah.

"Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap motif penyerangan, memastikan identitas pelaku, serta memproses perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku," ungkap Rob memungkasi pernyataannya.

 

Editor: Chanry Suripatty

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut