Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Redam Bentrok di Rufei Sorong, Polisi Blokade Lokasi & Gelar Dialog Dengan Para Tokoh
Advertisement . Scroll to see content

Bentrok Rufei Diduga Direncanakan, Warga Tuntut Provokator Pelaku Ditangkap Diusir dari Kota Sorong

Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:28 WIB
  • author FELIX ADIDATI
Bentrok Rufei Diduga Direncanakan, Warga Tuntut Provokator Pelaku Ditangkap Diusir dari Kota Sorong
Ketua RT Rufei Pantai, Frengky Rumere, mendesak polisi menangkap pelaku penyerangan dan mengusut dugaan provokator saat berdialog dengan Kapolresta Sorong Kota, Senin (26/10/2026) di lokasi. (FOTO : iNewssorongraya.id / FELAD)

SORONG KOTA, iNewsSorongRaya.id  - Bentrokan berdarah antara dua kelompok warga kembali pecah di Kawasan Rufei, Distrik Sorong Kota, Senin (26/10/2026). Peristiwa nahas ini memicu kemarahan tokoh masyarakat setempat yang mendesak aparat kepolisian segera menangkap provokator, sekaligus membuat pakta integritas untuk mengusir pelaku dari tanah Sorong jika konflik serupa kembali terulang.

Insiden kekerasan bermula saat sekelompok pemuda yang diduga dari Kompleks Kokoda menyerang dua warga Rufei Pantai secara brutal menggunakan senjata tajam dan batu besar. Akibat serangan mendadak tersebut, dua pria berinisial YB (38) dan NY (36) mengalami luka parah hingga harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Peristiwa mengerikan ini ternyata merupakan buntut dari aksi premanisme pada Sabtu pekan sebelumnya. Kala itu, segerombolan pemuda mabuk memalak dan menganiaya seorang warga yang sedang berolahraga. Tindakan sewenang-wenang tanpa alasan jelas tersebut akhirnya memancing amarah keluarga korban dan berujung pada aksi saling serang antarwarga.

Merespons eskalasi kekerasan, pasukan Anti Huru-Hara Polresta Sorong Kota bersama Brimob Polda Papua Barat Daya langsung memblokade lokasi kejadian. Petugas keamanan terpaksa menembakkan gas air mata guna memecah konsentrasi massa. Barikade pertahanan dipusatkan pada dua objek vital, yakni area depan Pasar Modern Rufei serta Kantor Distrik Sorong Barat.

Di tengah situasi yang memanas, aparat kepolisian mencoba membuka ruang dialog dengan para tokoh sentral dari kedua kubu. Ketua RT Kawasan Rufei Pantai, Frengky Rumere, menyoroti kejanggalan konflik yang selalu terjadi bertepatan dengan momen ibadah hari besar keagamaan. Ia mencurigai adanya unsur kesengajaan atau by design yang mendalangi kerusuhan tersebut.

"Ya, kami tetap akan tenang, tetapi kami minta dalam waktu 1x24 jam, pelaku bisa segera ditangkap, karena korban dari kami di sini dua orang, tangan dan kaki mereka hampir putus, dan sudah kami bawa ke rumah sakit," tegas Frengky di hadapan Kapolresta Sorong Kota.

Frengky menuturkan bahwa serangan terjadi sangat tidak terduga. "Karena kejadian ini tiba-tiba, yang mana mereka dari kelompok sebelah datang potong warga kami yang di sini. Ini masalah baru yang ada terjadi ini," ungkapnya.

"Warga di sini tidak tahu apa-apa, mereka ada kerja, tiba-tiba diserang begini kan semua jadi kaget. Jadi anak-anak dari sini tidak serang mereka. Ade-ade ini sedang main-main di sini, depan pasar sini, yang lain lagi aktivitas seperti biasa, tiba-tiba mereka ini datang serang ke sini," imbuhnya.

Frengky juga meminta aparat penegak hukum membongkar tuntas aktor intelektual di balik layar yang kerap merusak kedamaian.

"Setiap pada kegiatan ibadah hari besar keagamaan, selalu terganggu atas ulah mereka ini. Mau lakukan ibadah ini semua selalu terganggu," keluhnya.

"Makanya saya minta tolong, kalau bisa, bapak-bapak Polisi tolong dalami ini, ada apa sebenarnya. Jangan sampai di belakang mereka ini ada provokator yang sengaja memainkan situasi ini. Artinya kami ini orang awam yah, tetapi menurut saya jangan-jangan seperti begitu, mereka ini hanya ditunggangi. Tolong sekali lagi pihak kepolisian dalami hal ini," pintanya penuh harap.

Pihaknya pun melontarkan ultimatum keras jika komitmen perdamaian kembali dikhianati oleh kelompok yang sama.

"Kami juga minta dengan tegas untuk selesaikan konflik di Kawasan Rufei ini, tolong pihak Kepolisian undang tokoh-tokoh mereka tambah dengan kita, kita bikin pertemuan dan di situ kita nyatakan sikap. Berani kalau mereka berulah lagi, tidak perlu pakai kompromi, keluar tinggalkan Kota Sorong," tegasnya menuntut keadilan.

Menanggapi tuntutan tegas tersebut, perwakilan warga seberang menunjukkan sikap kooperatif terhadap proses penyelidikan. "Kalau ada pihak kami yang bersalah, kami tidak lindungi, kami serahkan ke pihak berwajib," kata salah satu tokoh masyarakat Kokoda.

Sementara itu, Kapolresta Sorong Kota Kombes Pol. Amry Siahaan berjanji institusinya akan memfasilitasi penanganan medis serta menanggung seluruh biaya pengobatan para korban.

"Kami tetap persuasif mencari solusi, untuk dua korban yang mengalami luka-luka, saya sudah perintahkan anggota Polsek Sorong Barat untuk cek penanganan terhadap dua korban," tegas Kombes Pol. Amry Siahaan saat memimpin pengamanan.

Perwira menengah Polri ini juga memastikan jajarannya tengah bekerja keras mengusut tuntas kasus tersebut. "Terkait penanganan kejadian, kami berkoordinasi dengan tokoh-tokoh dari kedua belah pihak yang bertikai ini. Kami mohon untuk semua pihak menahan diri. Serahkan semua masalah ini kepada kami sebagai penegak hukum. Pihak pelaku harus gentle untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," tambahnya.

Hingga Senin malam, aparat masih disiagakan di sejumlah titik rawan untuk mengantisipasi kekerasan susulan.

Sementara itu, Satreskrim Polresta Sorong Kota melakukan penyelidikan terhadap pelaku penyerangan dan rangkaian kekerasan yang memicu bentrokan.

Desakan warga kini menempatkan dua persoalan di hadapan kepolisian, yakni penuntasan kasus penganiayaan dan pengusutan dugaan provokasi yang disebut menjadi pemicu konflik berulang di kawasan Rufei.

 

Editor: Chanry Suripatty

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut