Yusdi Lamatenggo Dorong “Pentahelix Plus” untuk Perkuat Ekowisata Papua Barat Daya
SORONG, iNewssorongraya.id – Pengembangan ekowisata di Papua Barat Daya tidak cukup hanya mengandalkan kolaborasi lintas sektor. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi N. Lamatenggo, menilai kepemimpinan daerah yang memiliki keberpihakan menjadi faktor penting untuk memastikan pariwisata berjalan berkelanjutan sekaligus memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Yusdi saat menjadi narasumber dalam sesi Talkshow Parallel PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Kamis (3/9/2026). Ia membawakan topik mengenai strategi pengembangan ekowisata di Papua Barat Daya.
Yusdi memperkenalkan pengembangan konsep Pentahelix Plus, yakni model kolaborasi yang tidak hanya melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media, tetapi diperkuat unsur kepemimpinan daerah.
Menurut dia, lima unsur dalam Pentahelix memiliki fungsi masing-masing. Pemerintah bertanggung jawab terhadap regulasi, fasilitasi, perencanaan, pendanaan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawasan.
Masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama, penjaga alam dan budaya, sekaligus pihak yang menerima manfaat langsung dari aktivitas ekowisata. Sementara akademisi berperan melalui riset, inovasi, edukasi, pendampingan, serta pengembangan pengetahuan sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Pada sisi lain, sektor bisnis dan swasta didorong berkontribusi melalui investasi, pengembangan produk dan layanan, pemasaran, serta penerapan praktik usaha berkelanjutan. Media memiliki peran dalam edukasi publik, promosi destinasi, kampanye positif, dan membangun citra ekowisata yang berkelanjutan.
Namun, Yusdi menilai seluruh unsur tersebut membutuhkan arah kepemimpinan agar kolaborasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Unsur “plus” dalam konsep yang ditawarkannya merujuk pada leadership atau keberpihakan pimpinan daerah.
"Karena tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri, bersama kita jaga alam, berdayakan masyarakat dan majukan ekonomi," papar Yusdi Lamatenggo.
Ia menegaskan, keberhasilan ekowisata tidak hanya dapat diukur dari pertumbuhan kunjungan wisatawan atau investasi. Transformasi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian penting dari pembangunan pariwisata.
Yusdi mencontohkan perubahan perilaku masyarakat yang sebelumnya melakukan aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, kemudian beralih menjadi bagian dari upaya perlindungan alam. Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga ekosistem apabila memperoleh ruang dan manfaat dari pengembangan pariwisata.
"Dan masyarakat sebagai pelaku utama akan bertransformasi memanfaatkan ekowisata yang berkelanjutan. Transformasi ini telah sering kita saksikan sendiri, bagaimana yang dulunya pemburu, aktif menebang pohon, penggunaan alat tangkap perikanan tidak ramah lingkungan, kini menjadi penjaga alam dan kelestariannya," ungkap Yusdi N. Lamatenggo.
Gagasan Pentahelix Plus itu sekaligus menempatkan pemerintah daerah pada posisi strategis. Kebijakan, anggaran, infrastruktur, pengawasan, dan keberpihakan pemimpin menjadi penentu apakah potensi ekowisata Papua Barat Daya hanya menjadi komoditas ekonomi atau berkembang sebagai model pariwisata yang menjaga lingkungan dan memperkuat kesejahteraan masyarakat lokal.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Papua Barat Daya, tantangan utamanya bukan semata-mata mendatangkan wisatawan. Persoalan yang lebih mendasar adalah memastikan pertumbuhan pariwisata tidak mengorbankan alam serta tidak membuat masyarakat lokal hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.
Editor: Hanny Wijaya