Intip Latihan Operasi Koarmada III 2026, Dari Penindakan Separatis Hingga Penanganan Tumpahan Minyak
Informasi awal diterima Fleet Operations Center (FOC) untuk dianalisis sebelum menjadi dasar pengerahan kekuatan. Pesawat udara kemudian melakukan deteksi, lokalisasi, dan identifikasi, sementara unsur KRI, Tim Visit Board Search and Seizure (VBSS) Satkopaska, pasukan darat, serta instansi pendukung bergerak sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Keterlibatan lintas-instansi menjadi salah satu poin penting dalam latihan tersebut. Kodim 1802 Sorong, Satpolair Polresta Sorong, Kantor SAR Sorong, KSOP, Bea Cukai, hingga Pertamina dilibatkan dalam rangkaian skenario.
Pola ini menunjukkan bahwa kompleksitas ancaman maritim menuntut interoperabilitas. Ketika satu insiden menyentuh aspek keamanan, keselamatan pelayaran, hukum, logistik, dan lingkungan sekaligus, respons tidak dapat bergantung pada satu institusi.
Salah satu skenario menggambarkan KM Rimba Nusantara berupaya menghindari pemeriksaan. Situasi berkembang ketika dua anak buah kapal dilempar ke laut oleh kelompok bersenjata.
KRI Panah-626 kemudian mengerahkan Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) untuk melakukan pertolongan, evakuasi, serta penanganan awal terhadap korban.
Ancaman kembali berkembang ketika unsur patroli mendeteksi sebuah perahu yang dicurigai membantu kelompok bersenjata. Setelah dilakukan penyekatan dan pemeriksaan, ditemukan senjata rakitan serta amunisi dalam skenario latihan.
Barang tersebut selanjutnya diserahkan kepada Satpolair untuk ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketika kapal sasaran kembali melakukan manuver penghindaran, otorisasi operasi diberikan. Dua tim VBSS Kopaska kemudian bergerak menuju KM Rimba Nusantara untuk mengambil alih kapal.
Seluruh tindakan dalam skenario tersebut dilaksanakan dengan berpedoman pada aturan pelibatan dan prinsip penggunaan kekuatan secara proporsional.
Editor : Hanny Wijaya