APD Tersedia, Keselamatan Petugas Persampahan Sampah Kota Sorong Jadi Prioritas
KOTA SORONG, iNewssorongraya.id — Keselamatan petugas pengangkut sampah di Kota Sorong menjadi perhatian setelah sejumlah pekerja terlihat menjalankan tugas tanpa alat pelindung diri atau APD secara lengkap. Dinas Lingkungan Hidup Kota Sorong meminta pihak ketiga memperketat pengawasan karena petugas setiap hari berhadapan langsung dengan limbah rumah tangga dan berbagai material berisiko.
Kepala DLH Kota Sorong, Corina Mansawan, mengatakan PT Bangun Malamoi sebagai perusahaan yang menangani layanan persampahan telah menyediakan APD bagi petugas lapangan. Namun, perlengkapan tersebut belum selalu digunakan saat bekerja.
“Untuk APD kepada petugas persampahan ini, kita sudah lakukan pengawasan, dan kepada mereka dari pihak ketiga juga sudah diberikan APD juga, tapi itulah, mungki kadang mereka apa tidak nyaman menggunakan APD,” kata Corina kepada iNewssorongraya.id.
Corina menegaskan alasan ketidaknyamanan tidak boleh mengesampingkan keselamatan dan kesehatan kerja. Petugas pengangkut sampah menghadapi risiko terpapar cairan limbah, pecahan kaca, benda tajam, debu, bakteri, dan sampah rumah tangga yang dibuang tanpa pemilahan.
“Tapi soal APD ini pada prinsipnya kami terus mengimbau kepada pihak ketiga untuk memperhatikan hal tersebut, jadi APD mereka itu sudah ada, karena ini kan juga menyangkut kesetahan yah, hal ini juga jadi perhatian kita dari Dinas Lingkungan Hidup,” ujarnya.
Menurut Corina, penyediaan perlengkapan kerja merupakan tanggung jawab PT Bangun Malamoi. Namun, perusahaan juga harus memastikan setiap petugas benar-benar mengenakan APD selama menjalankan tugas.
Pengawasan dinilai tidak cukup hanya dengan memastikan helm, sarung tangan, masker, sepatu bot, dan pakaian pelindung tersedia. Kepatuhan pekerja dalam menggunakannya harus menjadi bagian dari standar operasional pelayanan persampahan.
“Dari pihak ketiga mereka sudah sediakan itu dan kami dari Dinas sering pengawasan untuk hal itu dan mereka juga dari pihak ketiga juga melakukan pengawasan internal untuk hal itu,” kata Corina.
Ia memastikan DLH terus melakukan pemantauan terhadap fasilitas dan keselamatan petugas di lapangan. Sementara itu, pihak ketiga diminta memperkuat pengawasan internal agar perlindungan pekerja tidak hanya bersifat administratif.
“Karena untuk fasilitas bagi para petugas persampahan itu, memang disediakan oleh pihak ketiga, dan kami pastikan hal itu ada,” ujarnya.
Risiko terhadap petugas semakin besar karena sebagian besar sampah rumah tangga di Kota Sorong masih dibuang dalam kondisi tercampur. Sampah organik, anorganik, residu, dan benda berbahaya kerap dimasukkan ke tempat penampungan sementara tanpa pemilahan.
“Cuman kesadaran kita yang tidak bisa memilah, sehingga sampah itu orang hanya asal buang semua di TPS, baik itu sampah organik, non organik, residu itu semua kan dibuang buang di TPS ini,” kata Corina.
Kondisi tersebut membuat petugas tidak selalu mengetahui jenis material yang mereka angkut. Sampah tajam atau limbah yang berpotensi membahayakan dapat tersembunyi di antara tumpukan sampah rumah tangga.
Corina mengatakan hanya sampah residu yang semestinya dibawa ke tempat pemrosesan akhir. Sampah organik dan anorganik seharusnya dipilah serta diolah sejak dari sumbernya.
“Sedangkan di bawah ke TPA itu seharusnya residunya saja yang di buang di TPA. Tetapi semua angkut dan langsung buang, kita cuma dari TPS ke TPA itu saja memang kami sementara lagi sedang berusaha untuk kita bisa pendampingan termasuk sosialisasi,” ujarnya.
DLH Kota Sorong saat ini terus membenahi layanan persampahan melalui penguatan bank sampah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot, Gerakan Nasional ASRI, dan program Jumat Bersih.
Namun, peningkatan kebersihan kota tidak boleh mengorbankan keselamatan pekerja yang berada di garis depan pelayanan. Penggunaan APD harus ditempatkan sebagai kewajiban, bukan sekadar imbauan.
Corina menyebut kebersihan Kota Sorong mulai menunjukkan peningkatan sejak layanan pengangkutan ditangani PT Bangun Malamoi, meskipun hasilnya belum sepenuhnya optimal.
“Dan sekarang ya memang kalau kita lihat sekarang kan sudah dalam proses, tidak 100% tetapi sudah sudah kebersihan sudah ini sudah ada peningkatan,” katanya.
Keberhasilan penanganan sampah tidak hanya diukur dari bersihnya jalan dan berkurangnya tumpukan di TPS. Perlindungan terhadap petugas yang setiap hari mengangkut sampah juga harus menjadi indikator utama kinerja pemerintah dan perusahaan pengelola.
Editor : Hanny Wijaya