get app
inews
Aa Text
Read Next : IJTI Kecam Penangkapan Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel

IJTI Dorong Perlindungan Pers Kampus di Tengah Disrupsi Digital dan Tekanan Media

Minggu, 07 Juni 2026 | 11:01 WIB
header img
IJTI menggelar Konferensi Jurnalis Kampus Indonesia 2026 di Dewan Pers, Jakarta, untuk memperkuat independensi pers kampus dan kompetensi era AI.

 

JAKARTA, iNewssorongraya.id — Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mendorong penguatan perlindungan terhadap pers kampus sebagai bagian penting dari masa depan jurnalisme nasional di tengah disrupsi digital, tekanan ekonomi industri media, dan derasnya arus informasi di media sosial.

Dorongan itu mengemuka dalam Konferensi Jurnalis Kampus Indonesia 2026 yang digelar di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (4/6). Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek tersebut menjadi konferensi pertama yang diinisiasi IJTI bagi lembaga pers mahasiswa dan mahasiswa Ilmu Komunikasi di Jakarta.

Konferensi ini tidak hanya membahas tantangan jurnalisme di era digital, tetapi juga menyoroti posisi pers mahasiswa yang dinilai semakin strategis dalam menjaga independensi, membangun tradisi kritik, dan menyiapkan regenerasi jurnalis profesional.

Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, mengatakan jurnalisme berkualitas semakin dibutuhkan ketika masyarakat menghadapi banjir informasi dari media sosial. Menurut dia, ruang akademik harus menjadi tempat lahirnya jurnalis muda yang memiliki integritas, independensi, dan kemampuan berpikir kritis.

“Muncul harapan dari ruang-ruang akademik. Jurnalis kampus menjadi motor penggerak sekaligus pilar masa depan yang akan meneruskan keberlanjutan jurnalis profesional, independen, dan berintegritas,” kata Herik Kurniawan.

Herik menegaskan konferensi tersebut merupakan bagian dari komitmen IJTI untuk mendampingi dan memperkuat ekosistem pers mahasiswa. Ia menilai pers kampus membutuhkan ruang belajar, jaringan solidaritas, dan penguatan kapasitas agar mampu bertahan di tengah perubahan teknologi serta tekanan terhadap kebebasan berekspresi.

“Konferensi menjadi wadah strategis bagi para jurnalis muda untuk bertukar gagasan, meningkatkan kompetensi, dan merumuskan arah masa depan jurnalisme di tanah air,” katanya menambahkan.

Selain membahas independensi pers mahasiswa, IJTI juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan atau Kemnaker. Kolaborasi itu diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, dan Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan. Kesepahaman itu berlaku selama tiga tahun dan mencakup pengembangan kapasitas SDM, literasi ketenagakerjaan, serta pemanfaatan sarana dan prasarana.

Sekjen IJTI, Usmar Almarwan, menyatakan pers kampus harus mendapat ruang yang aman untuk bekerja secara independen. Menurut dia, regenerasi jurnalisme tidak cukup hanya dibangun melalui pelatihan teknis, tetapi juga melalui perlindungan terhadap kebebasan pers mahasiswa.

“Pers kampus harus diberi ruang tumbuh yang sehat, bebas dari tekanan, dan tetap berpegang pada etika jurnalistik. Dari ruang kampus, tradisi jurnalisme yang kritis, independen, dan bertanggung jawab harus terus dijaga,” kata Usmar Almarwan.

Dalam konferensi tersebut, peserta juga menghasilkan sejumlah rekomendasi. Salah satunya menolak segala bentuk intervensi, intimidasi, dan sensor dari rektorat, dekanat, maupun pihak luar yang dapat mencederai independensi dan kemerdekaan pers mahasiswa.

Konferensi juga mendorong Dewan Pers memberikan perhatian dan perlindungan terhadap pers kampus. Selain itu, peserta menekankan pentingnya solidaritas antarlembaga pers mahasiswa untuk saling melindungi, mendampingi, dan membela apabila terjadi kriminalisasi terhadap produk jurnalistik.

Dari sisi ketenagakerjaan, Kemnaker menilai media massa memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi ketenagakerjaan yang akurat, edukatif, dan mudah dipahami masyarakat. Transformasi digital dinilai menuntut jurnalis muda untuk memiliki kompetensi baru agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.

“Fokus utama kerja sama ini adalah menyiapkan generasi muda, khususnya jurnalis kampus, agar memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI,” kata Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.

Cris menambahkan, peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan mendesak karena perubahan teknologi tidak dapat dihindari. Ia menilai kolaborasi dengan IJTI dapat menjadi ruang penguatan kapasitas jurnalis muda secara berkelanjutan.

“Kami di Kemnaker melihat bahwa disrupsi digital adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan kompetensi. Kolaborasi dengan IJTI ini sangat strategis untuk melakukan upskilling dan reskilling secara berkelanjutan,” katanya.

Konferensi Jurnalis Kampus Indonesia 2026 menjadi penegasan bahwa masa depan jurnalisme tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh keberanian menjaga independensi, etika, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut