get app
inews
Aa Text
Read Next : 76 Penumpang TransNusa Tertahan Tiga Hari di Kota Sorong

Bencana Kekeringan Landa Sorong, BWS Papua Barat Buka Posko Air Gratis Bagi Masyarakat

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:51 WIB
header img
Kepala BWS Papua Barat, Wempy Nauw bersama sejumlah staf saat meninjau Posko air bersih bagi warga Sorong.

 

 

SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Kekeringan yang menekan ketersediaan air di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong mulai memperlihatkan tantangan kapasitas pelayanan. Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat, Kementerian Pekerjaan Umum, membuka posko air gratis di Kilometer 16 Kota Sorong, tetapi mengakui sarana yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan warga terdampak.

Posko yang berada di sekitar kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya itu menyediakan air baku untuk kebutuhan rumah tangga dengan kapasitas maksimal sekitar 36.000 liter per hari apabila pengisian dapat dilakukan dua kali.

Pelayanan tersebut menjadi bagian dari langkah BWS Papua Barat menghadapi dampak kekeringan 2026. Distribusi air juga telah dilakukan secara bergilir selama lebih dari tiga pekan ke sejumlah kawasan permukiman di Kota Sorong, Kabupaten Sorong, dan beberapa wilayah lain.

Kepala BWS Papua Barat, Wempy Nauw, mengatakan pemerintah berupaya membuka akses air secara gratis bagi masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan selama musim kering.

“Dalam mengantisipasi dan menangani bencana kekeringan di tahun 2026, kami melakukan pembagian air secara gratis kepada masyarakat di Kota Sorong, Kabupaten Sorong dan juga beberapa kabupaten lainnya,” kata Wempy saat ditemui media di lokasi posko, Kamis (13/8/2026).

Selain mendistribusikan air menggunakan kendaraan tangki, BWS membuka sumur air baku di Kilometer 16 agar masyarakat dapat mengambil air secara langsung.

Dalam satu kali pengisian, tempat penampungan di lokasi tersebut mampu menampung sekitar 18 meter kubik atau 18.000 liter. Kapasitas itu dapat meningkat dua kali lipat apabila cuaca mendukung proses pengisian.

“Kita punya kapasitas air yang tertampung di sini sekali menampung itu 18 kubik atau 18 ribu liter. Kalau satu hari kita bisa menampung dua kali, berarti dapat 36 kubik atau 36 ribu liter,” jelasnya.

Namun, kapasitas tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat di tengah musim kering. BWS mencatat sekitar 20 unit tangki air tersebar di wilayah Papua Barat Daya, sementara permintaan air terus muncul dari kawasan yang mengalami penurunan pasokan.

BWS juga menempatkan petugas di posko untuk mengatur pelayanan, memantau ketersediaan air, serta mengawasi proses pengambilan oleh masyarakat.

Di tengah tingginya kebutuhan, BWS memberikan batas tegas terhadap pemanfaatan fasilitas tersebut. Air dari posko diperuntukkan bagi masyarakat umum dan tidak boleh diambil untuk kepentingan usaha atau dijual kembali.

“Kita tidak memperbolehkan atau mengizinkan air ini untuk diambil dan dijual atau diisi oleh para pelaku bisnis penjual air bersih. Kita buka khusus untuk masyarakat umum yang membutuhkan air,” tegasnya.

BWS memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat di sekitar Kilometer 13, 14, 15 hingga Kilometer 16 yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air rumah tangga.

“Terutama yang di sekitar Kilo 16, Kilo 15, 14, 13, masyarakat yang membutuhkan air untuk keperluan rumah tangga bisa mengambil secara gratis di sini,” ujarnya.

Meski tersedia tanpa biaya, masyarakat diingatkan tidak langsung menggunakan air tersebut untuk diminum. BWS belum menjamin kualitas air baku di posko memenuhi standar konsumsi.

“Untuk minum kami belum menjamin kualitasnya. Dari kami rekomendasinya hanya untuk mandi, cuci dan kebutuhan air di saat musim panas ini,” ujarnya.

Air tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam kondisi darurat, termasuk untuk mendukung pemadaman kebakaran permukiman maupun hutan.

“Kalau ada kompleks yang terbakar atau hutan terbakar, masyarakat yang mencari air untuk pemadaman bisa kita sediakan di sini,” katanya.

Kemampuan posko menyediakan air setiap hari juga belum sepenuhnya stabil. Proses pengisian dipengaruhi kondisi cuaca. Saat matahari bersinar optimal, penampungan dapat diisi hingga dua kali sehari. Sebaliknya, cuaca mendung memperlambat pengisian.

“Kalau matahari bagus berarti dia bisa mengisi lancar, bisa dua kali. Tapi kalau matahari tertutup awan, berarti pengisian lambat,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta mengikuti arahan petugas mengenai waktu pelayanan dan ketersediaan air serta menjaga fasilitas agar air tidak terbuang percuma.

“Kami imbau kalau datang mengambil air, jangan dirusak dan jangan membuat air terbuang. Kita akan ada petugas yang memonitor di sini,” tegasnya.

Selain posko Kilometer 16, BWS telah mengoperasikan sejumlah sumur di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong serta tetap menjalankan distribusi bergilir ke kompleks permukiman yang mengalami kekurangan air.

Namun, setelah pelayanan berlangsung lebih dari tiga pekan, BWS mengakui intervensi tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

“Kita merasa itu memang belum mencukupi. Tapi ada upaya, kita berkolaborasi dengan teman-teman dari provinsi, kabupaten, dan juga institusi lain yang ikut memberikan perhatian dalam rangka menyiapkan kebutuhan air baku bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pengakuan mengenai keterbatasan kapasitas itu menjadi catatan penting di tengah kekeringan 2026. Posko air gratis memberi akses darurat bagi warga, tetapi besarnya kebutuhan menunjukkan penanganan kekurangan air di Sorong masih membutuhkan dukungan distribusi, sumber air, serta kolaborasi pemerintah yang lebih luas.

 

Editor : Chanry Suripatty

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut