get app
inews
Aa Text
Read Next : Bupati Paniai Yanpit Nawipa Tetap Turun di Liga 4 Nasional Bersama Persipani

Awan Tutup Hilal di Sorong, Sidang Isbat Nasional Jadi Penentu Awal Dzulhijjah

Senin, 18 Mei 2026 | 04:45 WIB
header img
Salah seorang Jurnalis sedang melakukan pemantauan hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

 

SORONG, iNewssorongraya.id — Hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong berada dalam posisi yang secara astronomis berpeluang terlihat. Namun, langit mendung dan berawan menutup proses pengamatan langsung, sehingga kepastian awal Dzulhijjah tetap menunggu keputusan sidang isbat Kementerian Agama Republik Indonesia.

Rukyatul hilal yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat di Hotel Waigo, Kota Sorong, Minggu (17/5/2026), memperlihatkan satu persoalan klasik dalam penentuan awal bulan Hijriah. Data hisab memberi sinyal kuat, tetapi kondisi alam di lapangan menentukan apakah hilal benar-benar dapat diamati. 

 


Pemantauan hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Pengamatan tersebut melibatkan BMKG Sorong, Forkopimda, Pemerintah Kota Sorong, serta unsur terkait. Kota Sorong menjadi titik penting pemantauan hilal untuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Sorong, Ari Widya Ningrum, menjelaskan bahwa hasil hisab menunjukkan hilal berada pada posisi yang memenuhi peluang pengamatan. Bulan terbenam pada pukul 18.38.25 WIT, sedangkan matahari terbenam pada pukul 18.13.33 WIT. Selisih waktu antara terbenamnya matahari dan bulan tercatat 24 menit 52 detik. 

 


Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Sorong, Ari Widya Ningrum. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Umur bulan mencapai 13 jam 12 menit 38 detik. Tinggi hilal tercatat 4,69 derajat, elongasi 9,31 derajat, dan fraksi iluminasi 0,57 persen.

“Yang terpenting, tinggi hilal mencapai 4,69 derajat dengan elongasi 9,31 derajat dan fraksi iluminasi 0,57 persen. Dari data tersebut, hilal sebenarnya berpotensi teramati berdasarkan perhitungan astronomis,” jelas Ari.

Namun, hasil penghitungan itu tidak otomatis menjadi bukti visual. Ari menegaskan bahwa cuaca dan lokasi pengamatan tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan rukyatul hilal. Awan dapat menjadi penghalang utama meski posisi bulan telah memenuhi kriteria astronomis.

“Kita tidak dapat mengabaikan faktor cuaca maupun lokasi pengamatan. Karena itu, mari bersama-sama menunggu hasil resmi rukyatul hilal dan keputusan sidang isbat,” pungkasnya. 

 


Kabid Bimas Islam Provinsi Papua Barat, Rofiul Amri. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Kabid Bimas Islam Provinsi Papua Barat, Rofiul Amri, menyampaikan bahwa tim gabungan tidak berhasil melihat hilal secara langsung. Menurut dia, kendala utama bukan terletak pada data hisab, melainkan pada kondisi langit yang tidak mendukung pengamatan.

“Dari penyampaian teman-teman BMKG dan pemantauan langsung di lapangan, hari ini potensi hilal sebenarnya bisa dilihat. Tetapi karena cuaca yang tidak memungkinkan, akhirnya kita bersama tim BMKG, Forkopimda, dan Wali Kota tidak bisa melihat hilal,” ujarnya. 

 


Pemantauan hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Rofiul menyebut laporan dari Sorong akan diteruskan dalam mekanisme resmi Kementerian Agama. Keputusan akhir tetap berada pada sidang isbat nasional yang menghimpun laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Seharusnya hilal bisa terlihat karena tinggi hilal sudah mencapai 4,69 derajat dan elongasi 9,31 derajat. Namun cuaca mendung berawan menghalangi pengamatan,” katanya. 

 


Pemantauan hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Angle penting dari pengamatan di Sorong bukan hanya soal hilal yang tertutup awan. Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya keterbukaan data, koordinasi lintas instansi, dan komunikasi publik agar masyarakat memahami bahwa penetapan awal Dzulhijjah melewati proses ilmiah, lapangan, dan keputusan resmi negara.

Pemerintah Kota Sorong yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tamrin Tajuddin, menegaskan bahwa rukyatul hilal merupakan agenda resmi Kementerian Agama yang harus dijalankan dengan baik. Menurutnya, seluruh pihak perlu duduk bersama dalam sidang isbat agar penetapan 1 Dzulhijjah memiliki dasar yang kuat.

“Ini sudah menjadi agenda resmi Kementerian Agama untuk memastikan pelaksanaan rukyatul hilal dilaksanakan dengan baik. Karena itu seluruh pihak yang berkepentingan harus duduk bersama dalam sidang isbat untuk memastikan penetapan 1 Dzulhijjah,” ungkapnya. 

 


Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tamrin Tajuddin. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Tamrin berharap hasil sidang isbat dapat menjadi rujukan tunggal bagi masyarakat. Ia menilai kepastian informasi penting untuk mencegah perbedaan pemahaman, terutama menjelang ibadah dan perayaan Idul Adha.

“Harapan kami informasinya bisa disebarluaskan ke masyarakat sehingga tidak ada lagi perbedaan-perbedaan. Secara ilmu pengetahuan, perhitungan hilal sudah didukung data dan teknologi dari BMKG,” katanya. 

 


Pemantauan Hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong. (FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Tamrin juga menilai keberadaan ahli falak memiliki peran strategis dalam memperkuat akurasi rukyatul hilal. Perhitungan astronomi, perangkat pemantauan, dan otoritas keagamaan perlu berjalan searah agar keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun keagamaan.

Rukyatul hilal di Sorong akhirnya memberi pesan penting: angka astronomis dapat menunjukkan peluang, tetapi pengamatan langsung tetap bergantung pada langit. Ketika hilal tertutup awan, sidang isbat menjadi ruang penentu untuk menyatukan data, laporan daerah, dan kepastian bagi umat Islam. 

 


Hilal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah di Kota Sorong.(FOTO : iNewssorongraya.id)

 

Keputusan resmi pemerintah pusat kini menjadi rujukan akhir dalam menetapkan awal 1 Dzulhijjah 1447 H. Dari Sorong, laporan hilal yang tertutup awan menjadi bagian dari proses nasional menuju kepastian pelaksanaan Idul Adha.

 

 

 

 

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut