get app
inews
Aa Text
Read Next : DEN: Sinergi Lintas Sektor Lawan Mafia BBM, Negara Turun Tangan Jaga Ketahanan Energi PBD

Menuju Wisata Kelas Dunia, Kadisparekraf PBD Beberkan 10 Kunci Pembenahan Pariwisata di Misool

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:08 WIB
header img
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi N. Lamatenggo, saat melakukan verifikasi lapangan dan dialog bersama pelaku pariwisata di Distrik Misool, Raja Ampat. (Foto: iNewssorongraya.id).


MISOOL, iNewssorongraya.id – Hamparan laut biru jernih dan gugusan karst eksotis Misool tidak lagi cukup menjadi andalan. Di tengah upaya mempertahankan status UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat, kualitas layanan wisata kini menjadi penentu utama daya saing destinasi kelas dunia tersebut. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi N. Lamatenggo, turun langsung ke Misool Selatan selama tiga hari, 25–27 Maret 2026, untuk melakukan verifikasi lapangan. Dalam kunjungan itu, dia menyempatkan berdialog dengan para pengelola homestay lokal garda terdepan wajah pariwisata Raja Ampat.

Dalam pertemuan tersebut, Yusdi menyampaikan 10 pesan strategis yang dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan. 

Dia menegaskan, pembentukan asosiasi homestay menjadi langkah awal yang tidak bisa ditunda. Wadah tersebut diharapkan mampu menyatukan seluruh pelaku usaha sekaligus memperkuat promosi digital melalui platform terpadu.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian serius. Yusdi menilai, keindahan alam tanpa pelayanan yang baik tidak lagi cukup untuk menarik wisatawan global.

“Standarisasi dan sertifikasi pelayanan jasa wisata sangat diperlukan di Misool,” ujarnya di hadapan para pelaku usaha. 

Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, juga disebut sebagai elemen penting dalam membangun kesan profesional kepada wisatawan mancanegara.

Dia mendorong pelaku homestay mulai membiasakan percakapan sederhana dalam pelayanan sehari-hari. 

Di sisi lain, kekayaan kuliner lokal dinilai sebagai potensi yang belum dimaksimalkan. Yusdi mengusulkan agar hidangan khas seperti ashida dan kue lontar tidak hanya hadir saat perayaan tertentu, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang dapat dinikmati setiap saat. 

Penguatan infrastruktur juga masuk dalam sorotan. Dia mendorong pemanfaatan energi terbarukan, khususnya panel surya, sebagai solusi kebutuhan listrik yang berkelanjutan di wilayah kepulauan. 

Tidak kalah penting, pengelolaan sanitasi homestay harus diperketat guna menjaga kelestarian laut Misool dari ancaman limbah. Ketersediaan air bersih juga menjadi faktor krusial dalam menunjang kenyamanan wisatawan. 

Dalam era digital, promosi melalui media sosial dan optimalisasi platform seperti website pariwisata menjadi strategi wajib. Ketersediaan internet stabil, termasuk melalui teknologi seperti Starlink, dinilai dapat membuka akses pemasaran global yang lebih luas. 

Pada akhirnya, Yusdi menekankan bahwa seluruh upaya tersebut hanya dapat berhasil melalui kolaborasi erat antara pelaku usaha dan pemerintah.

“Dan kesepuluh, aktif bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintah, khususnya tentang aksesibilitas dan konektivitas transportasi. Semua ini hanya akan tercapai jika kita bersinergi, bersatu dan berkolaborasi bersama, baik pemerintah dan sesama pengusaha layanan jasa wisata homestay di Misool,” papar Yusdi Lamatenggo

Dengan pendekatan yang terstruktur dan kolaboratif, Misool tidak hanya mempertahankan status geopark dunia, tetapi juga berpeluang memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan Indonesia di mata internasional.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut