Kabut Asap Meluas di Kabupaten Sorsel Akibat Karhutla, Kokoda Jadi Titik Terberat Kebakaran
TEMINABUAN, iNewsSorongraya.id — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) meluas di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, setelah kebakaran berdampak pada sekitar tujuh distrik. Di tengah kondisi tersebut, Distrik Kokoda menjadi salah satu titik penanganan paling berat karena lokasi yang jauh, akses darat yang tidak tersedia, keterbatasan sarana, serta sulitnya memperoleh sumber air untuk pemadaman.
Besarnya ancaman Karhutla terlihat dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sorong. Dalam 10 hari terakhir September 2026, BMKG mendeteksi 552 titik panas di Papua Barat Daya. Dari jumlah tersebut, 275 hotspot berada di Kabupaten Sorong Selatan, menjadikannya wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi di provinsi tersebut.
Kondisi itu membuat penanganan Karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dengan dampak asap yang mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Sorong Selatan, termasuk Teminabuan sebagai ibu kota kabupaten hingga kawasan pelosok.
Kapolres Sorong Selatan AKBP Praja Gandha Wiratama mengatakan, Karhutla telah berdampak pada sekitar tujuh distrik, mulai dari Distrik Sawiat hingga wilayah Kokoda yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
“Dari mulai Distrik Sawiat sampai distrik yang terjauh di Kokoda terdampak Karhutla. Situasi sampai sekarang belum ada hujan, jadi kering dan gampang sekali memicu terjadinya kebakaran lahan,” kata Praja dalam keterangan pers kepada wartawan.
Menurut Praja, kondisi kekeringan akibat belum turunnya hujan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerawanan kebakaran. Namun, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab Karhutla di wilayah tersebut.
Penanganan dilakukan melalui Satgas El-Nino Kabupaten Sorong Selatan dengan melibatkan unsur kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah. Polres Sorong Selatan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Kodim, serta Batalyon TP untuk melakukan pemadaman dan penanganan dampak Karhutla.
Persoalan terbesar muncul ketika petugas harus menjangkau wilayah yang secara geografis sulit diakses. Kondisi tersebut terjadi terutama di Kokoda yang tidak memiliki akses darat dari pusat kabupaten.
“Memang kendalanya sekarang ini sarana-prasarananya masih kurang, karena lokasi wilayah yang terjadi kebakaran terlalu jauh dari pusat ibu kota kabupaten. Kami membutuhkan sarana prasarana seperti kapal, karena distrik terjauh yakni Distrik Kokoda tidak bisa dilewati jalur darat,” ujarnya.
Keterbatasan akses kemudian diperparah dengan minimnya sumber air di lokasi kebakaran. Kondisi kekeringan membuat petugas tidak mudah mendapatkan pasokan air untuk mendukung pemadaman.
“Di Distrik Kokoda ini titik airnya juga susah, karena memang di sana sekarang mengalami kekeringan,” kata Praja.
Kondisi tersebut menjadikan Kokoda bukan sekadar wilayah terjauh dari pusat pemerintahan, tetapi juga kawasan yang membutuhkan dukungan operasional lebih besar dalam penanganan Karhutla.
Di tengah upaya petugas mengendalikan kebakaran, kabut asap mulai menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat. La Anto Daga, warga Teminabuan yang bekerja sebagai pedagang, mengatakan kabut asap telah dirasakan masyarakat selama berbulan-bulan.
“Kondisi kabut asap ini sampai sekarang sudah empat bulan. Kondisinya begini terus setiap hari, dan sampai sekarang belum turun hujan. Musim kering sudah sekitar empat bulan,” kata La Anto.
Menurut La Anto, kabut asap tidak hanya terjadi di pusat kota Teminabuan. Asap juga dirasakan hingga wilayah pelosok yang terdampak kebakaran hutan.
“Di wilayah saya, kabut asap juga seperti begini. Bukan cuma dalam kota saja, semua lokasi di Sorong Selatan ini kabut asap turun sampai pelosok-pelosok. Gara-gara kemarau dan kebakaran hutan,” ujarnya.
Aktivitas ekonomi warga hingga kini masih berlangsung meski kualitas udara terganggu. Nelayan tetap melaut, sedangkan pedagang kecil tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Nelayan tetap melaut karena mereka punya mata pencaharian di situ. Begitu juga dengan pedagang kecil seperti kami ini. Kami tetap cari nafkah,” ucapnya.
Namun, kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan bayi. La Anto mengatakan warga melihat adanya keluhan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan asap.
“Kalau kabut asap begini tentunya sangat mengganggu. Terutama anak kecil atau bayi, biasanya sampai batuk-batuk, ada juga mungkin yang sesak napas,” tuturnya.
La Anto juga mengaku belum mendengar adanya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk menggunakan masker guna mengurangi paparan asap.
“Kalau imbauan pakai masker dari pemerintah sampai sekarang saya belum dengar ada imbauan itu,” katanya.
Sementara itu, data BMKG menunjukkan bahwa persoalan kabut asap di Papua Barat Daya memiliki cakupan yang lebih luas. Kepala BMKG DEO Sorong, Ahmad Bisri, mengatakan terdapat 552 hotspot yang terpantau dalam 10 hari terakhir September 2026.
“Dalam Bulan September 2026 terpantau sekitar 1.000 titik api, namun untuk 10 Hari terakhir ini dari pantauan satelit itu terdapat 552 titik api (hotspot), dan yang paling banyak terkonsentrasi di wilayah Sorong Selatan,” ujar Ahmad Bisri kepada RRI, Rabu, 30 September 2026.
Selain Sorong Selatan dengan 275 hotspot, BMKG mencatat 186 titik panas di Raja Ampat, 31 di Kabupaten Sorong, 34 di Maybrat, 20 di Tambrauw, dan enam titik di Kota Sorong.
Dampak asap bahkan terbawa hingga Kota Sorong akibat pola angin. Pada pagi hari, kondisi berkabut dapat terlihat, kemudian kabut terangkat pada siang hari dan kembali muncul pada sore hingga malam.
“Kita bisa melihat kondisi pagi ini berkabut di Kota Sorong. Pada siang hari kabutnya terangkat, namun sore hingga malam hari kabut akan kembali muncul,” ujarnya.
BMKG mencatat kualitas udara di Kota Sorong masih berada dalam kategori sedang, dengan konsentrasi partikulat 15,6 hingga 55,4 mikrogram per meter kubik. Sementara sejumlah wilayah lain, termasuk Sorong Selatan, dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi 55,5 hingga 150,4 mikrogram per meter kubik.
Di sisi lain, kepolisian belum menemukan laporan korban luka maupun korban jiwa akibat Karhutla di Sorong Selatan.
“Untuk sementara di Kabupaten Sorong Selatan belum ada laporan korban, baik luka maupun korban jiwa,” ujar Praja.
Polisi juga masih menyelidiki penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan adanya unsur kesengajaan. Hingga kini belum ada tersangka yang ditetapkan karena proses penyelidikan masih berlangsung.
“Penyelidikan khusus telah dilakukan oleh Satreskrim Polres Sorong Selatan dan sampai sekarang belum ada pihak tersangka, karena proses penyelidikan belum selesai dilakukan,” kata Praja.
Dengan 275 hotspot yang terpantau dan dampak asap yang menjangkau permukiman, tantangan Sorong Selatan kini bukan hanya memadamkan titik api, tetapi memastikan penanganan dapat menjangkau wilayah yang paling sulit diakses. Di Kokoda, jarak, jalur transportasi, dan keterbatasan sumber air menjadi ujian utama bagi kemampuan Satgas El-Nino dalam mengendalikan Karhutla.
Editor: Hanny Wijaya