Polisi Amankan Enam Orang Usai Tembak Mati Empat KKB di Yahukimo
YAHUKIMO, iNewssorongraya.id – Enam orang diamankan aparat setelah penindakan terhadap kelompok bersenjata yang diduga terkait Batalyon Eden Sawi di Dekai, Yahukimo. Kepolisian menegaskan status mereka belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan selesai.
Keenam orang itu berinisial BK, PM, DH, NJK, PA, dan AS. Mereka dibawa ke Polres Yahukimo bersama barang bukti yang ditemukan saat penyisiran, yakni senjata api rakitan laras panjang, 11 butir amunisi kaliber 5,56 milimeter, dan tiga telepon seluler.
“Enam orang yang diamankan masih menjalani pemeriksaan. Kami masih mendalami identitas, aktivitas, peran, dan keterkaitan masing-masing. Jadi, prosesnya masih berjalan dan kami tidak akan terburu-buru menyimpulkan status mereka sebelum pemeriksaan selesai,” ujar Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026.
Pengamanan enam orang tersebut berlangsung setelah personel Operasi Damai Cartenz-2026 dan Polres Yahukimo mendatangi sebuah rumah persinggahan di kawasan Kantor KPU Lama, Jalan Miyaro, Selasa sore. Polisi menyebut kedatangan aparat didahului informasi penyidikan mengenai rencana konsolidasi pasukan Batalyon Eden Sawi.
Menurut kepolisian, kelompok di lokasi melepaskan tembakan saat aparat tiba sekitar pukul 16.35 WIT. Polisi mengaku telah memberikan tembakan peringatan sebelum merespons dengan tindakan tegas dan terukur karena tembakan disebut masih berlangsung.
Penindakan itu menyebabkan empat orang meninggal dunia. Tiga di antaranya teridentifikasi awal sebagai EH alias E, YK alias LY, dan M, sedangkan satu jenazah lain masih dicocokkan melalui face registration atau pencocokan data wajah.
Kepolisian menyatakan operasi tersebut berkaitan dengan upaya penegakan hukum terhadap pihak yang diduga terlibat dalam pembunuhan di Jalan Statistik, Dekai, pada April 2023, serta dugaan serangan terhadap tenaga kesehatan dan guru di Distrik Anggruk pada Maret 2025.
Namun, kaitan langsung keenam orang yang diperiksa dengan dua perkara tersebut belum diumumkan. Proses pemeriksaan menjadi penentu apakah penindakan ini akan berkembang menjadi pengungkapan jejaring kekerasan atau hanya berhenti pada dugaan awal di lapangan.
Fokus berikutnya bukan sekadar jumlah orang yang diamankan, melainkan kemampuan penyidik membuktikan peran setiap individu secara akurat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Editor : Hanny Wijaya