Breaking News!Tiga Hari Gagal Terbang, Penumpang Sorong-Timika Marah dan Minta TransNusa Ditutup
SORONG, iNewssorongraya.id – Kemarahan puluhan penumpang penerbangan TransNusa rute Sorong-Timika pecah di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (10/8/2026) pagi. Mereka kecewa setelah keberangkatan yang dijadwalkan sejak Sabtu kembali batal untuk ketiga kalinya.
Sejumlah penumpang yang didominasi karyawan PT Freeport Indonesia dan pekerja swasta mendatangi petugas maskapai untuk meminta kepastian keberangkatan. Kekecewaan semakin besar karena mereka mengaku telah berada di Sorong selama hampir tiga hari tanpa jadwal penerbangan yang pasti.
Awalnya terdapat 84 penumpang dalam penerbangan tersebut. Sebanyak 76 orang masih bertahan menunggu keberangkatan ke Timika, sedangkan sebagian lainnya memilih melakukan pengembalian tiket atau refund untuk mencari penerbangan alternatif.
Salah seorang penumpang, Max Helaha, mengatakan rombongan tiba di Sorong dari Manado pada Sabtu. Namun penerbangan lanjutan menuju Timika tidak dapat diberangkatkan karena pesawat mengalami kendala teknis.
“Kami tumpangi kurang lebih 76 penumpang dari hari Sabtu tiba di Sorong dari Manado. Kemudian setelah tiba di sini mau berangkat pesawat mengalami kendala, kemungkinan rusak sehingga tidak bisa berangkat hari Sabtu itu. Kemudian kami dihinapkan, rencana hari Minggu itu berangkat, tapi ternyata dibatalkan karena pesawat rusak,” kata Max.
Menurut dia, penumpang kembali memperoleh informasi bahwa keberangkatan akan dilakukan Senin. Namun rencana tersebut kembali gagal setelah maskapai membatalkan penerbangan.
“kemudian disampaikan ada penundaan sampai dengan hari Senin, ternyata hari Senin pagi ini, tiba-tiba dibatalkan lagi sehingga kami tidak berangkat,”kata Max
Penundaan berulang itu, kata Max, berdampak langsung terhadap pekerjaan dan pendapatan sebagian penumpang.
“Penumpang ini bermacam-macam pekerjaan, ada yang kerja di Freeport, ada yang swasta, yang lainnya sehingga merasa sangat dirugikan,” ujarnya.

Kekecewaan tersebut kemudian berkembang menjadi desakan keras terhadap pemerintah. Max meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi operasional TransNusa karena pelayanan yang diterima penumpang dinilai mengecewakan.
“Pihak Maskapai Trans Nusa ini, pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga mungkin dari pihak pusat yang mendengar ini, menonton ini bisa mengoreksi dirinya, bila perlu kami berharap Trans Nusa ini di evaluasi karena sangat mengecewakan dan sangat menakutkan kami penumpang, karena pesawatnya rusak, sehingga kami berharap Trans Nusa ini ditutup saja,”tegas Max
Ia bahkan secara terbuka menyampaikan permintaan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Perhubungan agar pemerintah mengambil tindakan terhadap maskapai tersebut.
“kepada Presiden Prabowo dan Kepada Menteri Perhubungan supaya pihak Trans Nusa ini, supaya ini penerbangan mungkin yang terakhir supaya ditutup saja. Karena sangat dirugikan pihak yang naik pesawat ini, ada yang sudah tidak masuk kerja, pekerjanya itu hitungnya per jam, sehingga kami sangat dirugikan. Satu jam saja pesawat kita terlambat langsung dipotong 25 persen ya,”ungkapnya.
Max mengklaim kerugian semakin besar karena penumpang telah menunggu hampir tiga kali 24 jam. Ia juga mempersoalkan bentuk pelayanan yang diterima selama penundaan berlangsung.
“Itu ditinggalkan, tapi kami ini sudah masuk hari yang ketiga, tiga kali dua puluh empat jam kami sangat dirugikan. Tidak ada konpensasi sama sekali, cuma makan saja tidak mampu untuk diberikan, apalagi malam hari,”ujarnya.
“Oleh karena sebab itu sekali lagi kami mohon kepada Menteri Perhubungan supaya Maskapai Trans Nusa ini ditutup,”tambahnya.

Menanggapi protes tersebut, pegawai Ground Handling TransNusa Sorong, Faizal, mengatakan pihaknya telah berupaya mencarikan solusi keberangkatan bagi penumpang, termasuk melalui penerbangan maskapai lain.
“Kami sudah berusaha untuk memberangkatkan para penumpang ini, tapi tidak bisa konek karena itu dari Lion konek ke Sriwijaya mungkin dari salah satunya ada perubahan jadwal atau tidak konek salah satu maskapainya,”ungkap Faizal.
Faizal menjelaskan pesawat TransNusa masih menjalani perbaikan di Bandara DEO Sorong sejak Sabtu. Menurut dia, teknisi dan sejumlah peralatan telah didatangkan untuk mempercepat penanganan gangguan tersebut.
“Itu karena ada kendala teknis di pesawatnya, pesawat dalam perbaikan di bandara Sorong sejak Sabtu kemarin. Progres nya, alat sudah datang dan ada tambahan alat serta ditambah engineering dari luar negeri 2 orang, Minggu dan Senin sudah di Sorong,”bebernya.
Pihak maskapai, lanjut Faizal, menyampaikan permohonan maaf sekaligus memastikan tetap bertanggung jawab terhadap persoalan tersebut.
“Kami mohon maaf atas keterlambatan ini. Dan kami berupaya untuk masalah ini segera tuntas, Kami tetap bertanggung jawab,”tandasnya.
Insiden ini menempatkan kepastian pelayanan dan penanganan penumpang terdampak sebagai persoalan utama yang harus segera diselesaikan. Di tengah kemarahan penumpang yang telah menunggu tiga hari, kepastian jadwal penerbangan dan bentuk tanggung jawab maskapai kini menjadi tuntutan yang tidak dapat terus ditunda.
Editor : Hanny Wijaya